sistem produksi

Sistem Produksi: Pengertian, Jenis, dan Tahapannya

Untuk menghasilkan suatu barang, pastinya dalam setiap perusahaan terdapat kegiatan produksi. Seiring dengan perkembangan teknologi, sistem produksi di Indonesia sudah beralih dari cara tradisional ke cara manual, walaupun masih terdapat beberapa yang menggunakan cara tradisional untuk mengolah suatu produk.

Pada pembahasan kali ini, LinovHR akan mengulas apa yang dimaksud dengan sistem produksi, beserta jenis dan tahapan pengerjaannya. Mari simak artikel di bawah ini!

 

Pengertian Sistem Produksi

Sistem produksi adalah susunan atau rangkaian kegiatan yang saling berkesinambungan agar mencapai suatu tujuan akhir. Selain berhubungan, komponen yang terdapat di dalamnya akan menopang satu sama lainnya sehingga mendapatkan produk yang bermanfaat.

Beberapa komponen yang terkandung di dalamnya terdiri dari dua macam, struktural dan fungsional. Untuk komponen struktural terdiri dari bahan baku, sumber daya manusia, peralatan, mesin, dan informasi. Sedangkan pada komponen fungsional meliputi segala hal yang berkaitan dengan manajemen seperti pengendalian, pengawasan, perencanaan, dan lain sebagainya.

 

Jenis-Jenis Sistem Produksi

Jenis-jenis pada sistem produksi dibagi menjadi dua macam, antara lain:

 

Proses untuk Menghasilkan Sesuatu

Pada jenis yang pertama, adalah suatu proses kegiatan untuk menghasilkan output atau barang. Jenis ini terbagi lagi menjadi dua bagian yang didasarkan atas waktu pembuatannya, yaitu:

 

  • Continuous Process

Continuois Process Adalah waktu produksi yang sifatnya kontinu atau berkelanjutan. Pada proses kegiatan produksi ini nantinya sistem akan menyusun komponen apa saja yang dibutuhkan secara berurut sesuai dengan kegiatan produksi yang dilakukan. Penggunaan bahan pada proses produksi ini pastinya sudah sesuai dengan standarisasi sebelumnya. Biasanya, continuous process sangat cocok untuk diaplikasikan pada perusahaan yang memiliki permintaan atau demand yang tinggi.

 

  • Intermittent Process

Pada proses intermittent process, waktu pengerjaannya dilakukan secara putus-putus. Kegiatan ini biasa dilakukan saat ada permintaan pada suatu produk. Jadi biasanya, proses produksi tidak membutuhkan standar khusus untuk melakukannya. Proses pengerjaan berbeda dari proses sebelumnya karena tidak harus dilakukan secara berurutan dan dapat dilakukan secara fleksibel.

 

Tujuan Operasinya

Sistem produksi berdasarkan tujuan operasinya terdiri dari 4 macam kegiatan.

 

  • Assembly to Order (ATO)

Jenis yang pertama ini umumnya produsen akan membuat desain yang standar dan modul operasionalnya pun juga standar. Selanjutnya, kegiatan produksi akan menghasilkan produk rakitan sesuai dengan permintaan konsumen dan modul. Contoh dari perusahaan yang melakukan jenis ATO ini adalah pabrik mobil atau motor.

 

  • Engineering to Order (ETO)

Jenis ETO adalah perusahaan yang membuat produk costum atau sesuai dengan permintaan konsumen. Jadi, proses produksi akan membuat suatu barang yang sesuai dengan permintaan konsumen mulai dari desain hingga hasilnya. Sehingga sistem yang digunakan biasanya akan disesuaikan juga pada kebutuhan proses produksi

 

  • Make to Order (MTO)

Untuk jenis MTO, pengerjaan produk baru akan dilakukan jika produk yang dipesan sudah diputuskan sendiri oleh konsumen. Jadi, produsen akan mengerjakan pesanan setelah sebelumnya pesanan item telah diterima.

 

  • Make to Stock (MTS)

Pada jenis MTS, produk dibuat untuk menyelesaikan produksinya untuk dijadikan bahan stock atau berjaga-jaga. Sehingga, konsumen tidak akan menunggu pesanan terlalu lama dan langsung bisa mendapatkan produk.

 

Baca Juga : Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Contoh dari Manajemen Produksi

 

Tahapan Pada Sistem Produksi

Untuk membuat suatu produk, terdapat beberapa tahapan yang akan dilakukan oleh produsen atau perusahaan. Apa saja tahapannya?

 

Perencanaan atau Planning

Di tahapan pertama ini, produsen akan melakukan perencanaan untuk mendorong terkoordinasinya perencanaan suatu proses produksi. Pada tahap ini adalah kegiatan untuk menentukan produk apa yang dibuat, jumlah bahan baku yang akan digunakan, jumlah biaya dan tenaga kerja yang akan digunakan, serta perancangan pada bentuk barang.

Pada tahapan ini diperlukan pengetahuan yang baik terkait dengan jenis barang yang diproduksi dan kebutuhannya, dan juga kemampuan dari produsen.

 

Menentukan Alur Produksi atau Routing

Penentuan alur kerja adalah kegiatan untuk menentukan urutan kegiatan produksi. Di tahap ini, produsen akan menentukan alur produksi dimulai dari pengolahan awal bahan baku, pembentukan, pemolesan produk, penyelesaian, pengawasan mutu, sampai distribusi hasil produk. Pembuatan alur harus dibuat secara tepat agar pegawai bisa melakukan setiap alur dengan baik dan benar.

 

Penjadwalan atau Scheduling

Tahap penjadwalan adalah proses untuk menentukan jadwal kapan untuk melakukan produksi setelah menentukan alur. Proses penjadwalan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempertimbangkan jam kerja para pekerja dan lama waktu yang dihabiskan pada setiap alur produksi. Produsen akan membuat Master schedule atau jadwal utama yang nantinya akan dipecah menjadi jadwal yang lebih detail.

 

Perintah Mulai Produksi atau Dispatching

Setelah produsen sudah membuat jadwal produksi, langkah terakhir adalah menentukan perintah untuk memulai produksi. Pada tahapan terakhir ini akan dicantumkan hasil dari perencanaan dan penjadwalan yang sudah dilakukan pada proses sebelumnya.

 

Baca Juga : Apa Bedanya Invoice Digital dan Elektronik? 

 

Agar dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan harapan, tentu saja perusahaan atau produsen harus mengikuti setiap langkah dari sistem produksi. Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya Anda sudah sering bertemu atau terlibat pada kegiatan sistem produksi.

Contoh kegiatan yang sering ditemui misalnya rumah sakit dengan komponennya yaitu dokter, perawat, karyawan, hingga peralatan medis yang akan menghasilkan output pelayanan medis bagi para pasiennya. Atau pabrik-pabrik besar dengan komponen utamanya yaitu tenaga kerja, bahan produk, modal, energi untuk menghasilkan output yaitu barang jadi yang siap pakai. Seluruh kegiatan di atas tentu saja bertujuan untuk menciptakan suatu produk yang akan bermanfaat bagi para pembelinya.

Sekian pembahasan mengenai sistem produksi beserta jenis dan tahapannya. Semoga dapat menambah wawasan Anda untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pembuatan barang.