Unhappy Leave: Aturan Cuti untuk Karyawan yang Tidak Bahagia

.

Newslater

Newsletter

Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini :

Unhappy Leave: Aturan Cuti untuk Karyawan yang Tidak Bahagia
Isi Artikel

Sebagian besar dari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan jenis cuti seperti cuti sakit, melahirkan, maupun cuti liburan. Namun, tahukah Anda, kalau ada perusahaan di China yang menetapkan unhappy leave untuk para karyawannya?

Untuk mengetahui definisi dan pentingnya arti cuti satu ini dalam menunjang kinerja karyawan, mari simak pembahasannya lewat artikel LinovHR berikut ini.

Pengaruh Kebahagiaan Karyawan Terhadap Kinerjanya

Seperti yang kita tahu, tingkat kebahagiaan karyawan berbanding lurus terhadap kualitas kinerjanya. Ya, kinerja yang optimal biasa datang dari karyawan yang bahagia dan terbebas dari stres.

Hal ini karena karyawan merasa lebih energik dan terdorong untuk menyelesaikan tugas secara efisien tanpa mengorbankan kualitas. Selain itu, karyawan yang merasa bahagia cenderung lebih loyal kepada perusahaan sehingga mampu menekan potensi terjadinya employee turnover di masa mendatang.

Fenomena ini seperti yang pernah dijelaskan oleh Stephen P. Robbins, penulis dan profesor di bidang perilaku organisasi.

Robbins berkata bahwa rasa tidak bahagia karyawan di tempat kerja akan membuat mereka cenderung memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang jenuh sehingga mereka akan bekerja secara kompulsif dan asal-asalan, dan kemudian keluar dari pekerjaannya.

Oleh karena itu, untuk menciptakan kebahagiaan karyawan, perusahaan harus mempertimbangkan berbagai faktor, seperti: Lingkungan kerja yang nyaman, pengakuan dan penghargaan atas kinerja, kesempatan untuk berkembang, work-life balance, serta budaya kerja yang inklusif dan mendukung.

Salah satu cara yang bisa ditempuh perusahaan untuk menciptakan work-life balance adalah menerapkan unhappy leave, yaitu jenis cuti yang bisa diambil ketika karyawan merasa tidak bahagia.

Peraturan Unhappy Leave Perusahaan China

Peraturan unhappy leave memang jarang didengar karena kebijakan ini belum diterapkan secara massal oleh mayoritas perusahaan di seluruh dunia. Oleh karenanya, ketika berita mengenai unhappy leave mencuat di media sosial dan media massa, kabar ini langsung mendulang perhatian.

Kebijakan cuti ini ditetapkan oleh Yu Donglai, pendiri sekaligus kepala perusahaan ritel raksasa di wilayah Henan, Pang Donglai, yang menjalankan bisnis department store dan supermarket.

Mengutip dari liputan6.com, alasan Yu menetapkan aturan cuti unik ini adalah untuk memberi kebebasan kepada karyawannya.

“Setiap orang pasti pernah merasa tidak bahagia. Jadi, jika kamu sedang merasa tidak bahagia, jangan datang bekerja,” ujarnya.

Lewat unhappy leave yang ditetapkan Yu, karyawan boleh menentukan sendiri waktu istirahatnya untuk memperoleh relaksasi yang cukup.

Meski terdengar lucu, Yu memperlakukan kebijakan ini dengan sangat serius. Pihak manajemen dan HRD tidak bisa menolak cuti ini. Jika mereka menolak, maka hal tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran.

Yu dikenal sebagai atasan yang mengutamakan kesejahteraan karyawannya. Selain kebijakan unhappy leave, Yu juga menetapkan aturan lain yang mendukung work-life balance di kalangan pekerja, antara lain: Peraturan bekerja tujuh jam sehari, libur akhir pekan, serta jatah cuti sebanyak 30 sampai 40 hari dalam setahun.

Tentu saja berita mengenai kebijakan Yu ini langsung menuai banyak reaksi positif di kalangan warganet China.

Salah satu pengguna aplikasi Weibo menuliskan, “Bos dan perusahaan budaya yang baik ini harus dipromosikan secara nasional.”

Ada pula yang berkomentar, “Saya jadi ingin bekerja di Pang Donglai. Saya rasa, di sana saya akan mendapatkan kebahagiaan dan rasa hormat.”

Dukungan ini tidak hanya berasal dari para warganet dan pekerja di perusahaan milik Yu, melainkan juga dari sesama petinggi perusahaan besar, seperti Jack Ma (pendiri Alibaba) dan Lei Jun (CEO Xiaomi).

Menurut Jack Ma, kebijakan Yu tersebut bisa menstimulasi cara berpikir baru di kalangan peritel China sekaligus menjadi contoh untuk penerapan kebijakan ramah pegawai pada perusahaan-perusahaan di China.

Baca juga: 15 Jenis Cuti Karyawan Menurut UU Ketenagakerjaan

Berikan Cuti yang Fleksibel dengan Software Absensi LinovHR

Meski di Indonesia sendiri belum ada perusahaan yang menerapkan unhappy leave, tetapi bukan berarti kebijakan cuti tidak bisa diatur supaya lebih fleksibel bagi karyawan. Salah satu cara yang bisa dipakai untuk mengatur cuti secara mudah dan efisien adalah dengan memanfaatkan software absensi.

Software absensi LinovHR menawarkan kemudahan dalam mengajukan izin, sakit, dan cuti lewat aplikasi dan melaporkan ketidakhadirannya secara real time kepada pihak manajemen.

Dengan begitu, proses absensi dapat dilakukan secara cepat dan praktis tanpa perlu melibatkan proses birokrasi yang rumit. Apalagi jika cuti harus diambil secara mendadak.

Melalui software ini, Anda juga bisa merancang jadwal kerja karyawan sesuai dengan kebutuhan operasional bisnis.

Penasaran dengan manfaat dan jenis fitur lainnya? Ayo, ajukan demo gratisnya sekarang juga!

Tentang Penulis

Picture of Amanda Alodyasari
Amanda Alodyasari

Content writing enthusiast. Lulusan sejarah dari Universitas Diponegoro. Hobi membaca dan menulis terkait dunia kerja, HR dan teknologi

Bagikan Artikel Ini :

Related Articles

Newslater

Newsletter

Tentang Penulis

Picture of Amanda Alodyasari
Amanda Alodyasari

Content writing enthusiast. Lulusan sejarah dari Universitas Diponegoro. Hobi membaca dan menulis terkait dunia kerja, HR dan teknologi

Artikel Terbaru

Telusuri informasi dan solusi HR di sini!

Subscribe newsletter LinovHR sekarang, ikuti perkembangan tren HR dan dunia kerja terkini agar jadi yang terdepan di industri

Newsletter