Apakah Great Resignation Indonesia Bakal Terjadi?

.

Newslater

Newsletter

Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini :

great resignation indonesia
Isi Artikel

Pandemi Covid-19 yang terjadi berdampak besar bagi semua aspek kehidupan. Tidak terkecuali bagi para pekerja.  Banyak pekerja yang merasa berat dalam menghadapi situasi ini.

Salah satu negara yang memiliki dampak karena pandemi Covid-19 adalah Amerika Serikat. Pada tahun 2021, Amerika Serikat mengalami sebuah fenomena yang bernama great resignation

Lalu, apakah great resignation juga terjadi di Indonesia? Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai fenomena ini, simak penjelasan LinovHR berikut sampai tuntas ya!

 

Memahami Terjadinya Fenomena Great Resignation

Great resignation adalah salah satu fenomena resign secara massal yang terjadi selama pandemi Covid-19. Istilah great resignation pertama kali dicetuskan oleh Anthony Klotz, Associate Professor of Management di Texas A&M University, Amerika Serikat. Menyusul banyaknya pengajuan resign yang terjadi di Amerika Serikat selama pandemi Covid-19.

Ini terjadi karena banyak orang yang mulai memikirkan ulang prioritas dalam hidupnya, termasuk dalam pekerjaannya. Fenomena ini mengakibatkan para pekerja garis terdepan hingga eksekutif senior melakukan voluntary layoff.

Mengutip dari Microsoft, pada tahun 2021 terdapat 40% tenaga kerja global yang merencanakan pindah kantor pada tahun 2022. 

 

Alasan Munculnya Fenomena Great Resignation

Banyaknya tenaga kerja yang memilih untuk melakukan resign dan merencanakan untuk pindah kantor tentu memiliki alasan tersendiri. Berikut adalah beberapa alasan munculnya fenomena great resignation yang perlu Anda ketahui.

 

  1. Mereka merasa percaya diri untuk mencari pekerjaan baru

Menurut Klotz yang dikutip dari Hays, menjelaskan bahwa terdapat beberapa individu yang telah berencana untuk meninggalkan pekerjaan mereka sebelum pandemi, tetapi mereka memutuskan untuk menundanya karena ketidakstabilan yang disebabkan oleh Covid-19.

Ketika akhir dari pandemi Covid-19 sudah mulai terlihat dan perekonomian sudah perlahan pulih, maka banyak pihak yang menjadi yakin untuk melakukan resign.

 

  1. Memiliki prioritas yang berubah

Bagi beberapa individu, pandemi Covid-19 telah memberi mereka banyak waktu dan ruang dalam merenungkan kehidupan mereka, hal tersebut merupakan sesuatu yang belum pernah dilakukan banyak orang sebelumnya. Pada masa ini, banyak individu yang mengevaluasi kembali prioritas yang mereka miliki. 

 

  1. Menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak menyukai pekerjaannya

Saat pandemi Covid-19, banyak pekerjaan yang dilakukan dari rumah atau work from home, selama WFH banyak individu yang menyadari bahwa mereka tidak benar-benar menikmati pekerjaan yang mereka lakukan.

Selain itu, banyak individu yang juga kehilangan rasa koneksi terhadap tempat kerjanya, hal tersebut yang membuat mereka merasa bahwa mereka tidak menikmati pekerjaannya.

 

Bagaimana Great Resignation di Indonesia?

Lantas, apakah Indonesia mengalami fenomena great resignation

Mengutip melalui Riset Kompas, great resignation tidak akan terjadi di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Indonesia belum memiliki fasilitas jaminan sosial yang disediakan oleh negara dalam menolong kehidupan para pegawai yang mengundurkan diri.

Sedangkan itu, banyak pekerja yang mengaku bila mereka semakin selektif dalam memilih perusahaan sasaran mereka bekerja. Working arrangement (pengaturan kerja), menjadi salah satu alasan bagi mereka yang semakin selektif dalam memilih pekerjaan. 

Saat ini semakin banyak pekerja yang melihat sistem jam kerja yang fleksibel ketika mempertimbangkan posisi baru.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, daripada mengajukan resign, para pekerja di Indonesia lebih memikirkan apakah tempat kerja mereka bisa memberikan jam kerja fleksibel atau tidak.

 

Baca Juga: Seperti Apa Flexible Work Arrangement yang Bisa Diterapkan Perusahaan?

 

Respons Great Resignation Dengan Memanfaatkan Teknologi HRIS

 

software hris

 

Pengajuan resign karyawan bisa menjadi mimpi buruk bagi perusahaan. Hal ini karena mencari karyawan dengan kualitas sepadan bukanlah perkara mudah. Untuk beberapa waktu, hal ini pasti akan memengaruhi kinerja perusahaan.

Namun, sebenarnya hal ini bisa diminimalisir ketika sistem perusahaan sudah menggunakan teknologi HRIS untuk mengelola administrasi perusahaan. Dengan cara ini, walaupun banyaknya karyawan yang mengajukan resign, administrasi perusahaan tidak terpengaruh banyak karena semua telah dilakukan dengan sistem dan telah terdigitalisasi.

Salah satu teknologi HRIS yang bisa diandalkan dan dapat dipercaya adalah software HRIS LinovHR. Berbagai modul yang ada dalam software HRIS LinovHR dapat membantu perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja karena semua sudah dilakukan dengan sistem yang terorganisir.

Pengelolaan karyawan pun bisa dilakukan lebih cepat dan tepat. Tanpa lagi membutuhkan proses panjang yang melelahkan.

Selain itu, ketika banyak karyawan yang resign tentu perusahaan perlu memperbarui database karyawan. Jika cara manual HR perlu mencari lebih dulu tumpukan file data karyawan, lalu menghapusnya.

Dengan software HRIS LinovHR memperbarui database karyawan bisa dilakukan dalam hitungan menit saja. Ini karena software HRIS dari LinovHR telah dilengkapi dengan modul Personnel Administration, di mana seluruh database karyawan akan tersimpan di satu tempat dan bisa dengan mudah ditambahkan atau juga dihapus.

 

Semua bisa lebih mudah dengan software HRIS LinovHR, ayo ajukan demo gratisnya sekarang juga!

Bagikan Artikel Ini :

Tentang Penulis

Sasa Karyono
Sasa Karyono

SEO specialist yang mengombinasikan antara pengoptimasian situs web dan membagikan wawasan HRD melalui artikel lengkap dan menarik. Follow her on Linkedin.

Related Articles

.

Newslater

Newsletter

Artikel Terbaru

Telusuri informasi dan solusi HR di sini!

Subscribe newsletter LinovHR sekarang, ikuti perkembangan tren HR dan dunia kerja terkini agar jadi yang terdepan di industri

Newsletter