diversifikasi

Apa Itu Diversifikasi? Berikut Pengertian Dan Manfaatnya!

Pernahkah Anda mendengar istilah diversifikasi?  Istilah ini memang sering sekali disebut-sebut dalam dunia investasi.  Pada dasarnya, diversifikasi sangat erat hubungannya dengan investasi. Tujuan utama dari diversifikasi adalah meminimalisir resiko kerugian dari suatu investasi dan memberikan keuntungan yang lebih maksimal. Lalu, apa sebenarnya diversifikasi itu? Untuk memahaminya lebih lanjut, mari simak ulasan berikut! 

 

Apa Itu Diversifikasi? 

Pengertian diversifikasi menurut Wikipedia adalah upaya penganekaragaman produk (bidang usaha) atau lokasi perusahaan yang dilakukan oleh perusahaan demi memaksimalkan keuntungan sehingga arus kas perusahaan menjadi lebih stabil. Sementara pengertian diversifikasi secara umum adalah perluasan usaha atau penganekaragaman barang & jasa yang bertujuan untuk meningkatkan profitabilitas suatu perusahaan.

 

Jenis-jenis Diversifikasi

Umumnya, diversifikasi dilakukan perusahaan guna mendongkrak keuntungan. Strategi yang dilakukan perusahaan mencakup pengembangan internal produk/pasar baru, rebalancing, akuisisi perusahaan, aliansi dengan perusahaan pelengkap, lisensi teknologi baru, impor lini produk yang diproduksi oleh perusahaan lain, dan sejenisnya.

 

Baca Juga : Tips Agar Produk Tembus Pasar Internasional

 

1. Diversifikasi Vertikal

Diversifikasi vertikal adalah fokus pada laju dari atas ke bawah sehingga memungkinkan perusahaan bisa memasarkan produknya ke banyak perusahaan lainnya. 

Sebagai contoh sebuah perusahaan ban sepeda memasarkan produk ban buatannya sendiri,mereka juga menjualnya ke beberapa perusahaan sepeda pesaing. Dan melakukan kerjasama dengan perusahaan sepeda lainnya untuk membuat ban sesuai permintaan perusahaan tersebut. 

 

2. Diversifikasi Horizontal

Diversifikasi horizontal alurnya bersifat menyamping. Perusahaan memasarkan produk baru yang tidak terkait dengan lini produknya saat ini tetapi mungkin saja produk tersebut dapat menarik pelanggan. 

Hal ini seringkali dilakukan melalui akuisisi, terutama ketika perusahaan ingin menargetkan pertumbuhan yang cepat dan memasuki segmentasi pasar yang lebih luas. Sebagai contoh, perusahaan yang dulunya hanya memproduksi laptop, kini mereka mulai memasuki pasar produk smartphone. 

 

Baca Juga: 7 Dampak Positif Perkembangan Teknologi Bagi Bisnis

 

Diversifikasi Usaha 

Diversifikasi usaha adalah strategi perusahaan untuk memasuki produk atau lini produk baru, layanan baru atau pasar baru, yang melibatkan keterampilan, teknologi, dan pengetahuan yang sangat jauh berbeda. Hal ini bertujuan meningkatkan jumlah penjualan dengan sistem produk baru serta segmen pasar yang baru. 

Dengan begitu, pemilik bisnis akan lebih mudah mengembangkan dan memperluas usahanya sehingga bisa memasuki segmen pasar yang baru dari industri bisnis yang sudah ada.

 

1. Perusahaan Industri Tunggal

Perusahaan beroperasi dan mempunyai pengaruh hanya pada tingkat diversifikasi perusahaan tersebut. Hal ini berarti perusahaan hanya mempunyai komitmen secara total pada satu industri saja dan memakai kompetensi inti dalam mencapai pertumbuhan pada satu industri saja. Sebagai contoh pada perusahaan baja Nucor, perusahaan industri unggas Perdue Farms, dan Perusahaan permen karet Wrigley. 

 

2. Perusahaan Dengan Diversifikasi Berhubungan

Perusahaan yang memperluas usahanya tetapi masih berhubungan dengan usaha yang dirintis sebelumnya. Sinergi operasi perusahaan dapat terjadi pada dua lalu lintas unit bisnis yang meliputi kemampuan membagi sumber daya dan kemampuan kompetensi inti.

 

3. Perusahaan Diversifikasi Tidak Berhubungan

Dimana perusahaan melakukan diversifikasi usaha yang tidak memiliki kaitan erat dengan jenis bisnis sebelumnya. Biasanya ini dilakukan karena terdapat keuntungan besar saat melakukannya. Dan jika keuntungan hanya ditargetkan dalam jangka pendek, maka perusahaan akan dapat mengambil alih perusahaan lainnya.

 

Baca Juga: Mau Lakukan Ekspansi Bisnis? Simak Tips Berikut!

 

Mengapa Perusahaan Perlu Strategi Diversifikasi Usaha? 

Sebenarnya jawabannya sudah sangat jelas, yaitu agar perusahaan bisa mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dan membuat arus kas menjadi lebih stabil. 

 

1. Meningkatkan Volume Penjualan

Dengan melakukan diversifikasi usaha, perusahaan memiliki kesempatan  meningkatkan volume penjualannya.  Sebagai contoh saat Anda menjual barang secara offline, Anda juga bisa membuka olshop sebagai bentuk upaya memasarkan barang tersebut. Dengan begitu, segmen pasar Anda akan semakin luas dan volume penjualannya pun semakin meningkat.

 

2. Membuat Arus Kas  Perusahaan Menjadi Semakin Stabil

Ketika satu produk mengalami penurunan, Anda masih memiliki produk lain yang penjualannya meningkat, sehingga keuntungan dari penjualan produk yang meningkat bisa menutup kerugian akibat penjualan produk yang menurun.  Anda juga bisa mengevaluasi produk yang bisa menghasilkan pendapatan tertinggi, kemudian mendorong pemasaran supaya pendapatan perusahaan Anda semakin maksimal.

 

Cara Melakukan Strategi Diversifikasi Agar Bisnis Tetap Untung

Strategi diversifikasi adalah cara perusahaan melakukan pembagian produk, baik usaha tersebut berhubungan atau tidak memiliki hubungan sama sekali. Ada dua jenis strategi diversifikasi agar bisnis tetap untung, antara lain :

 

1. Strategi Konsentris

Perusahaan memproduksi dan memasarkan lini produk baru yang memiliki sinergi dengan lini produk yang sudah ada, baik dalam hal teknologi, pemasaran atau fungsi bisnis lainnya. Hal ini bertujuan membantu perusahaan memanfaatkan bagian pasar yang belum terjamah sekaligus memberi peluang untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan.  Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang memproduksi plester industri memutuskan memproduksi plester untuk rumah tangga. Teknologi yang digunakan tetap sama, hanya saja upaya pemasarannya yang harus diubah.

 

2. Strategi Konglomerasi

Strategi ini melibatkan pencarian bisnis baru yang tidak ada hubungannya dengan teknologi, produk, maupun pasar saat ini. Strategi konglomerasi ini merupakan strategi yang paling berisiko dibandingkan strategi lainnya.  Umumnya, strategi konglomerasi dilakukan dengan cara menambah jenis produk baru di pasar baru yang tidak memiliki hubungan ataupun kaitan dengan pasar yang sudah ada saat ini.

Beberapa strategi yang biasa diterapkan oleh perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya dengan cara strategi konglomerasi meliputi :

 

 

  • Akuisisi 

 

Akuisisi adalah strategi yang paling terkenal dalam mendiversifikasikan lini usaha pada jenis industri berbeda. Cara ini juga dianggap lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan membuat perusahaan baru yang harus dimulai lagi dari nol.

 

 

  • Pengembangan Internal

 

Strategi ini dapat diterapkan dalam memulai jenis bisnis yang baru dari waktu ke waktu. Hal ini sangat penting bagi perusahaan yang akan melakukan diversifikasi, karena strategi ini melibatkan pengembangan bisnis yang baru dan pembuatannya dari nol.

 

 

  • Kongsi atau Kemitraan (Joint Venture)

 

Kongsi atau kemitraan atau yang lebih dikenal dengan istilah Joint Venture adalah upaya perusahaan untuk mempunyai perusahaan bersama-sama atau dikenal dengan istilah co-ownership dan juga mengoperasikan bisnis tersebut bersama dengan perusahaan lain. 

 

 

  • Masuk Ke Jenis Bisnis Baru

 

Memasuki jenis bisnis baru merupakan cara yang cukup dilematis karena akan dihadapkan dengan berbagai rintangan, misalnya sulitnya menjalin hubungan dengan pemasok, biaya iklan dan promosi yang besar, dan masih banyak lagi. 

Demi kemajuan skala bisnis secara menyeluruh, diversifikasi usaha adalah hal yang sangat penting, tetapi Anda juga harus tetap memperhatikan risiko yang ada agar tidak justru merugikan perusahaan. Buatlah rencana yang benar-benar matang dan terukur sebelum melakukan diversifikasi pada usaha Anda. Karena jika Anda tidak melakukannya, ini hanya akan membawa merugikan bagi Anda akibat pengeluaran bisnis yang melonjak dan terjadi pemborosan pada usaha Anda.