Surat peringatan

Surat Peringatan Kerja atau sering disebut SP, merupakan alat disiplin karyawan yang sering dipakai oleh perusahaan. Karyawan yang beberapa kali tidak mentaati peraturan atau dengan sengaja melakukan pelanggaran biasanya diberikan teguran tertulis melalui SP1, SP2, SP3, hingga bisa berujung pada pemberhentian kerja.

Bagi banyak karyawan, surat peringatan kerja merupakan momok atau hantu yang menakutkan. Bagi perusahaan,SP merupakan dilema, apakah meningkatkan motivasi atau justru menurunkan kinerja?

Baca Juga: HR Tips: Tingkatkan Kinerja Karyawan Dengan 7 Hal Ini

Mari kita lihat analogi sebuah pisau dapur. Alat yang sangat berguna untuk memotong sayur, daging, dan merupakan komponen penting dalam memasak. Namun, pisau yang sama bisa menjadi sesuatu yang berbahaya jika disalah gunakan, bahkan bisa menjadi alat pembunuhan.

Demikian juga sebuah surat peringatan kerja. Oleh karena SP merupakan alat bantu dalam perusahaan, sebaiknya digunakan dengan bijaksana sehingga membuahkan hasil yang efektif.

 

Bijak dalam memberikan Surat Peringatan

SP sebaiknya tidak perlu dipergunakan, meskipun disiplin kerja itu penting. Sebelum mengeluarkan SP, cobalah untuk mencari tahu sumber permasalahan dari karyawan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang. Bisa saja karyawan merasa tidak nyaman atau diintimidasi oleh rekan kerja lain, tertekan oleh beban pekerjaan yang terlalu banyak, gangguan dalam bekerja, atau ada permasalahan dalam keluarga.

Jika karyawan merasa tidak nyaman atau diintimidasi oleh rekan kerja lain, cobalah mencari tahu penyebabnya. Ini juga merupakan salah satu tugas HRD dalam pengembangan sumber daya manusia, konseling. Banyak orang yang tidak mencapai batas kemampuan maksimalnya karena tidak mendapatkan dukungan dan pengarahan yang benar. Selain itu, karyawan yang memiliki potensi bisa “dirusak” oleh karyawan lain yang merasa iri atau tersaingi (politik dalam kantor). Dengan melakukan konseling, HRD atau manajer terkait bisa menemukan sumber masalah yang benar dan memperbaikinya tanpa melalui SP.

Ada kalanya karyawan merasa tertekan oleh beban pekerjaan yang terlalu banyak namun tidak berani mengungkapkannya. Kurangnya jumlah staf, merangkap beberapa pekerjaan, bisa berdampak terhadap motivasi dan kinerja. Pastikan Anda sebagai HRD melihatnya. Sehebat apapun seseorang, fisik dan mentalnya mempunyai batasan tertentu.

Gangguan dalam bekerja sering terjadi, namun sering diabaikan. Jika karyawan bekerja tidak sesuai dengan deskripsi pekerjaan, melakukan tugas yang tumpang tindih yang seharusnya dikerjakan oleh orang lain, multi tasking, diinterupsi oleh atasan (bahkan disuruh melakukan pekerjaan lain di sela tugas yang sedang dilakukan), maka motivasi dan kinerjanya akan menurun. Karyawan tidak merasakan adanya suatu pencapaian yang bisa dibanggakan dalam pekerjaan dan merasa “serabutan”.

 

HRD Sebagai Pemecah Masalah dan Pemberi Solusi

Bagi kita yang hidup di negara Timur, keluarga merupakan faktor penting dalam pekerjan. Banyak orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga, terkadang termasuk kakek atau nenek, om, tante, dan keponakan. Jika ada permasalahan dalam keluarga, kinerja pasti terganggu. HRD atau manajer bisa membantu mendengarkan mereka sambil mendorong mereka untuk segera menyelesaikannya tanpa mengganggu pekerjaan. Karyawan akan merasa dihargai dan memiliki motivasi ekstra untuk mengembalikan kepercayaan dari perusahaan.

Setelah menemukan akar permasalahannya, barulah HRD atau manajer bisa memutuskan bentuk disiplin yang tepat. Sebaiknya sebelum mengeluarkan SP diberikan peringatan lisan terlebih dahulu. Sesuaikan dengan kepribadian orang tersebut. Karyawan yang sudah “dewasa” biasanya merespon peringatan awal ini. Jika teguran pribadi ini belum manjur, barulah Anda mengeluarkan surat peringatan resmi.

Jawaban dari pertanyaan: “Surat Peringatan Kerja, Meningkatkan Motivasi Atau Menurunkan Kinerja?” sebenarnya ada di tangan HRD sendiri. Jika Anda merasa bergerak dalam people DEVELOPMENT, maka setiap tindakan harus diukur dari sudut pengembangan. Jika mengeluarkan SP membantu menyadarkan karyawan bersangkutan, maka berikanlah. Jika tidak, lihatlah ini sebagai kesempatan untuk mengeluarkan “karyawan bermasalah”.

Baca Juga: Bagaimana Mengatur Karyawan Bermasalah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use theseHTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>