Perbedaan Hard Skill dan Soft skill

Antara Soft Skill dan Hard Skill, Apa Bedanya?

Di tahun 2018 ini, apa anda punya resolusi? Banyak orang yang mencanangkan resolusi di awal tahun, karena hal itu membuat mereka lebih semangat dalam menjalani hidup. Apakah anda mempunyai resolusi untuk menaiki tangga karier dan meningkatkan pendapatan tapi tidak tahu caranya? Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan soft skill.

 

Perbedaan Soft Skill dan Hard Skill

Apa itu soft skill? Apa pula bedanya dengan hard skill? Saat anda bekerja, mungkin anda lebih mengandalkan hard skill. Yaitu kemampuan akan suatu bidang yang telah dipelajari selama bertahun tahun di bangku sekolah dan kuliah. Seorang dokter tentu saja memiliki hard skill untuk menganalisa penyakit yang diderita pasiennya, membalut luka, dan juga memberi resep obat yang dosisnya pas. Sementara seorang penerjemah mampu mengalihbahasakan teks dan buku berbahasa asing, lalu mengolahnya jadi kalimat yang enak dibaca.

 

Baca Juga: 10 Jenis Soft Skill yang Membuat Karier Anda Meroket

 

Jika anda ingin menaikkan hard skill, caranya adalah dengan mendalami bidang yang anda bisa, dan menekuninya dengan serius, selama bertahun tahun. Contohnya, sebagai pastry chef, mungkin anda pandai membuat brownies dan pie susu. Namun tak ada salahnya untuk belajar membuat kue tradisional seperti lemper dan klepon.

Contoh lainnya adalah, jika anda bekerja sebagai sekretaris, anda tak hanya handal menata dan menyimpan dokumen penting, mampu mengetik dengan cepat dan juga akurat. Tapi saat kantor mengadakan acara perayaan, anda juga bisa mendesain undangan menggunakan software CorelDraw dan PhotoShop, dan juga bisa mendekorasi ruangan dengan indah. Seorang sekretaris yang selalu meningkatkan hard skill dan memiliki banyak kelebihan akan selalu jadi andalan perusahaan.

Namun semua hard skill ini juga harus didukung oleh soft skill, yaitu kemampuan untuk mengelola emosi di dalam diri, dan juga bergaul dengan berbagai kalangan. Seorang pekerja juga dituntut untuk mampu memimpin proyek, bekerja sama dalam sebuah tim, dan mau mendengarkan masukan dari rekan kerja dan juga bawahan. Karena semua kemampuan teknis tak akan banyak berguna jika pemiliknya tak bisa menjaga mulutnya, egois, dan keras kepala. Lalu bagaimana cara meningkatkan soft skill?

Caranya adalah dengan belajar mendengarkan nasehat orang lain, berlatih disiplin, dan juga mulai aktif dalam organisasi. Anda bisa mengikuti outbond untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama dalam tim, melatih kepercayaan diri, dan meningkatkan inisiatif, serta belajar berpikir cepat dan kritis. Soft skill akan menjadi nilai plus anda.

 

Baca Juga: 7 Games Team Building Yang Patut Anda Coba Untuk Kegiatan Outbound

 

Yang harus diingat, soft skill tak akan berguna jika tidak ada hard skill. Jadi keduanya memang saling mendukung. Seorang pelamar kerja yang memiliki IPK 4 dan punya segebok piagam dan sertifikat saat ia kuliah mungkin akan sulit diterima di suatu perusahaan. Penyebabnya karena saat mengikuti psikotes, ia datang terlambat. Setelah dilihat hasil psikotesnya, ia termasuk tipe yang susah beradaptasi dan kurang bisa bekerja dalam tim. Sayang sekali, hard skill yang ia miliki tidak didukung oleh soft skill yang memadai. Padahal soft skill sebenarnya juga bisa dipelajari.

 

Soft Skill dan Hard Skill bagi Karyawan

Hard skill dan soft skill sama-sama penting bagi kelangsungan karier anda. Seumpama sebuah komputer, hard skill adalah hardware-nya, berupa CPU, monitor, mouse,dan keyboard. Sementara itu, soft skill adalah software pendukung, misalnya Microsoft Words dan Excel.

Anda ingin naik gaji dan menapakkan kaki ke jajaran manajerial perusahaan? Mari tingkatkan kemampuan hard skill dan soft skill, demi jenjang karier dan masa depan yang lebih baik. Terutama bagi anda yang bekerja di suatu perusahaan yang memiliki Sistem HR yang baik, sehingga mereka dapat melakukan penilaian kinerja karyawan.