wanprestasi

Apa itu Wanprestasi? ini Pembahasan Lengkapnya

Dalam suatu perjanjian ada istilah yang cukup familiar untuk didengar yaitu wanprestasi.  Bagi Anda yang masih asing dengan istilah atau pengertian wanprestasi, kali ini LinovHR akan menjelaskan secara lengkap tentang wanprestasi beserta contoh kasus penggunaan wanprestasi.

 

Apa itu Wanprestasi?

Wanprestasi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menindaklanjuti salah satu pihak yang terikat pada perjanjian tetapi tidak melakukan kewajibannya yang telah disepakati bersama..

Dilansir dari kemenkeu.go.id, pengertian wanprestasi dapat dikatakan sebagai tindakan yang tidak memenuhi atau lalainya seseorang untuk melaksanakan kewajibannya sebagaimana telah dibuat pada kesepakatan awal yang dibuat oleh kreditur dengan debitur.

Akibat dari wanprestasi yaitu pihak lain dapat menuntut pembatalan perjanjian dan memberikan hukum kepada pihak yang melakukannya pelanggaran.

Serta pihak tersebut harus menanggung konsekuensi terhadap munculnya hak pihak lain yang dirugikan akibat perbuatan nya. Hal ini akan menuntun kepada pihak yang melakukan wanprestasi agar membayar ganti rugi atau disebut dengan schadevergoeding.

 

Baca Juga : Contoh Pembuatan Surat Perjanjian Kerjasama yang atau MOU Benar

 

Dasar Hukum Wanprestasi

Dasar hukum wanprestasi terdapat pada Pasal 1238 dan Pasal 1243 BW Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer). Pada Pasal 1238 dijelaskan bahwa seorang debitur akan dikatakan lalai pada surat perintah atau akta sejenis atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri bila  seorang debitur lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.

Serta pada Pasal 1238 BW  menjelaskan bahwa biaya ganti, kerugian dan bunga akibat tidak terpenuhinya suatu perikatan yang telah diwajibkan, bila debitur, walau telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi suatu perikatan tersebut atau jika terdapat hal yang harus diberikan atau dilakukannya hanya bisa diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui batas waktu yang telah ditentukan.

 

Baca Juga : 3 Fakta Penting Tentang Perjanjian Kerja Bersama

 

Unsur Wanprestasi

Dari penjelasan dasar hukum diatas mengakibatkan wanprestasi memiliki 3 unsur, yaitu:

  1. Terdapat perjanjian oleh para pihak
  2. Terdapat suatu pihak yang melanggar atau tidak melaksana kan tanggung jawab dari perjanjian yang telah disepakati
  3. Sudah dinyatakan lalai tetapi tetap tidak melakukan kewajiban dari isi perjanjian 

 

Sedangkan menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan menyatakan bahwa seorang debitur dapat dikatakan wanprestasi jika terpenuhinya unsur berikut:

  1. Perbuatan yang dilakukan dalam debitur disesalkan
  2. Mengakibatkan dapat diduga terlebih dahulu baik dalam arti objektif yaitu orang normal mampu menduga bahwa keadaan tersebut akan timbul serta dalam arti yang subjektif, yaitu orang yang ahli bisa menduga keadaan akan timbul. 
  3. Dapat meminta atau diminta untuk pertanggungjawaban atas perbuatannya, artinya bukan orang dalam gangguan jiwa atau lemah akan ingatan.

 

Contoh Kasus Wanprestasi

Pak Adi menyewakan 1 unit gedung toko kepada Pak Rahmat, proses penyewaan tersebut dibuat dalam sebuah perjanjian sewa menyewa bermaterai.

Pada perjanjian tersebut telah tertulis secara detail tentang objek jaminan berikut yang terdapat di dalamnya, nilai sewa, masa berlaku sewa dan bila pihak penyewa melakukan pembayaran sewa secara bertahap atau cicil dijelaskan juga tanggal waktu tempo pembayaran cicilannya.

Pak Rahmat akan berjanji melakukan pembayaran sebanyak 2x tahapan yaitu saat melakukan tanda tangan perjanjian sewa dibayarkan uang muka atau DP sebesar 50%, lalu sisa pelunasannya akan dibayarkan pada bulan berjalan. Lama waktu sewa pada perjanjian tersebut disebutkan selama 20 tahun.

Tapi setelah 10 bulan berjalan dari tanggal yang sudah ditetapkan pada perjanjian, Pak Rahmat tidak bisa membayar sisa pelunasannya dengan alasan yang ia gunakan. Pada perjanjian disebutkan jika pihak penyewa terlambat untuk membayar pelunasan akan dikenakan denda sebesar 10% dari harga pelunasan yang harus dibayar.

Dari kejadian tersebut, Pak Adi sebagai pihak yang menyewakan menempuh jalur hukum melalui pengacaranya dengan mengirim surat somasi atau peringatan hukum kepada pihak penyewa yaitu Pak Rahmat . 

Tapi bila Pak Rahmat mengabaikan somasi tersebut, maka pengacara dari Pak Adi dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan sesuai dengan alamat domisili Pak Rahmat dengan menyertakan hal-hal berikut ini:

  1. Pasal-pasal perjanjian yang telah dilanggar oleh Pak Rahmat
  2. Kerugian baik materiil maupun immaterial yang dialami oleh Pak Adi. kerugian materiil yaitu kewajiban Pak Rahmat harus membayarkan sisa uang pelunasan sebesar Rp. 50.000.000 berikut denda sidebar Rp. 10.000.000 dari harga sewa yang harus dilunasi Pak Rahmat.

 

Sedangkan untuk kerugian immaterial yaitu kerugian akan waktu, tenaga serta pikiran Pak Adi yang tidak bisa berpikir secara fokus pada pekerjaannya sehingga membuat produktivitasnya menurun, kerugian ini bisa dinilai dengan besaran atau jumlah nominal uang tertentu.

  1. Pengacara dari Pak Adi pada gugatannya bisa melakukan permohonan kepada pengadilan untuk meletakkan sita jaminan atas bangunan/tanah/harta benda tidak bergerak milik Pak Rahmat.
  2. Pengacara Pak Adi pada gugatannya juga bisa melakukan permohonan kepada pengadilan agar pihak Pak Rahmat membayar uang paksa (dwangsom) kepada Pak adi setiap hari, setiap lalai Pak Rahmat memenuhi isi putusan dari pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, terhitung dari tanggal putusan pengadilan diucapkan hingga pelaksanaanya.

 

Baca Juga :  Cara Membuat Surat Perjanjian Hutang yang Benar

 

Kesimpulan

Setelah membaca penjelasan dari artikel di atas dapat disimpulkan bahwa wanprestasi merupakan tindakan yang dilakukan jika terdapat kewajiban yang tidak terpenuhi dari suatu perjanjian yang telah dibuat antara dua pihak yang kreditur dan debitur.

Jadi, jika terdapat pihak yang dirugikan dari perjanjian yang telah disepakati karena pihak yang bersangkutan telah melalaikan hal-hal yang seharusnya dilakukan dapat melakukan gugatan pengadilan atas wanprestasi. Sehingga pihak yang lalai harus membayar ganti rugi dengan besaran jumlah tertentu.