karyawan kutu loncat

Karyawan Resign atau Kutu Loncat Dibenci HRD, Benarkah Demikian?

Istilah karyawan kutu loncat mungkin tidak begitu asing bagi HRD dan karyawan pada umumnya. Mungkin tidak masalah jika hanya satu atau dua karyawan yang resign dalam perusahaan. Namun, bagaimana jika jumlah karyawan kutu loncat dalam perusahaan tidak terkendali? Bagaimana pandangan HRD mengenai fenomena karyawan kutu loncat?  Untuk lebih lengkapnya simak bahasan di bawah ini!

 

Siapa Karyawan Kutu Loncat? 

Karyawan kutu loncat sendiri merujuk kepada karyawan resign dari satu perusahaan ke perusahaan lain dalam waktu yang singkat. Jadi dapat dikatakan bila karyawan tersebut hanya bekerja satu sampai beberapa bulan di perusahaan lalu pindah haluan ke perusahaan lain. Banyak dari karyawan kutu loncat berasal dari generasi millenial yang dikenal mudah bosan dan sulit terikat dengan aturan yang ketat. 

Sebenarnya fenomena karyawan kutu loncat sangat wajar, apalagi di tengah kompetensi bisnis yang kian ketat. Karyawan biasanya akan tergoda dengan penawaran perusahaan kompetitif jika karyawan tersebut bergabung dengan perusahaan. Hal ini biasa dilakukan untuk menggaet karyawan unggulan. 

 

Mengapa Banyak Karyawan Resign? 

Pindah atau resign ke perusahaan lain adalah hak karyawan sepenuhnya. Karyawan yang sering berpindah perusahaan umumnya dinilai tidak mampu beradaptasi atau berada di bawah tekanan. Akan tetapi, perlu dicermati juga bahwa hal ini bukan semata-mata kesalahan karyawan. Ada banyak alasan mengapa karyawan memutuskan menjadi kutu loncat. Apa saja alasan tersebut? 

 

Jenjang Karir Terbatas

Mempunyai karir gemilang pastinya menjadi harapan semua karyawan. Namun, bagaimana jika jenjang karir dalam perusahaan sangat terbatas? Contohnya, Ani adalah staf divisi keuangan yang telah bekerja selama setahun. Ani tentu ingin naik ke jenjang berikutnya yang lebih tinggi. Sayangnya posisi yang lebih tinggi tidak tersedia dan hanya diisi oleh karyawan tua yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sistem yang ada di perusahaan masih sangat konvensional. Akhirnya Ani pun memutuskan pindah ke perusahaan lain yang menawarkan posisi lebih tinggi dibandingkan perusahaan sebelumnya. 

 

Tidak Diberi Kesempatan Mengikuti Pelatihan

Kesempatan pengembangan diri adalah hal lain yang disukai karyawan. Dari berbagai program pengembangan dan pelatihan, karyawan dapat meningkatkan keterampilan yang akan berpengaruh kepada kinerja karyawan. Jika tidak ada sistem pengembangan diri yang bagus maka karyawan berpotensi akan cepat resign. 

 

Sistem Pengelolaan Karyawan Buruk

Pengelolaan karyawan yang baik adalah kunci keberhasilan HRD. Jika pengelolaan karyawan buruk, maka tak heran karyawan tidak akan betah berlama-lama kerja di perusahaan. MIsalkan, HRD masih bertahan dengan cara lama dalam menghitung gaji bulanan, yaitu menggunakan cara manual. Akibatnya sering terjadi salah hitung dan keterlambatan penggajian. Pasti karyawan akan merasa kecewa karena telat gajian. Padahal, HRD dapat memanfaatkan modul payroll dalam HRD Software dari LinovHR yang dapat membantu perhitungan gaji cepat dan akurat secara serentak. 

 

Konflik Horizontal dan Vertikal

Konflik dalam perusahaan pasti akan selalu ada, baik antara sesama karyawan dan karyawan dengan atasan. Konflik menjadi salah satu penyebab karyawan cepat resign.

 

Apakah HRD Benci Karyawan Kutu Loncat?

Seperti dikutip dari beritasatu.com  Nurma Diani seorang HR Specialist dari Vocational Development Center UGM berpendapat bahwa: 

 “Fenomena job hopping dimata HR memang dapat memberikan kesan yang negatif bahwa si pelamar kerja akan dianggap orang yang tidak memiliki loyalitas dan tidak siap memasuki dunia kerja. Sehingga ketika mendapat tekanan kerja akan langsung mengundurkan diri. Hasilnya rentang waktu kerja yang tertera di CV tak lebih dari setahun. padahal memang tidak semua orang masuk kategori negatif tersebut. ada pula kemungkinan bahwa pada dasarnya orang ini suka dengan tantangan sehingga berpindah-pindah perusahaan dapat memberinya tantangan, atau ada remunerasi di tempat baru yang lebih menarik dari posisi yang tinggi serta kepuasaan ada di nomor sekian baginya. 

Sementara bagi perusahaan Job Hopper tak terlalu disukai, karena untuk mendapat sdm perusahaan sudah mengeluarkan dana. untuk proses rekrutmen, pelatihan dsb. jadi bila ada karyawan yang mengundurkan diri ada pengeluaran yang menjadi sia-sia, karena harus mulai mencari pengganti dan itu akan merepotkan. karena itu banyak manajer rekrutmen akan sangat mencermati CV dan wawancara secara detail, meminta rekomendasi dari atasan karyawan sebelumnya hingga menerapkan sistem kontrak kerja dengan periode tertentu misal dicantumkan klausula, bila si karyawan mengundurkan diri sebelum masa kerja tertentu habis maka si karyawan wajib melunasi sejumlah uang yang telah ditentukan perusahaan. ”

 

Sementara itu, Metta Mustika  sebagai HR Recruitment dari Lawencon International berpendapat bahwa:

 

“ Karyawan kutu loncat cenderung bekerja sesuai mood, bisa semangat di awal tetapi ketika mendadak tidak suka atau tidak betah langsung pindah begitu saja. Padahal ada project penting atau sedang padat. Perusahaan akan merugi karena harus mengajari karyawan baru yang menggantikan karyawan resign. Jadi untuk penugasan tertentu akan agak lama karena karyawan baru juga butuh adaptasi untuk mempelajari tugasnya. “

Sementara di sisi HRD, kita (HRD) harus mencari orang baru yang akan mengisi posisi kosong. Hal ini butuh proses panjang sebab tidak selalu kandidat akan cocok dengan user atau atasan. Karyawan dapat dikatakan kutu loncat jika memiliki pengalaman kerja kurang dari setahun. Contohnya dapat dilihat dari CV, karyawan cuman kerja di perusahaan beberapa bulan akan menimbulkan kesan yang kurang baik “

 

Jadi Apakah Karyawan Kutu Loncat di Benci HR?

Dari penjelasan dan pendapat HR  di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kutu loncat atau karyawan resign terlalu sering memang dapat memberi kesan negatif bagi karyawan. Sebab karyawan tersebut merugikan perusahaan dari sisi anggaran rekrutmen dan waktu. Namun, tidak semua kesan negatif itu akan dominan ketika karyawan dapat membuktikan skill dan kualitas yang dimiliki. Perlu dicatat bahwa pindah kerja tidak selalu menandakan karyawan berada dalam tekanan atau kurang bertanggung jawab, melainkan faktor lain yang positif seperti menyukai tantangan baru dan mencari jenjang karir yang lebih menjanjikan.

 

Baca Juga: 5 Contoh Konflik Perusahaan dan Penyelesaiannya

 

Bagaimana Cara Mengatasi Karyawan Kutu Loncat ?

Tingkat karyawan resign dapat ditekan bila HRD menggunakan beberapa cara yang tepat. Apa saja cara untuk mengatasi karyawan kutu loncat? 

Sediakan Jenjang Karir yang Menjanjikan 

Jenjang karir adalah tantangan bagi karyawan untuk selalu meningkatkan kinerja. Tanpa jenjang karir yang jelas, karyawan akan tidak bersemangat untuk memberikan yang terbaik. Berikan jenjang karir kepada karyawan berperforma tinggi agar karyawan bisa lebih betah di perusahaan. 

 

Beri Pujian Kepada Karyawan

Tidak ada salahnya memberikan pujian sederhana kepada karyawan ketika berhasil melakukan sesuatu sekecil apapun. Ada kalanya karyawan butuh pujian ketika berhasil mengerjakan sesuatu. Sayangnya, tidak selalu manajer memberikan kepada stafnya yang berhasil. Padahal, pujian ini sangat berguna untuk menumbuhkan sense of belonging pada karyawan. 

 

Minta Masukan dari Karyawan

Keterlibatan karyawan sangat berharga bagi perusahaan. HRD bisa menumbuhkan keterlibatan karyawan dengan meminta masukan walau karyawan merupakan fresh graduate yang minim pengalaman. Dengarkan dengan terbuka segala masukan yang diberikan karyawan. Bisa jadi masukan yang ada lama-lama dapat membangun inovasi dan memperkokoh posisi perusahaan di tengah persaingan bisnis. 

 

Gunakan Sesi One-on-One untuk Menggali Potensi

Tidak semua karyawan terbuka untuk membicarakan kepribadian atau keinginan dalam karir. Untuk itulah penting mengadakan sesi one-on-one atau diskusi berdua saja dengan karyawan. Ajak bicara karyawan dengan santai untuk mencari tahu apa yang disukai dan diminati karyawan dalam aspek karir dan perusahaan. Hal ini akan membantu HRD menemukan potensi tersembunyi karyawan yang selama ini tidak diperlihatkan. 

 

Kelola Karyawan dengan Software HRD dari LinovHR

Pengelolaan karyawan yang buruk adalah akar dari ketidaknyamanan karyawan. Software HRD dari LinovHR dapat membantu HRD mengelola karyawan lebih sistematis dan komprehensif. Semua proses pengelolaan karyawan mulai dari pengukuran performa, penggajian, pencatatan kehadiran, pencarian reimbursement, approval cuti, dan lain-lain dapat dilakukan otomatis dalam satu sistem. Maka proses pengelolaan karyawan bisa lebih efektif dan efisien. 

 

software hris

Demikianlah pembahasan singkat mengenai karyawan kutu loncat, mulai dari alasannya dan cara mengatasinya. Perlu dipahami bahwa pendekatan karyawan tiap generasi pasti akan berbeda. HRD perlu mempelajari bagaimana pola kerja tiap generasi dengan seksama. Hal ini menjadi tantangan bagi HRD untuk dapat menekan tingkat karyawan resign sehingga tidak berujung pada kerugian perusahaan. Semoga info di atas dapat berguna!