Gaji Prorata

Gaji karyawan biasanya dikutip secara tahunan dan penuh waktu. Namun, jika seorang karyawan hanya bekerja paruh waktu, atau dalam jangka pendek, maka Anda perlu menghitung gaji dengan metode prorata. Istilah “prorata” dalam bahasa Latin yang berarti “proporsional,”. Perhitungan gaji prorata yang menentukan gaji tahunan secara proporsional, dan hanya mempertimbangkan jumlah waktu yang diperlukan untuk bekerja.

 

Baca juga:Gaji yang besar membawa kebahagiaan? Mungkinkah?

 

Hal ini seringkali terjadi pada pekerja full time untuk mendapatkan keuntungan dengan mengundurkan diri (resign) dari tempat kerja. dan keuntungan lain seperti: unpaid leave, pensiun, liburan, maternity pay, dan paternity leave. Namun, Anda hanya menerima manfaat tersebut sebanding dengan jumlah minggu kerja selama 40 jam.

 

Cara Menghitung Gaji dengan Metode Prorata

Hal pertama yang harus dilakukan untuk menghitung gaji prorata adalah jumlah hari kerja, dari Senin sampai Jumat. Ada perusahaan lain yang menerapkan Senin hingga Sabtu.

Cara 1

Ibu Miranda mengundurkan diri sebagai pekerja full-time di PT. LinovHR Management pada tanggal 12 Mei. Dalam bulan Mei terdiri dari tanggal 1 sampai dengan 31. Itu artinya Ibu Miranda bekerja selama 10 hari. Bagaimanakah metode perhitungannya dan berapa besarnya gaji yang ia terima?

Jawaban:

Dasar Peraturan Ketenagakerjaan untuk perhitungan upah per jam yaitu gaji. Gaji adalah jumlah gaji pokok ditambah dengan tunjangan yang bersifat tetap, kemudian dibagi dengan 173 jam kerja.

  • Waktu kerja dari 1 – 12 Mei terdapat 10 hari kerja

  • Gaji pokok + tunjangan = Rp 10.000.000,-

  • Upah per jam = Rp 10.000.000,- / 173 jam kerja = Rp 57.804,-

  • Gaji 1 – 12 Mei = 10 hari x 8 jam kerja x Rp 57.804 = Rp 4.624.320,- belum dipotong pajak dan potongan lainnya.

Cara 2

Pada pembagian hari, menurut UU Ketenagakerjaan pasal 17 ayat 2, hari kerja kita dihitung secara umum sebanyak 22 hari kerja. Perhitungan 22 hari kerja ini timbul karena dalam satu tahun ada 52 minggu, dimana 260 hari kerja dibagi menjadi 12 bulan.

Pak Juno bekerja sebagai karyawan paruh waktu di perusahaan X. Perusahaan X menetapkan standar jumlah jam kerja untuk karyawan paruh waktu (40 jam), jumlah jam kerja per minggu (28 jam), dan jumlah minggu yang dibutuhkan untuk bekerja (52 minggu) beserta gaji tahunan penuh adalah Rp 22.000.000,-

Jawaban:

  1. Bagilah gaji tahunan penuh waktu dengan 52 jam kerja adalah Rp 22.000.000 / 52 jam = Rp 423.076,-.

  2. Bagilah jumlah dalam langkah 2 (Rp 423.076) dengan jumlah jam penuh adalah 40 jam kerja adalah Rp 423.076 / 40 jam = Rp 10.576,-. Ini adalah tarif per jam Anda.

  3. Kalikan jumlah dalam langkah 3 Rp 10.576 sebagai tarif per jam, dengan 28 jam kerja Anda setiap minggu adalah Rp 10.576 x 28 jam = Rp 296.128,-. Ini adalah gaji mingguan Anda.

  4. Kalikan gaji mingguan Anda (Rp 296.128) dengan 52 minggu adalah Rp 296.128 x 52 minggu = Rp 15.398.656,-. Ini adalah gaji tahunan Anda.

  5. Bagilah gaji tahunan Anda (Rp 15.398.656) dengan 12 bulan untuk gaji prorata Anda adalah: Rp 15.398.656 / 12 bulan = Rp 1.283.221 @ Rp 1.280.000,-.

Perhitungan ini tak terlalu ribet kan? Sistem pembagian ini bisa digunakan juga untuk menghitung lembur. Apabila anda tidak ingin dipusingkan dalam mengelola gaji karyawan, anda dapat menggunakan LinovHR Cloud, yaitu layanan Software HRD dan Payroll terpadu berbasis web yang mengefisiensikan kegiatan administrasi perusahaan anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use theseHTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>