Pengertian Bahan Baku dan Jenis-Jenisnya untuk Berbagai Industri

Setiap produk yang kita gunakan tentunya diproduksi menggunakan sejumlah bahan baku. Perlu diketahui, bahan baku merupakan komponen persediaan yang paling penting untuk setiap unit produksi dalam sebuah bisnis maupun industri manufaktur. Oleh karena itu, penting bagi setiap bisnis untuk dapat mengelola persediaan raw materials dengan baik sesuai jenisnya. Dalam artikel ini, LinovHR telah merangkum pengertian dari bahan baku dan jenis-jenis dalam industri di Indonesia. 

Apa itu Bahan Baku?

Bahan baku atau raw materials adalah bahan atau zat yang digunakan dalam produksi utama atau pembuatan barang. Bahan baku merupakan komoditas yang diperjualbelikan di bursa komoditas di seluruh dunia. Raw materials merupakan aspek penting dalam faktor produksi. Jadi, bahan baku adalah barang input atau persediaan yang dibutuhkan perusahaan untuk memproduksi produknya. Contoh raw materials seperti baja, minyak, mineral, dan lain-lain. 

 

Jenis-Jenis Bahan Baku

Berdasarkan Asal

Berikut jenis-jenis bahan baku berdasarkan dari mana asalnya:

  1. Berbasis Tumbuhan (Plant/tree based). Raw materials  yang berasal dari tumbuhan seperti sayuran, buah-buahan, bunga, kayu, damar, dan lain-lain.
  2. Berbasis Hewan (Animal Based). Raw materials yang berasal dari hewan seperti kulit, daging, tulang, susu, wol, sutra, dan lain-lain. 
  3. Berbasis Pertambangan (Mining-based-materials). Raw material yang diperoleh dari hasil penambangan seperti mineral, logam, minyak mentah, batu bara, dan lain-lain. 

 

Berdasarkan Bentuk Output

Selain itu dibagi berdasarkan asalnya, raw materials diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu:

Direct Materials (Bahan Baku Langsung)

Direct materials adalah semua bahan atau komponen yang membentuk produk jadi. Contohnya, kayu merupakan direct materials yang digunakan untuk membuat furniture seperti kursi, meja, tempat tidur, dan lain-lain. Contoh lainnya adalah kulit yang digunakan untuk membuat produk seperti dompet, sepatu, tas, dan lain-lain.

 

Indirect Materials (Bahan Baku Tidak Langsung)

Indirect materials adalah bahan pelengkap dalam pembuatan produk jadi atau bahan yang digunakan selama proses produksi tetapi bukan merupakan bagian dari produk akhir. Contoh indirect materials dalam pembuatan furniture seperti paku, lem, pernis, dan lain-lain. Indirect material biasanya dibawah biaya overhead pabrik dan ditambahkan ke harga pokok penjualan. 

 

Baca Juga: Memaksimalkan Penjualan Bisnis Online Melalui  E-Commerce

 

Tipe Industri Berdasarkan Bahan Baku

Industri dapat diklasifikasikan berdasarkan raw materials yang digunakan seperti dibawah ini:

 

Industri Berbasis Agro (Agro Based Industries)

Industri berbasis agro merupakan sebuah industri yang menggunakan produk nabati dan hewani sebagai bahan  utamanya. Contohnya industri pengolahan makanan, minyak nabati, industri tekstil kapas, produk susu, dan lain-lain.

 

Industri Berbasis Mineral (Mineral Based Industries)

Industri berbasis mineral merupakan industri yang bahan baku utamanya didapatkan dari hasil pertambangan. Umumnya, industri ini juga menyediakan raw materials untuk industri yang lain. Raw materials yang digunakan dalam industri ini digunakan untuk pembuatan alat berat atau bahan bangunan.

 

Industri Berbasis Kelautan (Marine Based Industries)

Industri berbasis kelautan adalah industri yang menggunakan bahan yang berasal dari laut. Contohnya, industri pengolahan ikan kaleng, industri pengolahan minyak ikan, dan lain sebagainya. 

 

Industri Berbasis Hutan (Forest Based Industries)

Industri berbasis hutan merupakan industri yang  menggunakan raw materials berasal langsung dari hutan. Contohnya industri kertas, industri mebel (furniture), industri farmasi, dan lain sebagainya. 

 

Baca Juga: Mencari Cuan untuk Kehidupan Ala Sociopreneur 

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku

Ketika mengelola persediaan bahan untuk produksi, terdapat berbagai macam faktor yang harus Anda pertimbangkan. Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi persediaan raw materials, antara lain: 

 

Perkiraan Penggunaan 

Sebelum pihak manajemen perusahaan memesan sejumlah raw materials untuk proses produksi, manajemen perlu membuat perkiraan besarnya jumlah raw materials yang akan digunakan dalam proses produksi dalam periode tertentu. Perkiraan raw materials ini dibuat agar tidak ada materials yang terbuang sia-sia sehingga meminimalisir peluang kerugian terhadap bisnis.

 

Harga Bahan

Faktor kedua yang mempengaruhi persediaan raw materials adalah harga bahan. Mengapa? Karena harga bahan nantinya akan menjadi dasar perhitungan terkait budget yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk investasi.

 

Biaya Persediaan

Selanjutnya, biaya persediaan dapat menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi persediaan raw materials. Ketika mengelola persediaan raw materials, sudah selayaknya manajemen perusahaan memperhitungkan berbagai biaya dalam menyelenggarakan persediaan raw materials. Berikut biaya-biaya yang perlu diperhitungkan:

  1. Biaya penyimpanan raw materials
  2. Biaya pemesanan atau pembelian raw materials 

 

Waktu Tunggu (Lead Time)

Waktu tunggu adalah waktu yang dibutuhkan dari saat barang dipesan hingga saat barang tersebut tiba. Waktu tunggu sangat bervariasi tergantung pada jenis produk dan berbagai proses manufaktur yang terlibat. Oleh karena itu, waktu tunggu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi persediaan raw materials.

 

Pemasok (Suppliers)

Pemasok dapat memiliki pengaruh besar dalam pengendalian persediaan raw materials. Bisnis yang sukses membutuhkan pemasok yang dapat diandalkan untuk merencanakan pengeluaran dan mengatur proses produksi. Maka dari itu, biasanya sebuah bisnis memiliki lebih dari satu pemasok untuk mencegah kekurangan produk atau keterlambatan dalam proses manufaktur. 

 

Kesimpulan

Setelah menyimak artikel diatas, dapat disimpulkan bahwa bahan baku merupakan aspek penting dalam unit produksi sebuah bisnis. Tanpa adanya raw materials, sebuah bisnis tidak dapat menghasilkan produk jadi yang nantinya akan dijual kembali kepada konsumen. Oleh karena itu, penting bagi sebuah bisnis untuk memiliki manajemen yang dapat mengelola persediaan dengan baik.