workholic

7 Dampak Buruk dari Perilaku Workaholic

Bekerja keras untuk suatu hal adalah sesuatu yang baik. Hal itu menunjukkan keseriusan dan dedikasi seseorang akan pekerjaannya. Tetapi perilaku tersebut juga bisa menjadi tidak baik jika dilakukan secara berlebihan. Bekerja secara terus menerus hingga mengabaikan hak tubuh untuk istirahat justru menunjukkan suatu gejala yang dikenal dengan istilah Workaholic.

Workaholic bisa dikatakan sindrom bagi seseorang yang kecanduan kerja. Ambisiusnya dalam bekerja sudah melebihi batas wajar dimana mereka akan merasa bersalah dan gelisah jika tidak bekerja. Kontrol dirinya akan kapan waktu bekerja dan kapan istirahat sudah tidak dimiliki lagi.

Sebagai suatu perilaku ‘kecanduan’, maka workaholic tentu lebih bermakna negatif. Akibatnya, ada banyak dampak buruk yang ditimbulkan dari perilaku ini. Berikut 7 diantaranya yang paling dominan dijumpai.

 

1.     Gangguan Kesehatan Fisik

Dampak buruk utama yang sering dialami seorang workaholic (workaholism) adalah masalah gangguan kesehatan. Tubuh baik fisik maupun pikiran yang diforsir untuk terus bekerja tentu akan membuat kesehatan menurun. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian sebagaimana yang dimuat dalam Harvard Business Review. Dalam artikel yang ditulis oleh Lieke ten dan Nancy P. Rothbard tersebut dinyatakan bahwa mereka yang mengalami workaholic lebih cenderung mengeluhkan masalah kesehatan fisik seperti sindrom metabolik, sulit tidur, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan lain sebagainya.

 

2.     Gangguan Kesehatan Mental

Selain masalah kesehatan fisik, masalah kesehatan mental juga menjadi ancaman bagi workaholic. Beberapa masalah yang lumrah dijumpai adalah depresi, kesehatan psiko-somatik, kelelahan emosional, perasaan sinisme, hingga bisa menyebabkan masalah kesehatan OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

OCD merupakan gangguan psikologis yang mempengaruhi pikiran dan perilaku penderitanya. Pengidap penyakit ini akan merasa takut dan khawatir tanpa alasan jelas dan terobesesi akan sesuatu secara berlebihan. Perilaku kompulsif ini contohnya adalah sering terbangun berkali-kali saat tidur malam untuk memastikan pintu rumah sudah terkunci, mencuci tangan berkali-kali karena takut kotor, menyusun pakain secara berurutan untuk mengurangi rasa cemas, dan lain sebagainya. 

 

Baca Juga :  Workholic VS Pekerja Keras : Termasuk yang Manakah Anda

 

3.     Tidak Memiliki Kepekaan Sosial

Salah satu ciri seorang workaholic adalah melupakan masalah-masalah lain diluar pekerjaan termasuk untuk berinteraksi sosial. Meskipun bekerja dikantor, mereka akan fokus pada pekerjaannya saja dan membuatnya seolah anti-sosial (meskipun keduanya berbeda). Tidak hanya dikantor, karena begitu candu pada pekerjaan mereka juga kerap bekerja lembur sehingga interaksi sosial dengan pergaulan sekitar rumah juga menjadi sangat jarang. Pada akhirnya seorang workaholic akan mengalami gangguan pada kepekaan sosial.

 

4.     Terasingkan dari Keluarga

Berkaitan dengan poin nomor 2, ketidakpekaan seorang workaholic pada lingkungan sekitarnya juga akan dirasakan oleh keluarganya sendiri. Ketidakhadiran interaksi dengan keluarga membuat anggota keluarga akan merasa kehilangan orang bersangkutan. Pada akhirnya, pengasingan dari keluargalah yang akan diterima. Hal ini tentu sangat berbahaya karena bagaimana pun kehadiran dan kepedulian keluarga mengambil peranan penting untuk banyak hal di dalam hidup.

 

5.     Perilaku Boros

Jangan anggap bahwa workaholic bisa lebih hemat atau mendapatkan uang lebih. Perilaku workaholic bukanlah soal etos dan semangat kerja dimana semakin banyak bekerja, semakin banyak uang yang didapat. Mereka yang mengalami workaholic bekerja hanya untuk kepuasan pribadinya, bukan untuk target atau tujuan tertentu seperti uang lembur atau kenaikan pangkat.

Oleh karena itulah, perilaku workaholic justru bisa membuat seseorang menjadi lebih boros. Kecanduannya pada bekerja membuatnya tidak mau menghabiskan waktu untuk memasak makanan sendiri atau membeli di kantin kantor. Alhasil, mereka lebih condong untuk delivery makanan dan menkonsumsi makanan cepat saji. Di lain sisi, dampak bagi kesehatan juga bisa menjadi alasan mereka mengeluarkan uang lebih untuk kedokter dan membeli obat atau suplemen penambah stamina.

 

6.     Ancaman Produktivitas

Workaholic tidak menjamin produktivitas kerja. Perilaku ini justru bisa menimbulkan turunnya produktivitas. Hal ini karena kebugaran fisik akan sangat berpengaruh kepada daya kerja, inovasi, ketangkasan, dan kreasi sesorang. Jika seorang workaholic terlihat bekerja dengan semangat pada satu hari, maka hal itu tak menjamin produktivitasnya karena disadari atau tidak, kemampuan dirinya justru tengah menurun.

 

Baca Juga : Pengertian dan Manfaat WorkLife Balance

 

7.     Perfeksionis yang Membahayakan

Seorang workaholic memang cenderung bersifat perfeksionis. Tetapi sayangnya sifat perfeksionis ini bukan menjadi hal yang baik sebagaimana mestinya melainkan menjadi membahayakan. Perfeksionisnya seorang workholic bisa jadi tidak rasional. Mereka juga akan merasa gelisah terus menerus ketika pekerjaannya tidak seperti yang diinginkan. Dampak ini kembali lagi akan berpengaruh pada kesehatan baik fisik maupun mental.

 

Itulah 7 dampak buruk dari perilaku workaholic. Jika kalian cenderung memiliki perilaku workaholic, lebih baik segera merubah diri atau konsultasikan kepada dokter. Apalagi di masa modern yang penuh persaingan ini, risiko seseorang mengalami workaholic menjadi lebih besar. Penting untuk memproteksi diri sendiri seperti dengan terus menjalin hubungan baik dengan keluarga atau teman sehingga bisa saling mengingatkan.