perhitungan pph21

Panduan Lengkap Lakukan Perhitungan PPh 21 THR

Menjelang hari raya Idul Fitri, satu hal yang paling dinanti-nantikan oleh setiap karyawan dalam suatu perusahaan atau instansi pemerintahan adalah Tunjangan Hari Raya (THR). Pastinya Anda termasuk salah satu di antaranya bukan? Jika jawabannya iya, tentunya Anda harus mengetahui dan memahami adanya pengenaan PPh 21 atas THR yang akan Anda terima. Apa saja landasan hukum PPh 21 THR? Apa itu THR? Bagaimana perhitungan PPh 21 THR?

Beserta contoh kasus dan perhitungannya. Semua akan diulas lengkap di dini.

 

Pengertian THR

Tunjangan Hari Raya (THR) akan diberikan perusahaan menjelang Hari Raya Keagamaan (Idul Fitri) kepada seluruh karyawan yang telah memenuhi masa kerjanya selama 1 bulan secara terus-menerus.

Perlu diketahui, bahwa pemotongan Pajak Penghasilan 21 (PPh 21) atas gaji, THR, dan bonus bagi setiap karyawan tidaklah sama. Selain tergantung pada besaran objek pajak yang dikenakan, perhitungan PPh 21 THR juga dipengaruhi oleh kepemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan jumlah tanggungan yang dimilikinya. 

Bisa dikatakan, besarnya tarif PPh 21 THR akan berbeda bagi karyawan yang sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau belum. Hal ini disebabkan karyawan yang tidak memiliki NPWP, akan membayar pajak 20% lebih besar dibandingkan karyawan yang mempunyai NPWP.

Untuk pelaksanaan perhitungan PPh 21 THR sendiri, dilakukan setiap setahun sekali, karena Tunjangan Hari Raya (THR) dan bonus akhir tahun merupakan dua jenis pendapatan non-gaji yang menjadi hak karyawan. Untuk THR sendiri diberikan mendekati Hari Raya Keagamaan untuk semua karyawan yang sudah memenuhi masa kerja 1 bulan secara terus menerus, sementara bonus akan diberikan sebagai penghargaan perusahaan atas dasar kinerja atau prestasi karyawan, misalnya saja untuk bagian marketing yang berhasil menembus angka penjualan yang melebihi target.

Sama seperti gaji, THR dan bonus merupakan jenis penghasilan karyawan yang merupakan objek pajak penghasilan (PPh 21) yang menjadi tanggungan wajib pajak individu atau perorangan. Maka dari itu, di dalam slip gaji yang diterima karyawan, biasanya perusahaan tempat bekerja mencantumkan potongan PPh 21 THR tersebut.

 

Baca Juga: Asal Usul THR di Indonesia

 

Dasar Hukum PPh 21 atas Tunjangan Hari Raya (THR)

Dasar hukum perhitungan PPh 21 THR telah dituangkan dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b Peraturan Dirjen Pajak No. PER-15/PJ/2006 Tahun 2006 bab Perubahan Keputusan Dirjen Pajak No. KEP-545/PK/2000 bab Petunjuk Pelaksanaan, Penyetoran, Pemotongan, hingga Pelaporan PPh 21 dan26. Berkaitan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi (“Peraturan Dirjen Pajak 15/2006”).

Gaji atau penghasilan yang terkena potongan PPh Pasal 21 adalah gaji atau penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai, penerima pensiun atau mantan pegawai secara tidak teratur berupa jasa produksi, gratifikasi, tunjangan cuti, tunjangan hari raya, tunjangan tahun baru, tantiem, bonus, premi tahunan, dan penghasilan sejenis lainnya yang bersifat tidak tetap.

Lalu, bagaimana dengan tarif perhitungan PPh 21 THR?

 

Baca Juga: Siapa yang Berhak Menerima THR Menurut Ketentuan Pemerintah?

 

Tarif Perhitungan PPh 21 THR

Tunjangan Hari Raya termasuk salah satu jenis penghasilan yang bersifat tidak teratur. Lalu, mengapa untuk tarif pajaknya lebih besar? Untuk tarif perhitungan PPh 21 THR lebih besar dikarenakan THR merupakan jenis Pendapatan yang Bersifat Tidak Teratur serta tidak disetahunkan. Sebagaimana telah disebutkan dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor: PER – 31/PJ/2012 Pasal 14 ayat 2 huruf a dan b, yaitu :

 

  1. Perkiraan jumlah upah/penghasilan pegawai yang bersifat teratur adalah jumlah penghasilan teratur dalam 1 bulan dikalikan 12.
  2. Perkiraan pendapatan yang diperoleh selama setahun adalah sebesar jumlah huruf a di atas ditambah dengan jumlah pendapatan yang sifatnya tidak teratur, jika ada tambahan atas upah/penghasilan pegawai yang bersifat tidak teratur”.

 

Untuk perhitungan PPh 21 THR, prinsipnya pajak atas penghasilan (upah ditambah THR) dihitung terlebih dahulu, baru kemudian dikurangi pajak atas upah.

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berfungsi sebagai pengurang penghasilan neto wajib pajak, sehingga dalam perhitungan PPh 21 THR, PTKP menjadi angka yang mengurangi pajak yang harus Anda bayarkan.

Supaya lebih jelas, Anda dapat memperhatikan contoh kasus beserta cara perhitungan PPh 21 THR, berikut ini.

 

Contoh Kasus & Perhitungan PPh 21 THR

Status Fadil adalah sebagai karyawan tetap di PT Cahaya Abadi, sebuah perusahaan elektronik yang menerima gaji Rp 8.000.000 setiap bulannya. Fadil mempunyai istri yang tidak bekerja dan tanggungan seorang anak. Menjelang Hari Raya Keagamaan tahun ini, Fadil mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) satu bulan gaji yang biasa diterimanya, yaitu sebesar Rp 8.000.000. Berapa tarif perhitungan PPh 21 THR Fadil?

 

PPh 21 atas Gaji Fadil

Gaji Bruto Fadil selama Setahun:

Rp 8.000.000 x 12 = Rp 96.000.000

 

Biaya Jabatan

5% x Rp 96.000.000 = Rp 4.800.000

 

Gaji Netto Fadil selama Setahun :

= Gaji Bruto Setahun – Biaya Jabatan

= Rp 96.000.000 – Rp 4.800.000

= Rp 91.200.000

 

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) kategori

Wajib Pajak (WP) kategori K1 (istri tidak bekerja dan tanggungan 1 anak) :  Rp 63.000.000

Rumus Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Gaji Netto Setahun – PTKP K1 = Rp 91.200.000 – Rp 63.000.000

= Rp 28. 200.000

Pajak Penghasilan 21 (PPh 21) Terutang Setahun = 5% x Rp 28.200.000 = Rp 1.410.000

Pajak atas Penghasilan (Gaji dan THR)

Gaji setahun : Rp 96.000.000

THR : Rp 8.000.000

Penghasilan Bruto = Rp 104.000.000

Pengurang

Biaya Jabatan : 5% x Rp 104.000.000 = Rp 5.200.000

Penghasilan Netto Setahun = Penghasilan Bruto – Pengurang = Rp 104.000.000 – Rp 5.200.000 = Rp 98.800.000

Penghasilan Tidak kena Pajak (PTKP) K1

Wajib Pajak (WP) kategori K1 (istri tidak bekerja dan memiliki satu anak) : Rp 63.000.000

Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Penghasilan Netto Setahun – PTKP K1 = Rp 98.800.000 – Rp 63.000.000 = Rp 35.800.000

Pajak Penghasilan 21 (PPh 21) terutang Setahun: 5% x Rp35.800.000 = Rp1.790.000

PPh 21 atas THR (Pajak THR) = PPh 21 terutang Setahun – Pajak atas Gaji = Rp 1.790.000 – Rp1.410.000 = Rp380.000

 

Nah, itu tadi contoh kasus & cara perhitungan PPh 21 THR, sudah jelas bukan.Untuk memudahkan pekerjaan Anda dalam menghitung gaji, THR, bonus, dan potongan pajak PPh 21, Anda bisa menggunakan LinovHR. Aplikasi HRIS online ini tidak hanya menghitung gaji dan THR online, tetapi juga memiliki banyak fitur yang membantu tugas personalia Anda, dari mulai mengelola absensi, cuti, lembur, hingga menghitung dan membayar gaji karyawan.

Setelah menerima THR menjelang hari raya nanti, pastikan Anda menghitung dan membayar PPh 21 THR sebagai salah satu upaya dalam memenuhi kewajiban perpajakan Anda. 

LinovHR akan menyelenggarakan Pelatihan Pajak, praktek perhitungan PPh Pasal 21 dan pengisian e-SPT PPh Pasal 21 terbaru. Training (pelatihan) ini akan sangat bermanfaat bagi perusahaan/instansi yang memiliki jumlah karyawan cukup besar atau grup perusahaan yang memiliki anak perusahaan cukup banyak, dimana pastinya pengelolaan pajak harus dilakukan secara benar dan tepat, agar tidak melanggar aturan perpajakan yang berlaku.

Selain itu pelatihan perpajakan ini juga sangat bermanfaat bagi setiap orang yang ingin meningkatkan skill (kemampuan) di bidang perpajakan agar mampu melakukan kegiatan administrasi pajak terkait PPh Pasal 21 dan pengisian e-SPT PPh Pasal 21 dengan benar sesuai regulasi yang berlaku.

Tunggu apa lagi? Segera daftarkan diri Anda untuk mengikuti Pelatihan Perpajakan dari LinovHR, sekarang juga!