Cuti menikah & Cuti melahirkan

Serba-Serbi Cuti Menikah Dan Cuti Melahirkan

Cuti merupakan hak yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan. Pemerintah telah menetapkan aturan tentang cuti melalui Undang-Undang no 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sebelum anda membaca artikel tentang serba-serbi cuti menikah dan cuti melahirkan, anda bisa membaca artikel tentang cuti lainnya  di sini, untuk mengetahui jenis-jenis cuti di Indonesia.

Cuti Melahirkan

Bagi seorang wanita, menunggu kelahiran anak adalah momen yang spesial. Jadi walupun dengan kesibukan bekerja, menjelang waktu melahirkan hal ini sangat perlu diperhatikan. Jika calon ibu seorang pekerja kantoran atau bekerja di suatu perusahaan, maka calon ibu berhak mendapatkan cuti hamil.

Di setiap negara, cuti bagi ibu hamil ini memang wajib diberikan, meskipun berbeda-beda peraturannya. Di Indonesia, ada peraturan yang ditetapkan pemerintah untuk cuti ibu hamil dan menyusui, yaitu UU no 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pekerja perempuan yang hendak melahirkan berhak mendapatkan cuti selama 3 bulan. Biasanya hak cuti ini dapat dibagi 1.5 bulan sebelum melahirkan dan 1.5 bulan sesudah melahirkan. Dalam hal ini dapat disesuaikan dengan surat dari dokter kandungan atau bidan tempat pegawai memeriksakan kehamilannya.

Adalah baik jika seorang pekerja yang hendak mengambil cuti melahirkan, melaporkan dirinya hendak bercuti kepada pihak HRD, dan jika memungkinkan membuat surat izin cuti melahirkan dengan jelas. Akan terasa lebih formal dan sopan jika Anda membuat surat daripada hanya pemberitaan secara lisan.

Selama pekerja melakukan cuti kehamilan, peusahaan tetap harus membayar penuh gaji dari karyawannya. Jadi selama 3 bulan penuh cuti, pekerja tetap mendapatkan jaminan gajinya terbayar. Pekerja yang menjalani cuti kehamilan ini mendapatkan hak istimewa dalam menyambut kelahiran bayi mereka.

Bahkan setelah melahirkan, pekerja perempuan berhak menyusui anaknya di tempat kerja. Kesempatan menyusui anak ini juga diatur dalam UU no 13 tahun 2003 pasal 83. Perusahaan sendiri yang diberikan kebebasan untuk melakukan pengaturan tentang lamanya menyusui dan tempat yang layak untuk memberikan ASI. Jadi jika Anda seorang pekerja wanita yang hendak memberikan susu kepada bayi Anda, sebaiknya bicarakan dengan pihak kantor Anda terlebih dahulu.

Anda tidak perlu khawatir akan pemberian ASI ini, karena dalam pasal 128 UU no 36 tahun 2009 tentang dukungan bagi para wanita yang memberikan ASI di tempat kerja dan tempat umum. Kantor-kantor dan tempat umum harus menyediakan fasilitas yang layak dan aman untuk ibu memberikan ASI pada bayi mereka. Dengan mendukung gerakan memberikan ASI ini, kita juga mendukung membangun generasi yang sehat bagi anak bangsa kita.

Cuti Menikah

Untuk beberapa alasan penting, cuti perlu diambil. Seperti untuk mempersiapkan hari pernikahan. Jika Anda seorang karyawan yang hendak melangsungkan hari bahagia ini, Anda berhak mendapatkan cuti khusus ini. Banyak hal penting yang harus Anda persiapkan sebelum hari pernikahan dan bisa menjadikan hari-hari Anda melelahkan karena dilakukan sementara tetap bekerja.

Dalam peraturan Undang-undang no 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, jika akan melangsungkan pernikahan, Anda berhak mengajukan cuti secara lisan dan tulisan. Sesuai dengan peraturan pemerintah ini, cuti untuk menikah boleh diberikan selama 3 hari dengan gaji tetap dibayarkan penuh.

Tetapi cuti untuk melangsungkan pernikahan ini tidak dibatasi hanya 3 hari saja. Jika dibicarakan lebih awal dengan pihak perusahaan, mungkin saja Anda dapat diberikan cuti hingga seminggu. Tapi perlu diperhatikan jika ada juga perusahaan yang memberikan cuti lebih dengan memotong hari cuti pada cuti tahunan yang ditetapkan.

Untuk mempermudah cuti menikah ini, Anda sebaiknya membuat surat untuk minta izin cuti supaya lebih sopan daripada hanya lisan. Anda sebaiknya juga menyelesaikan tugas-tugas yang mendesak sebelum meninggalkan kantor sehingga pikiran menjadi tenang dan pernikahan bisa berjalan dengan lancar.