tarif pajak

Taat Pajak dengan Mengenal Jenis Tarif Pajak

Membayar pajak merupakan kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Perpajak tidak hanya terbatas pada pajak individu saja, tetapi juga untuk perusahaan dalam skala apapun.  Jenis tarif pajak masing-masing orang atau perusahaan juga berbeda, tergantung dari pendapatan dan jumlah tanggungan. Apa saja jenis-jenis pajak yang harus Anda pahami sebagai Wajib Pajak? 

 

Pengertian Tarif Pajak

Tarif pajak adalah perhitungan dasar jumlah pajak terhadap objek pajak yang merupakan tanggung jawab dari seorang Wajib Pajak (WP). Masing-masing wajib pajak dikenakan tarif berbeda yang dihitung dengan persentase berdasarkan aturan dari pemerintah. Masih banyak orang awam yang kebingungan membaca dan memahami tarif pajak. Biasanya tarif yang berlaku sudah ditentukan oleh pemerintah yang tertuang dalam undang-undang. 

pemberlakukan pajak sendiri bukanlah untuk kepentingan pemerintah, melainkan untuk kepentingan bersama. pajak adalah salah satu sumber pemasukan negara untuk menunjang pembangunan berbagai prasarana umum seperti sekolah, jembatan, pusat layanan kesehatan, dan sebagainya. itulah sebabnya mengapa Wajib Pajak perlu memahami berbagai aturan dan dasar pengenaan tarif dalam pajak. 

 

Pengelompokan Pajak 

Untuk memahami pengenaan tarif, Wajib Pajak harus memahami pengelompokkan atau klasifikasi pajak terlebih dahulu. Pengelompokan pajak dibagi berdasarkan tiga hal, yakni sifat, golongan, dan lembaga pemungut pajak. 

 

1. Pajak Berdasarkan Golongan

Beberapa pajak dibawah ini dikelompokkan sesuai dengan golongan. 

 

Pajak Langsung

Pertama, pajak langsung merupakan pajak yang ditanggung wajib pajak sendiri. Contoh pajak langsung adalah pajak penghasilan (PPh 21). Ketika gaji karyawan diproses, maka saat itu juga gajinya dipotong pajak yang berlaku.

 

Pajak Tidak Langsung

Kedua, pajak tidak langsung merupakan kebalikan pajak langsung. Maksudnya tarif pajak yang harus dibayarkan kepada pihak lain. Misalnya, pajak bumi dan bangunan (PBB). Jadi, PBB dibebankan ke pihak lain yang bukan pemilik aslinya. Namun, dapat pula dibebankan kepada individu atau pihak tertentu yang menggunakannya.

 

Baca Juga: Syarat Pencairan BPJS Ketenagakerjaan 100% Secara Online

 

2. Pajak Berdasarkan Sifat

Ada juga pengelompokan pajak sesuai dengan sifatnya. pengelompokkan tersebut antara lain: 

Pajak Subjektif

Pajak subjektif merupakan pemungutan pajak berdasarkan kondisi pendapatan seorang wajib pajak. Misalnya, (PPh 21) yang mempunyai komponen Penghasilan Tidak Kena Pajak di dalamnya. Pajak yang dikenakan kepada karyawan dengan penghasilan Rp 5 juta yang belum mempunyai anak tentu saja berbeda dengan pajak yang dikenakan kepada karyawan dengan penghasilan Rp 10 juta tetapi sudah mempunyai anak

 

Pajak Objektif 

Kedua, pajak objektif yang dipungut dengan memperhatikan kondisi atau nilai dari suatu objek pajak, seperti bagaimana jenis bangunan dan jenis barang. Contoh pajak objektif yaitu pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), dan pajak pertambahan nilai (PPN). 

 

3. Pajak Berdasarkan Lembaga Pemungut

Diantara semua pengelompokan pajak, pajak sesuai dengan lembaga pemungutan paling beragam. Jenis-jenisnya antara lain: 

 

Pajak pusat

Yang dimaksud pajak pusat adalah suatu pajak yang diambil oleh pemerintah pusat. Hasil pemungutan pajak digunakan sebagai pengeluaran negara dan biaya rumah tangga negara. Contoh pajak pusat yang dipungut berupa PPh, PPN, PPnBM, dan bea meterai.

 

Pajak Daerah

Sesuai namanya, pajak daerah merupakan pemungutan pajak dilakukan oleh pemerintah daerah. Tujuannya sebagai pembiayaan anggaran pengeluaran rumah tangga daerah (APBD). Pajak daerah lebih dikenal dengan sebutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Contohnya yakni pajak penerangan jalan, pajak kendaraan, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak penerangan jalan, pajak restoran, pajak hotel, dan pajak hiburan.

 

Jenis-Jenis Tarif Pajak

Setelah memahami jenis pengelompokan pajak, mari kenali jenis-jenis tarif pajak yang memiliki nominal berbeda-beda. Berikut penjelasan selengkapnya.

 

1. Tarif Pajak Proporsional 

Tarif dengan persentase tetap meskipun ada perubahan dasar pengenaan pajak. Jadi, ketika nilai objek pajak naik tidak berpengaruh terhadap nilai persentase dari tarif pajak yang dibayarkan. Contohnya tarif PPN dengan persentase 10% dan PBB sebesar 0,5%. Apabila harga motor naik, maka kenaikan harga objek motor tidak mengubah tarif pajak motor yang dibayarkan.

 

2. Tarif Pajak Tetap

Dikenal juga dengan tarif pajak regresif. Tarif dengan nominal tetap tanpa melihat nominal objek yang dijadikan dasar pengenaan pajak. Seperti bea materai Rp 3000 dan Rp 6000 untuk surat perjanjian dan dokumen pajak. Dasar pengenaan tarif tetap juga tercantum dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985. Dimana dokumen-dokumen yang dikenakan tarif pajak tetap, yakni :

  1. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dijadikan alat pembuktian dimuka pengadilan bersifat perdata
  2. Akta notaris dan salinan akta.
  3. Akta yang disusun dan diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).
  4. Surat yang menerangkan penerimaan uang, menyatakan pembukuan, penyimpanan uang pada rekening, pemberitahuan saldo rekening, pengakuan utang.
  5. Surat berharga (wesel, promes, aksep, dan cek).

 

3. Tarif Pajak Progresif 

Tarif pajak yang mengalami kenaikan persentase sesuai dengan besarnya nilai objek dikenai pajak. Jenis tarif satu ini terbagi menjadi tiga yakni :

  1. Tarif progresif-progresif, kenaikan persentase tarif bertambah semakin besar. Dikenakan pada PPh WP secara individu.
  2. Tarif pajak progresif-tetap, memiliki kenaikan persentase tetap.
  3. Tarif progresif-degresif, memiliki penurunan persentase tarif pajak.

 

Baca Juga: Mengenal Jenis-Jenis Subjek Pajak

 

4. Tarif Pajak Degresif 

Jenis ini kebalikan dari pajak progresif. Pajak degresif memiliki nilai persentase akan mengecil apabila nilai objek kena pajak semakin besar. Singkatnya, semakin semakin besar dasar pengenaan pajak, tarif yang berlaku akan semakin kecil. Tarif pajak degresif terbagi menjadi 3 jenis, yakni:

  1. Tarif Degresif-Degresif, jenis degresif murni yang penurunan persentase tarif mengecil.
  2. Tarif Degresif-Tetap, tarif pajak mengalami penurunan dengan persentase selalu tetap.
  3. Tarif Degresif-Progresif, tarif yang penurunan persentase semakin lama bertambah besar.

 

5. Tarif Pajak Ad Valorem

Jenis tarif pajak ad valorem memiliki persentase khusus yang dikenakan terhadap harga barang tertentu. Tarif ini biasanya dikenakan terhadap barang impor. Simak contoh dari tarif pajak ad valorem ini dibawah ini :

Perusahaan XYZ mengimpor 100 unit kulkas yang harganya Rp10 juta per unit. Apabila dikenakan tarif bea masuk impor terhadap barang 20%, hitung bea masuk yang wajib dibayarkan oleh perusahaan.

Nilai barang impor : harga per unit x jumlah unit

: Rp.10.000.000 x 100

: Rp 1.000.000.000 

Perhitungan tarif Bea Masuk : Nilai Barang Impor x Tarif Bea Masuk

: Rp 1.000.000.000 x 20%

: Rp. 200.000.000

 

6. Tarif Pajak Spesifik

Pajak spesifik tarif pajak yang dikenakan terhadap jenis barang tertentu yang biasanya ditujukan atas pembelian kendaraan dan barang mewah. Simak contoh kasus pengenaan tarif pajak spesifik berikut ini.

ABC merupakan perusahaan pengimpor mobil yang berdiri di Indonesia. Perusahaan ini rutin melakukan impor mobil tipe APV dari Italia. Dimana pada Januari 2020 mengimpor 100 unit mobil dengan harga satuan mobil Rp 100.000.000. Tarif bea masuk yang dikenakan atas impor kendaraan yakni Rp 20.000.000 per unit. Hitung total tarif bea masuk yang seharusnya dibayar oleh PT.ABC.

Jumlah mobil tipe APV impor 100 unit.

Tarif bea masuk : Rp 20.000.000

Jumlah bea masuk dibayarkan : Jumlah Unit Mobil x Tarif Bea Masuk Per Unit 

: 100 x Rp 20.000.000

: Rp 2.000.000.000

 

 

Setelah mengenal apa itu tarif pajak dan jenis-jenisnya diharapkan setiap warga negara lebih taat pajak. Sudah menjadi kewajiban bagi warga negara untuk membantu pembangunan negara. Anda dan anak cucu pun dapat menikmati berbagai fasilitas dari pemerintah yang didanai oleh pajak. Ingat, Wajib Pajak taat bayar Pajak!