Apa Itu HSE

Mengenal Apa Itu HSE dan Peran HRD dalam Menerapkannya

HSE adalah salah satu wujud penerapan manajemen risikio yang bertujuan untuk memberikan rasa aman bagi para pelaku kegiatan operasional.

HSE sudah pasti tak asing bagi banyak perusahaan, khususnya perusahaan manufaktur dan konstruksi yang melibatkan banyak alat berat dan mesin.

Penerapan HSE ini berguna untuk melindungi dan menjamin keselamatan karyawan selama bekerja di perusahaan. Dalam perkembangannya, dibutuhkan seorang HSE officer untuk membantu penerapan keamanan dalam perusahaan. 

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai HSE, mulai dari pengertian, fungsi dan penerapannya di perusahaan. Simak selengkapnya!

 

 

Apa itu HSE?

HSE adalah akronim dari health, security, dan environment. Dalam bahasa Indonesia, hal ini disebut juga dengan kesehatan dan keselamatan kerja.

Hal in merupakan bagian dari ilmu manajemen perusahaan yang berfungsi untuk mengelola dan menjamin kesehatan dan keselamatan karyawan selama bekerja. Dalam perkembangannya, kesehatan dan keselamatan juga didukung oleh seorang HSE officer. 

Posisi HSE officer adalah orang yang bertanggung jawab atas penerapan kesehatan dan keselamatan karyawan di lingkungan kerja.  Posisi ini  membutuhkan training HSE serta pemahaman khusus atas pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja.

Karyawan harus mendapatkan sertifikasi dari pelatihan Ahli K3 Umum dan mendapatkan surat penunjukan dari Disnakertrans atau Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Dikutip dari situs Indeed, rata-rata gaji HSE officer adalah Rp4.886.602 per bulan. Namun, besaran ini berlaku untuk fresh graduate dan berpotensi mengalami kenaikan ketika karyawan sudah berpengalaman di bidangnya. 

 

Baca Juga: Lone Worker: Risiko yang Dihadapi dan Cara Menjaga Keselamatan Kerjanya

 

Fungsi HSE

Fungsi HSE (Health, Safety, dan Environment) meliputi beberapa hal berikut ini.

  • Melakukan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko kesehatan, keselamatan, dan lingkungan
  • Menyediakan pelatihan dan edukasi bagi karyawan tentang kesehatan, keselamatan, dan lingkungan
  • Memantau dan melakukan pengukuran kinerja HSE
  • Melakukan investigasi insiden dan mengambil tindakan preventif untuk mencegah insiden terulang
  • Menyediakan dukungan teknis dan saran untuk proyek dan aktivitas operasi
  • Memastikan kesesuaian dengan peraturan HSE yang berlaku.

 

Penerapan HSE di Lingkungan Kerja

Menerapkan Health, Safety, dan Environment dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah sebagai berikut.

 

1. Identifikasi dan evaluasi risiko

Identifikasi risiko kesehatan, keselamatan, dan lingkungan yang mungkin terjadi dalam proses kerja dan evaluasi tingkat risikonya.

 

2. Perencanaan dan pengendalian risiko

Buat rencana pengendalian risiko yang sesuai dengan hasil evaluasi risiko, seperti mengubah proses kerja atau menambah perlindungan kesehatan dan keselamatan.

 

3. Pelatihan dan edukasi

Sediakan pelatihan dan edukasi bagi karyawan tentang kesehatan, keselamatan, dan lingkungan. Hal ini membantu kelancaran implementasi dari HSE.

 

4. Pemantauan dan pengukuran kinerja

Pantau kinerja HSE secara teratur dan lakukan pengukuran untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian risiko. Ukuran sangat penting untuk mengetahui keefektifan penerapan HSE.

 

5. Investigasi insiden

investigasi insiden yang terjadi dan ambil tindakan preventif untuk mencegah insiden terulang.

 

6. Kesesuaian dengan peraturan

Memastikan kesesuaian dengan peraturan HSE yang berlaku.

 

Tugas dan Tanggung Jawab HSE Officer

HSE officer merupakan profesi yang dijalankan oleh seorang profesional yang berkewajiban untuk memastikan seluruh pekerja yang berada dalam lingkungan yang aman dan terjamin kesehatannya.

Berikut adalah beberapa rincian tugasnya.

 

1. Mengidentifikasi Potensi Bahaya

Dalam lingkungan kerja yang melibatkan banyak mesin dan alat berat, kecelakaan kerja lebih berpotensi terjadi.

Segala potensi bahaya wajib diidentifikasi dan dipetakan  lebih dini agar dapat ditangani dan tidak membahayakan karyawan.

Hal yang mencakup hal ini termasuk  bahaya (impact) dan peluang terjadinya bahaya itu sendiri (probability).

 

2. Membuat Perencanaan Preventif dan Korektif

Identifikasi dan pemetaan tentu tak akan optimal tanpa adanya perencanaan yang bersifat preventif dan korektif.  Perencanaan preventif mempunyai tujuan untuk mengurangi terjadinya bahaya dan risiko. Sementara usaha korektif berfungsi untuk  untuk menanggulangi dan mitigasi apabila terjadi kecelakaan. 

 

3. Dokumentasi

Pendokumentasian yang baik menjadi salah satu dari sekian banyak aspek yang berguna untuk menghindari risiko kerja. 

Informasi dalam dokumentasi dijadikan standar baku dalam panduan kerja karyawan yang berhubungan dalam pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja. Hal ini sangat berguna untuk membuat prosedur dan pemeliharaan inventaris perusahaan.

 

4. Evaluasi Kecelakaan

Semaksimal pun pencegahan dilakukan, kadang kala kecelakaan tetap terjadi. Kecelakaan seperti ini wajib dianalisa dan dievaluasi penyebabnya agar tidak terjadi di periode mendatang. Dari evaluasi yang tepat, perusahaan mampu menentukan upaya bagaimana kecelakaan tidak terjadi di masa datang.

 

5. Penghubung Pemerintah dan Perusahaan Mengenai K3

Pemerintah telah menetapkan berbagai peraturan mengenai K3 (kesehatan dan keselamatan kerja). Seorang HSE officer merupakan penghubung antara regulasi pemerintah dan kebijakan perusahaan dan memastikan bahwa semua peraturan karyawan sudah sesuai dengan regulasi K3 dari pemerintah. Dengan begitu aspek legalitas perusahaan pun tetap terjaga. 

 

Baca juga: Tugas, Kualifikasi, Skill, dan Gaji HSE Officer

 

Peran HRD untuk Menyiapkan HSE Terbaik

Penerapan HSE tidak lepas dari HRD. Namun, peranan HRD lebih kepada bagaimana perusahaan mengelola sumber daya manusia yang mampu bekerja secara optimal tetapi tetap terjamin keamanannya. Lalu, apa saja peran HRD dalam mengelola karyawan dan menyiapkan HSE? 

 

1. Mencari Kandidat Karyawan Terbaik

HRD selalu berupaya untuk mencari kandidat terbaik, termasuk dalam mencari karyawan yang berpengalaman dan ahli dibidang K3. HRD dapat memilih kandidat yang telah mengikuti training HSE dan memiliki sertifikasi K3.

Sebab, kesehatan dan keselamatan kerja karyawan bukanlah milik karyawan belaka, melainkan juga bagian dari karyawan. 

 

software hris

HRD dapat menggunakan aplikasi rekrutmen dari LinovHR untuk mendapatkan kandidat yang memenuhi kualifikasi tertentu, seperti K3. Proses rekrutmen dapat lebih mudah dengan perencaaan yang baik melalui fitur Manpower Planning. Serta fitur Candidate yang dapat menampung data seluruh kandidat, sehingga HR dapat membandingkan kandidat satu dengan kandidat lainnya.

 

2. Menyusun Bobot Pelaksanaan K3

Menyusun dan menetapkan bobot pelaksanaan K3 adalah hal penting. Sebab, bobot ini membantu HRD dan Unit K3 untuk evaluasi dan analisis mengenai masalah kesehatan dan keselamatan kerja.

Keberadaan bobot ini juga membantu HRD dalam mengalokasikan dana untuk menyediakan fasilitas kesehatan dan mitigasi apabila kecelakaan terjadi.

 

3. Penyedia Fasilitas Kesehatan dan Keamanan

Selain berperan aktif dalam pengelolaan dan meningkatkan produktivitas, HRD berperan aktif dalam penyelenggaraan fasilitas kesehatan dan kerja  juga berperan dalam menyelenggarakan fasilitas kesehatan dan keamanan.

Contohnya saat karyawan harus bekerja di shift malam, perusahaan wajib untuk  memeriksakan kesehatan rutin. Sebab, risiko bekerja di malam hari cukup besar.

 

Baca Juga: Software Untuk Membantu Membuat Jadwal Kerja Shift

 

4. Mewadahi Pelatihan

HRD akan selalu berhubungan dengan HSE officer. Bersama-sama mereka akan mengadakan pelatihan dan bertanggung jawab untuk menyusun bahan pelatihan atau kurikulum.

HRD pun wajib memahami dan memastikan bahwa semua karyawan dapat bekerja dengan aman dan tentram, salah satunya melalui pelatihan K3.

HRD dapat memanfaatkan modul learning management system dari Software HRD LinovHR untuk menyusun dan mengadakan pelatihan K3 yang sistematis dan matang.

Hal ini berguna untuk meningkatkan budaya keselamatan dalam bekerja. Sehingga karyawan mampu bekerja lebih optimal dan efektif dengan wawasan kesehatan dan keselamatan kerja yang mumpuni. 

 

5. Penghubung Komunikasi Antar Unit

HRD aktif dalam mengumpulkan, menyimpan, dan membagikan informasi seputar keselamatan kerja kepada seluruh karyawan antar divisi atau unit. Apapun jenis informasi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, HRD harus mengkomunikasikan kepada karyawan.

Komunikasi ini sangat berguna untuk memastikan semua karyawan memahami dengan jelas dan tepat apa yang harus diketahui serta mencegah adanya hal-hal yang tidak diinginkan. 

 

Lingkungan kerja yang aman adalah awal dari kinerja yang maksimal optimal. Perwujudan kesehatan dan keamanan kerja adalah tanggung jawab bersama.

Oleh sebab itu semua lapisan dalam perusahaan baik HRD, karyawan, dan manajer wajib memahami dengan benar apa saja yang harus dilakukan agar kerja tetap aman dan nyaman. Itulah serba-serbi yang harus diketahui mengenai HSE.

Semoga informasi ini dapat membantu!