Cuti meningkatkan produktivitas

Banyak Cuti, Produktivitas Meningkat? Benarkah?

Beberapa karyawan mungkin merasa malu jika mengambil banyak cuti. Tapi di era sekarang ini, dengan tingginya tuntutan kerja dan harapan hasil yang baik justru cuti menjadi hal yang wajar untuk dilakukan. Jika dulu jika seorang karyawan sering cuti maka karyawan itu akan mendapatkan julukan si pemalas. Tak jarang, karyawan tersebut akan menjadi buah bibir di kantor tempat dia bekerja. Tapi, hal ini berbeda untuk zaman sekarang ini.

Setelah kita mengetahui informasi melalui artikel sebelumnya yaitu mengenai jenis cuti di Indonesia, maka penting bagi anda untuk mengambil cuti sehari untuk menjernihkan pikiran mungkin diperlukan. Walaupun tidak sakit secara fisik, terkadang otak perlu melepaskan energi negatif yang membebani diri selama bekerja menyelesaikan proyek yang menguras tenaga dan otak. Beban pekerjaan dapat menyebabkan kelemahan pada fisik dan mental.

Cuti sebagai Penghalang?

Iwan berusia 24 tahun saat ini. Tapi dia merasa kelelahan dalam dirinya yang tak tertahankan. Iwan bekerja selama 16 jam per hari dan bekerja selama 7 hari dalam seminggu. Itu artinya dia tidak punya waktu “off” sama sekali. Bekerja di kota besar membuat Iwan sangat sibuk secara mental, fisik sampai dia tidak ada waktu untuk keluarganya. Dia bahkan tidak bisa berlibur dan tidak memiliki kehidupan sosial apapun. Ketika Iwan terjebak dengan keadaan ini, dia menyadari keadaan ini tidak bisa dia tahan lagi. Badan dan otaknya tidak mampu lagi menahan keadaan yang menekan dan terasa membosankan ini.

Karena perasaan yang hampa dan lelah ini, Iwan memutuskan untuk berhenti dan mengambil waktu tenang sejenak. Sebagai pekerja atau karyawan yang bekerja dengan waktu yang melelahkan dan dituntut pencapaian yang baik mungkin terasa membanggakan pada awalnya. Tapi jika bekerja terus menerus tanpa jeda istirahat, kebiasaan ini buruk dan mempengaruhi pekerjaan itu sendiri, kesehatan dan kehidupan pribadi.

Sangat mudah untuk jatuh dan terjebak dengan kondisi yang menekan ini. Dalam keadaan ini seseorang yang ambisius terhadap suatu pencapaian seharusnya sadar bahwa dirinya harus mengisi ulang bahan bakar dalam dirinya. Intinya adalah: Anda dapat menjadi lebih cepat menyelesaikan sesuatu jika Anda menyediakan waktu untuk mundur sejenak, beristirahat sejenak untuk mengatur ulang pikiran dan badan Anda.

Cuti dalam pandangan Psikologis dan Kesehatan

Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerja, kreativitas dapat meningkat setelah mengambil cuti sejenak, melakukan liburan panjang atau berhentilah bekerja sebentar-sebentar. Jangan melakukan pekerjaan dengan kecepatan super Anda. Jika Anda terlalu sibuk di kantor, lakukan break kecil selama 30 detik sampai satu menit.

Bekerja terus menerus tanpa waktu istirahat yang cukup akan memicu ketegangan seperti stres berlebihan, kelelahan fisik dan perasaan serta emosi yang buruk. Hal-hal ini akan menguras fokus Anda dalam bekerja. Menurut penelitian Universitas Virginia Commonwealth, jika Anda menguras energi dengan melakukan pekerjaan terus menerus tanpa break atau cuti maka itu akan membuat diri Anda lebih tidak produktif dan tidak kreatif.

Jadi tidaklah masalah jika Anda yang mulai merasakan jenuh dan bosan dengan rutinitas kerja untuk mengambil cuti pendek. Cuti pendek sehari sampai seminggu ini dapat Anda manfaatkan untuk beristirahat sejenak, melepaskan kepenatan, dan kesumpekan dari kantor. Jika dilakukan dengan baik, pastinya Anda akan menemukan hal-hal baru yang dapat meningkatkan kreativitas dan produktivitas Anda saat kembali bekerja kembali.

Jadi teman, cuti itu manfaatnya banyak juga. Menjadi produktif tidak selalu berarti bekerja lebih banyak. Jangan berpikir dua kali untuk mengambil waktu mundur selangkah dan maju kembali seratus langkah.