Workaholic

Workaholic VS Pekerja Keras: Termasuk yang Manakah Anda?

Di dunia ini ada banyak tipe orang dalam bekerja. Ada yang bekerja dengan santai, bekerja layaknya pion, bekerja dengan semangat, hingga ada yang bekerja dengan berlebihan dan disebut workaholic alias pecandu kerja. Apakah kalian termasuk seorang workaholic tersebut?

Banyak orang yang salah kaprah akan istilah workaholic ini. Mereka sering menyamakan workaholic dengan pekerja keras. Padahal keduanya jelas memiliki perbedaan. Satu lebih bermakna positif, sedangkan yang lainnya menjurus pada sesuatu yang negatif.

Lantas seperti apa sebenarnya perbedaan workaholic dan pekerja keras? Berdasarkan cirinya, termasuk yang manakah kalian?

 

1.     Perilaku Kerja

Hal utama pembeda workaholic dan pekerja kerasa adalah pemaknaan akan bekerja yang mendorong perilaku dalam bekerja itu sendiri.

Seorang workaholic atau workaholism lebih mengarah kepada perilaku negatif akan bekerja. Sebagai mana arti harfiahnya, workaholic adalah pecandu kerja yang berarti bekerja sudah menjadi candu baginya. Seorang yang kecanduan artinya ia sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri.

Dalam artikel di Harvard Business Review mengungkapkan bahwa workaholic memiliki dorongan kompulsif batin untuk bekerja, berpikir tentang bekerja terus menerus, serta merasa bersalah dan gelisah ketika tidak bekerja. Efeknya, penelitian menunjukkan bahwa workaholism lebih cenderung mengalami keluhan kesehatan, meningkatkan risiko sindrom metabolik, masalah tidur, masalah sinisme, emosional, hingga depresi.

Sedangkan pekerja keras lebih kepada perilaku positif akan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras bekerja secara serius untuk menghasilkan kualitas sebaik mungkin dengan tetap mengontrol diri, kapan bekerja dan kapan beristirahat. Pada akhirnya, perilaku pekerja keras tidak begitu berdampak pada kesehatan dirinya. Sebagaimana dalam artikel yang sama dari Harvard Business Review, penelitian menunjukkan bahwa seorang pekerja keras yang bekerja berjam-jam tetapi tdak mengalami masalah akan kesehatan, mereka bisa tidur pulas dan di pagi hari tetap merasa segar.

Jadi, apakah kalian termasuk yang selalu gelisah ketika tidak bekerja atau bisa memisahkan urusan kerja dan luar kerja?

 

2.     Efektifitas dan Efisiensi

Secara kualitas kerja, workaholic ataupun pekerja kerasa mungkin sama baiknya, tetapi akan sangat berbeda dalam kemampuannya dalam melakukan efektifitas kerja dan efisiensi waktu. Jika ada tugas yang harus diselesaikan satu minggu, seorang workaholic mungkin akan menghabiskan 15 jam perhari untuk menyelesaikannya. Tetapi bagi pekerja keras, mereka bisa saja menyelesaikannya hanya dengan bekerja normal 8 jam seharinya. Dengan kualitas hasil kerja yang sama, dapat jelas terlihat bahwa pekerja keras bisa mengoptimalkan apa yang dia miliki. Efektifitas kerja dan efisiensi waktu jelas lebih unggul seorang pekerja keras.

 

Baca Juga :  Pengertian Work Life Balance dan Manfaatnya

 

3.     Motivasi

Setiap apa yang dilakukan tentu memiliki motivasinya sendiri. Begitupun dalam bekerja. Bagi seorang workaholic, bekerja cenderung hanya untuk kepuasan pribadi yang bahkan tak sadar dilakukannya. Mereka bekerja terlalu ambisius dan tidak peduli apakah pekerjaannya itu bisa memperbaiki karirnya atau tidak.

Berbeda dengan pekerja keras, mereka bekerja karena alasan tertentu. Oleh karena memiliki alasan jelas, mereka bisa membatasi diri. Ketika motivasi sudah tercapai, mereka bisa berhenti akan satu pekerjaan tersebut dan memulai untuk pekerjaan baru dengan motivasinya sendiri. Bisa juga dikatakan, seorang pekerja keras lebih realistis dalam menentukan motivasinya.

 

4.     Sosialisasi

Tak berkaitan dengan sifat intovert atau ekstrovert, kemampuan bersosialisasi yang dimaksudkan adalah kearifan dalam membagi waktu kapan bekerja dan kapan berinteraksi dengan teman atau keluarga. Bagi workaholic, hidupnya adalah bekerja dan tidak ada hal lain yang lebih penting dari itu. Jadilah seorang workaholic hampir tidak pernah bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Tentu berbeda dengan seorang pekerja keras. Mereka bisa begitu fokus mengerjakan tugas, tetapi tetap bisa meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan teman dan keluarga. Hal ini kembali berkaitan dengan kemampuannya mengelola waktu sehingga pekerjaan bisa dikerjakan sesuai porsinya.

 

Baca Juga :   7 Bahaya Jika Tidak Memperhatikan Work Life Balance

 

5.     Perfeksionis

Pernahkah terpikir siapa yang lebih perfeksionis antara workaholic dan pekerja keras? Ya, tentu saja workaholic bisa jauh lebih perfeksionis karena hidupnya didedikasikan untuk bekerja. Karakternya yang terlalu ambisius dan tak mau salah dalam mengerjakan tugas, menjadikan pekerjaannya begitu detail.

Tetapi hal ini tidak berarti seorang pekerja keras tidak bisa perfeksionis. Mereka tetap bisa berkarakter perfeksionis namun dalam kondisi yang lebih realistis. Pekerja keras menyadari betul akan tanggung jawabnya tetapi juga memahami kondisi dirinya sendiri.

 

Berdasarkan kelima perbedaan mendasar tersebut, bisa dikatakan bahwa workaholic dan pekerja keras jelas berbeda. Jika kalian cenderung memiliki karakter workaholic, ada baiknya mencoba melakukan sedikit perubahan agar kebiasaan tersebut tidak berdampak buruk pada kehidupan. Penting untuk memikirkan kesehatan dan interaksi dengan orang sekitar. Menjadi rugi jika bekerja justru menyebabkan diri sendiri sakit dan parahnya lagi tidak ada yang peduli.