Tipe Atasan yang Buruk

Jadilah pemimpin teladan bukan otoriter

Faktanya : Setiap orang setidaknya sekali dalam seumur hidup pernah memiliki atasan yang buruk sehingga membuat mereka bertanya – tanya tentang masa depannya dengan pekerjaan yang dijalankan.  Bukankah itu menakutkan? Apa yang dibutuhkan agar menjadi seorang pemimpin atau atasan baik dalam skala kecil hingga besar? Beberapa orang, membuat pandangan yang salah dalam memimpin dan dapat berubah menjadi atasan yang justru “meracuni” karyawan. Berikut adalah 4 contoh atasan yang bisa menjadi mimpi buruk bagi bawahan dan bagaimana Anda menghindari menjadi atasan buruk

  1. Atasan yang suka berasumsi.

Satu kesalahan yang mudah tetapi buruk dilakukan oleh atasan adalah membuat asumsi dalam mengambil keputusan saat menilai kinerja bawahan. Penjelasan dan komunikasi adalah dua hal penting yang harus dimiliki pemimpin. Atasan yang baik melakukan komunikasi di awal dan rutin, terutama ketika terjadi masalah dalam timnya maupun dalam perbedaan pendapat. Untuk atasan yang mudah marah terutama hanya dikarenakan melencengnya suatu pekerjaan dari rencana yang telah dibuat, membuat bawahan tidak berkembang. Ketika atasan mudah berasumsi tanpa dasar terhadap bawahan yang memiliki ide yang berbeda dalam menjalankan pekerjaannya. Kita dapat menebak asumsi pada umumnya lebih ke arah yang negatif.

Perbaikannya: Jadilah atasan yang sebisa mungkin transparan saat memberikan respon terhadap bawahannya. Jadilah atasan yang terus terang bukan berbelit – belit.

  1. Atasan yang egois.

Tidak ada hal yang dapat menghancurkan sebuah tim selain pemimpin yang suka dipuji – puji orang atas hasil pekerjaan timnya. Kenyataannya dia tidak memberikaneffortsehingga orang yang benar – benar bekerja menjadi kecewa dan sakit hati. Atasan yang baik memberikan penghargaan pada bawahan atas pekerjaannya. Hal itu akan membuat bawahan bahagia dan bekerja lebih baik lagi.

Perbaikannnya : Perbanyak komunikasi dengan tim untuk mengetahui mengenai hal – hal terkait dalam pekerjaan. Sehingga atasan terjun langsung ke lapangan dan memberikan dukungan terhadap bawahan serta menerima kesalahan bawahannya dengan bijak.

  1. Atasan yang suka marah – marah tidak terduga.

Orang – orang yang tidak beruntung mendapatkan atasan yang memiliki tingkat emosional yang tidak stabil membuat suasana kerja seperti berada dalam set film horor, menegangkan karena setiap saat ada saja yang dimarahi tanpa alasan yang jelas. Semua bawahan yang tiba – tiba dipanggil ke ruangan hanya bisa pasrah selayaknya pin bowling, satu – satunya jalan ialah  diam dan bersiap – siap terkena benturan. Suasana mencekam selalu meliputi ruangan tempat mereka bekerja sehingga kreatifitas dan produktifitas tidak berkembang, bisa dipastikan kalau pekerjaan akan tersendat dan tidak akan maksimal dalam pencapaian target perusahaan.

Perbaikannya : Atasan yang baik selalu bertindak dengan semestinya, bersenang – senang dan serius pada saatnya. Atasan yang lebih banyak senyum membuat ruang kerja menjadi lebih ceria dan berakibat produktifitas dan kreatifitas berkembang didalamnya.

  1. Atasan yang paranoid

Memiliki bos yang sangat paranoid, saking paranoidnya atasan seperti ini akan menahan semua informasi bahkan hingga yang paling umum sekalipun hingga hal – hal yang bersifat operasional yang seharusnya diketahui oleh semua bawahannya. Seolah – olah presiden direktur sendiri tidak mampu memaksa atasan seperti ini untuk bicara mengenai informasi yang diketahuinya.

Perbaikannya : Bersikap jujur dan terus terang dengan orang – orang yang bekerja kepadamu. Bahkan untuk hal – hal yang tidak menyenangkan. Perbuatan ini akan mengarahkan bawahan untuk percaya bahwa atasannya akan selalu mendukung mereka.

Sumber dari Inc. Magazine by Julie Anne Exter edited by Januardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use theseHTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>