7 Jenis Cuti yang Dapat Diambil oleh Karyawan, Apa Saja?

.

Newslater

Newsletter

Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini :

7 Jenis Cuti yang Dapat Diambil oleh Karyawan, Apa Saja
Isi Artikel

Dalam bekerja, seorang karyawan mempunyai hak dan kewajiban. Kewajiban seorang karyawan adalah melakukan tugas yang diberikan, sedangkan hak karyawan adalah mendapatkan gaji dan cuti. Maka dari itu, penting untuk karyawan memahami berbagai  jenis cuti.

Baik karyawan maupun perusahaan wajib memahami jenis-jenis cuti ini. Berikut beberapa jenis hak cuti karyawan yang ada di Indonesia.

 

Jenis Cuti yang Dapat Diambil Karyawan

Aturan cuti ini pun berbeda-beda pada setiap perusahaan dan karyawan yang bekerja. Pemerintah Republik Indonesia sendiri mengatur peraturan tentang cuti ini dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Ada beberapa jenis cuti yang dapat diambil oleh karyawan.

 

1. Cuti Tahunan

Setiap perusahaan memiliki aturan yang berbeda-beda mengenai jenis cuti tahunan. Aturan cuti tahunan perusahaan ritel berbeda dengan aturan perusahaan yang bergerak di bidang jasa.

Biasanya karyawan yang mendapatkan cuti tahunan hanyalah karyawan yang telah bekerja selama 1 tahun.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan pasal 79 dan 84, memang sudah menjadi hak karyawan untuk mendapatkan cuti tahunan bila bekerja penuh.

Untuk cuti tahunan ini, karyawan sekurang-kurangnya mendapatkan cuti 12 hari yang dapat diambil dalam tahun itu.

Jika ada kondisi tertentu yang mendesak pada karyawan yang memerlukan, kebijaksanaan perusahaan bersangkutan bisa memberikan cuti dengan melakukan pemotongan gaji atau upah.

Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki aturan yang bebeda untuk karyawannya mengenai cuti tahunan ini. Dan inipun seharusnya ada di dalam kontrak kerja.

 

2. Cuti Besar atau Cuti Panjang

Bagi karyawan yang setia dan loyal di tempatnya bekerja, beberapa perusahaan mengapresiasi mereka dengan memberikan cuti besar atau cuti panjang. Cuti yang besar ini biasanya berdurasi 21-30 hari.

Karyawan yang mendapatkan jenis cuti ini dapat menggunakannya sebagai hari libur bersama keluarga atau menyegarkan pikiran untuk mendapatkan ide baru pada saat mereka bekerja kembali.

Cuti panjang ini juga menjadi momen yang bagus untuk mengevaluasi diri. Sebetulnya sangat baik bagi perusahaan yang memberikan cuti besar bagi karyawan loyal dan berdedikasi.

 

3. Cuti Bersama

jenis cuti karyawan
Salah satu jenis cuti karyawan adalah cuti bersama.

 

Cuti bersama ini biasanya diatur oleh Pemerintah dan dimaksudkan untuk seluruh masyarakat. Pada hari besar keagamaan atau hari besar nasional yang menjadi kurang efektif karena diapit dengan akhir pekan, pemerintah memutuskan waktu cuti bersama.

Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi No. SE. 302/MEN/SJ-HK/XII/2010 tahun 2010 mengatur bahwa cuti bersama ada di dalam bagian cuti tahunan karyawan.

Jadi, cuti bersama ini mengurangi jumlah hari yang ada pada cuti tahunan karyawan.

 

4. Cuti Sakit

Pemberian izin cuti yang dikarenakan sakit dapat dilakukan jika seorang karyawan mengalami gangguan fisik atau kelemahan pada tubuh.

Umumnya jenis cuti ini dapat dengan mudah diambil jika disertai surat keterangan dari dokter. Jadi karyawan perlu memeriksakan dirinya dahulu ke dokter, lalu meminta surat izin cuti bekerja.

Lamanya pengambilan waktu cuti karena sakit ditentukan oleh keputusan dokter. Dokterlah yang mengatur berapa hari yang diperlukan untuk cuti dan dapat bekerja aktif kembali.

Pengambilan cuti sakit ini bukan hanya saat karyawan sakit atau kecelakaan, tetapi dapat juga dilakukan pada saat karyawan wanita mengalami gangguan datang bulan.

Tidak diperlukan izin khusus atau surat dokter untuk cuti pada wanita yang datang bulan.

 

5. Cuti Karena Hal Penting

Karyawan dapat mengambil jenis cuti ini karena alasan penting dan mendesak seperti adanya pernikahan, istri melahirkan, atau ada kerabat dekat yang meninggal dunia.

Jika dengan alasan ini karyawan mengambil cuti maka gaji kerja tetap harus dibayarkan sesuai dengan peraturan pada perusahaan bersangkutan.

Biasanya jika jumlah hari cuti karyawan melebihi batas yang diperolehkan perusahaan maka ini akan mempengaruhi cuti tahunan atau cuti besar.

Jika karyawan hendak melakukan cuti hal penting ini diharapkan bisa mengajukan izin cuti pada bagian HRD dan membicarakan sesuai waktu yang diperlukan karyawan tersebut.

Pasal 93 ayat (2) dan (4) UU Ketenagakerjaan mengatur cuti untuk keperluan penting dengan durasi sebagai berikut:

  1. Karyawan menikah: 3 hari
  2. Menikahkan anak: 2 hari
  3. Mengkhitankan anak: 2 hari
  4. Membaptis anak: 2 hari
  5. Istri melahirkan atau mengalami keguguran: 2 hari
  6. Suami/istri, orang tua/mertua, anak, atau menantu meninggal dunia: 2 hari
  7. Keluarga serumah meninggal dunia: 1 hari

 

6. Cuti Hamil dan Melahirkan

Cuti hamil dan melahirkan untuk setiap negara berbeda-beda. Misalkan di Kanada dan Inggris, cuti pada ibu hamil dan akan melahirkan diberikan hampir selama satu tahun (365 hari) dan karyawan masih dapat menerima gaji selama cuti.

Bahkan di Denmark fasilitas untuk wanita cuti hamil sangat istimewa yaitu 365 hari cuti dan diberikan gaji penuh.

Di Indonesia sendiri, wanita yang akan melakukan persalinan juga mempunyai hak untuk mengambil cuti melahirkan. Cuti ini dapat dilakukan ketika hari persalinan sudah dekat.

Di dalam UU. No 13 tahun 2003 pasal 82 tertulis bahwa jika karyawan wanita boleh mengambil cuti ini sebelum dan juga sesudah waktu melahirkan. Ini ditujukan supaya karyawan dapat mempersiapkan diri untuk masa-masa yang istimewa ini.

Meskipun demikian, cuti pada saat kehamilan dan melahirkan ini juga harus disertai surat dari dokter kandungan.

Keistimewaan bagi karyawan wanita yang mengambil jenis cuti ini adalah tidak memotong cuti tahunan mereka sebagai seorang karyawan.

Tetapi alangkah baiknya jika semuanya dibicarakan dengan HRD perusahaan tempat karyawan bekerja.

 

7. Cuti Haid

Cuti haid adalah hak cuti yang diberikan kepada karyawan perempuan untuk memperoleh waktu istirahat saat mengalami menstruasi atau siklus haid.

Jenis cuti ini telah diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pada Pasal 81 ayat (1).

“Pekerja/buruh perempuan yang merasakan sakit selama periode haid dan memberitahukannya kepada pengusaha, tidak diharuskan bekerja pada hari pertama dan kedua selama masa haid.”

 

FAQ

Bagaimana cara menguangkan cuti tahunan? Dan apa dasar aturannya?

Ada beberapa tahap untuk menghitung cuti tahunan yang bisa terkonversi dengan uang. Mulai dari hitung hak cuti secara prorata, hitung jatah cuti yang masih tersisa, dan kemudian menghitungnya.

Kamu bisa mengetahuinya secara detail melalui artikel berikut ini.

Baca juga: Cara Hitung Cuti Tahunan yang Diuangkan

 

Bagaimana cara mengatur data cuti karyawan dengan mudah?

Cara paling sederhana adalah dengan melakukan pencatatan menggunakan excel. Tapi menggunakan cara ini memiliki banyak kekurangan salah satunya kamu bisa lupa atau dokumennya rusak.

Cara termudah adalah dengan menggunakan aplikasi seperti LinovHR untuk melakukan rekapitulasi berbagai jenis cuti karyawan. Kamu bisa mengetahui lebih lengkap cara mengaturnya di artikel berikut ini.

Baca juga: Mudahkan Kelola Data Cuti Karyawan

 

Apakah keguguran bisa mendapatkan cuti? Bagaimana dengan gajinya?

Tentu bisa. Kondisi seperti keguguran bukan hal yang perlu perhatian dari perusahaan untuk membantu karyawan yang mengalaminya.

Cuti keguguran sudah diatur dalam UU cipta kerja (UU No. 11 tahun 2020) dan pengupahannya ada di pasal 84. Kamu bisa cek artikel berikut untuk mengetahuinya lebih lanjut.

Baca juga: Aturan Cuti Keguguran

 

Apa yang harus diperhatikan jika ingin membuat libur di hari besar atau penggantinya?

Ada beberapa hal yang perlu seorang HR perhatikan saat membuat floating holiday untuk karyawan. Mulai dari penentuan jadwal, kuota, hingga persetujuannya.

Floating holiday juga memiliki beberapa keuntungan untuk karyawan dan perusahaan salah satunya adalah mampu meningkatkan produktivitas karyawan. Berikut artikel yang akan mengulas tentang apa saja yang perlu diperhatikan dan keuntungannya.

Baca Juga: Floating Holiday, Hari Libur yang Bisa Diambil Bersamaan dengan Cuti

 

Kelola Cuti Karyawan dengan Modul Time & Attendance LinovHR

Cara Mengajukan Cuti ESS

Dengan mengenal jenis-jenis cuti di Indonesia, secara tidak langsung anda mengetahui hak-hak anda sebagai karyawan di suatu perusahaan.

Pihak manajemen juga harus memperhatikan hak-hak karyawan yang bekerja diperusahaannya dengan melakukan pendataan sebaik mungkin mengenai jatah cuti dan dibantu dengan Software Absensi LinovHR.

LinovHR memiliki modul Time & Attendance yang memiliki fitur lengkap untuk mengatur cuti karyawan, salah satunya melalui fitur Leaves.

 

fitur time & attendance
fitur time & attendance

 

Dengan memanfaatkan modul Time & Attendance yang berkaitan dengan pengaturan cuti, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi dalam manajemen cuti, mengurangi kerumitan administrasi, dan memastikan keadilan dalam pemberian cuti kepada karyawan.

Selain itu, modul ini juga dapat membantu melacak waktu kerja karyawan secara akurat. Ini mencakup waktu masuk, waktu keluar, serta jeda dan istirahat yang diambil.

Dengan informasi ini, manajemen dapat mengawasi dan menganalisis pola kehadiran serta memastikan kepatuhan terhadap kebijakan waktu kerja.

Manajemen dengan mudah untuk mengatur setiap jatah (kuota) cuti dan siapa saja karyawan yang berhak mendapatkan cuti. Sehingga manajemen cuti dapat lebih efektif.

Tentang Penulis

Admin LinovHR
Admin LinovHR

Akun Admin dikelola oleh tim digital sebagai representasi LinovHR dalam menyajikan artikel berkualitas terkait human resource maupun dunia kerja.

Bagikan Artikel Ini :

Related Articles

Newslater

Newsletter

Tentang Penulis

Admin LinovHR
Admin LinovHR

Akun Admin dikelola oleh tim digital sebagai representasi LinovHR dalam menyajikan artikel berkualitas terkait human resource maupun dunia kerja.

Artikel Terbaru

Telusuri informasi dan solusi HR di sini!

Subscribe newsletter LinovHR sekarang, ikuti perkembangan tren HR dan dunia kerja terkini agar jadi yang terdepan di industri

Newsletter