HR

11 Persepsi yang salah Tentang Divisi HR

HRD adalah bagian yang memiliki peran paling penting dalam hal manajemen sumber daya manusia pada sebuah organisasi perusahaan, mulai dari perekrutan karyawan baru hingga meningkatkan kualitas SDM dengan berbagai macam pelatihan baik dilakukan di kantor maupun di luar. Di sisi lain, HRD juga berhadapan dengan berbagai macam persepsi yang salah tentang HR yang beresiko menimbulkan persepsi yang buruk bagi karyawan yang dikelola misalnya perasaan negatif yang ditujukan karyawan kepada HRD ketika ada pengurangan jumlah tenaga kerja, hingga membuat karyawan jadi tidak secara aktif menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan para staff yang bekerja di HRD. Hal ini tentunya bisa menjadi isu internal yang memengaruhi produktivitas perusahaan jika tidak diatasi. Berikut adalah persepsi yang salah tentang HR menurut Forbes.com yang diutarakan oleh para HR profesional yang tergabung dalam Forbes Human Resources Council.

 

HR adalah Substitusi Komunikasi dengan Rekan Kerja

Yang Pertama adalah karyawan dan manajer yang menganggap HR adalah tempatnya orang bisa mengadukan orang lain jika terlihat tidak mengerjakan tugasnya dengan baik, memiliki kebiasaan yang tidak produktif di waktu jam kerja, membuat kesalahan dalam mengerjakan tugasnya, maupun hubungan-hubungan yang sifatnya personal antar karyawan. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, namun ada baiknya antara manajemen dengan karyawan, maupun karyawan dengan karyawan juga membangun komunikasi yang sehat dan tidak selalu mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Meski demikian, adanya keluhan atau aspirasi yang disampaikan karyawan ke bagian HR adalah tanda adanya hubungan yang sehat dan kepercayaan antara karyawan dengan HR.

 

HR Tidak Bisa Mentoleransi Jika Ada yang Menyalahi Proses

Persepsi yang salah tentang HR selanjutnya adalah jika ada karyawan yang menyalahi proses dan prosedur maka siap-siap dipanggil HR untuk diberi sanksi atau peringatan.

Fungsi HR adalah memastikan kinerja operasional perusahaan berjalan dengan baik dan bisa memberikan kontribusi yang positif untuk perusahaan dan menekankan budaya hormat di lingkungan kerja. Meski demikian bukan berarti HR tidak memiliki toleransi untuk kasus-kasus khusus oleh karena itu penting adanya komunikasi yang sehat antara SDM dengan HR agar tidak ada salah paham yang bisa mengganggu kinerja roda perusahaan.

 

Keputusan pemutusan hubungan kerja ada di tangan HR sepenuhnya

Fakta sebenarnya adalah HR memiliki fungsi rekomendasi, tidak memiliki wewenang untuk memutuskan. Kewenangan memberikan keputusan ada di jabatan perusahaan yang tinggi atau yang memiliki hak kepemilikan terhadap perusahaan dan hal ini sering jadi sumber salah paham antara karyawan dengan HR. Meski demikian, posisi HR memang memiliki fungsi yang strategis di mana jika perusahaan tidak mendapatkan hasil sesuai dengan target maka HR bisa mengajukan rekomendasi untuk melakukan pemutusan hubungan kerja dengan tujuan efisiensi biaya pengeluaran perusahaan untuk membayar karyawan.

 

Baca Juga: Inilah Alasan PHK yang Dapat Digunakan oleh Perusahaan

 

HR “hanya” berfungsi sebagai departemen personel

Banyak yang memiliki persepsi yang salah mengenai ruang lingkup kerja HR terutama bagi mereka yang berada di luar sistem perusahaan atau bukan bagian dari perusahaan tersebut. Sejatinya, HR adalah bagian vital pada sebuah perusahaan yang memiliki wewenang dan tugas dalam manajemen sumber daya manusia di mana SDM merupakan aset yang sangat penting dalam operasional perusahaan. Tugas HR tidak sekedar melakukan rekrutmen, mengurus absensi karyawan, dan mengurus surat pengunduran diri. Jika difungsikan dengan maksimal dan memiliki target yang jelas, departemen HR bisa menjadi kunci dari suksesnya sebuah perusahaan.

 

Baca Juga: Apa Tugas Admin HRD?

 

Fungsi HR adalah untuk menghukum karyawannya

Persepsi ini adalah yang paling umum di kalangan karyawan dalam sebuah perusahaan. Banyak karyawan yang menganggap bahwa HR bekerja dengan pendekatan hukuman yang membuat karyawan jadi memiliki rasa yang takut pada HR. Padahal bukan itu fokus HR dalam menjalankan fungsinya. Dalam setiap tindakan yang dilakukan, prinsip yang dipegang HR adalah untuk memastikan SDM memiliki kesempatan yang sama untuk sukses, mengembangkan SDM, dan menciptakan lingkungan kerja agar SDM bisa produktif lebih maksimal.

 

Baca Juga: Surat Peringatan Kerja, Meningkatkan Motivasi Atau Menurunkan Kinerja?

 

HR hanya peduli dengan kepatuhan SDM terhadap aturan

Fungsi HR dalam memastikan setiap SDM di sebuah perusahaan mematuhi aturan yang telah ditetapkan adalah fungsi mendasar tapi bukan satu-satunya. HR memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan pengaruh dan memimpin para SDM di sebuah perusahaan  untuk meningkatkan performa dari perusahaan tersebut. HR memiliki fungsi sebagai konsultan, orang yang bisa dipercaya, dan juga pelatih yang mengintegrasikan bakat dengan keseluruhan operasi bisnis.

 

Kehadiran Orang HR selalu Membawa Ketakutan bagi Karyawan

Jika ada orang HR yang hadir dalam sebuah pertemuan yang diadakan bersama dengan manajer atau pimpinan tim, ketika ada karyawan yang dipanggil untuk ke ruangan HR, yakin sebagian besar orang pasti akan berpikiran ke arah yang negatif. Efek psikologis yang sama ketika Anda dipanggil oleh anggota polisi. Ini adalah persepsi yang salah tentang HR. Karena lagi-lagi, HR memiliki peran yang lain selain hal-hal yang berhubungan dengan perekrutan dan pemutusan hubungan kerja. Sudah sewajarnya HR terlihat hadir dalam pertemuan karena HR adalah bagian dari tim perusahaan dan bisa menjadi penghubung antara perusahaan dengan karyawan.

 

HR akan selalu berada di pihak perusahaan

Bagaimanapun juga HR merupakan produk dari struktur organisasi perusahaan bukan? Sebagian perusahaan yang masih kolot memang masih menerapkan prinsip tersebut dan menjadi praktik sehari-hari di kalangan karyawan. Tapi peran HR dalam bentuk yang sesungguhnya tidak menggunakan dasar seperti itu untuk bekerja. Ketika mempertimbangkan masukan dan sudut pandang yang berbeda dari kedua belah pihak (perusahaan dan karyawan), maka HR akan memperhatikan faktor-faktor yang objektif seperti misalnya kepatuhan terhadap aturan, nilai prinsip perusahaan, budget, dan juga tujuan strategis.

 

Kebijakan HR menyusahkan karyawan

Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh HR adalah aturan yang telah dipertimbangkan sebelumnya yang didasarkan pada kepentingan para karyawan, membangun organisasi agar memiliki lingkungan kerja yang sehat dan bagus, serta agar bisa mempertahankan dan menarik para SDM berkualitas agar loyal dengan perusahaan. Hal tersebut akan salah jika kebijakan yang dibuat hanya untuk membuat hidup karyawan lebih susah.

 

Baca Juga: 7 Peraturan Perusahaan Yang Dibenci Karyawan

 

HR tidak paham dengan manajemen bisnis

Karena peran HR yang fokusnya adalah manajemen orang, maka mereka tidak paham dengan manajemen bisnis sehingga jika dalam pertemuan dengan mitra bisnis ada kehadiran HR, maka orang tidak banyak berharap ada kontribusi signifikan dari HR. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena tentu setiap HR memiliki ruang lingkupnya sendiri-sendiri. Tapi bukan berarti HR sama sekali buta dengan manajemen bisnis karena HR juga punya pimpinan strategis dan pimpinan operasional.

 

HR adalah penghalang jalan

Persepsi yang salah tentang HR baik dari sudut pandang karyawan maupun pimpinan/manajer adalah operasional yang dilakukan HR bisa menghambat jalannya operasional perusahaan yang dimaui oleh SDM. Tentu akan terjadi hal seperti itu jika tidak ada komunikasi yang transparan antara HR dengan SDM. Maka dari itu manfaatkan HR untuk berdiskusi ketika ingin membentuk sebuah tim, ingin menaiki tangga karir di perusahaan, menyelesaikan masalah di lingkungan kerja, dan sebagainya.