Aturan Perusahaan yang Tidak Disukai Karyawan

Mengapa perusahaan harus membuat aturan bekerja? Sebagian aturan dibuat berdasarkan hukum yang berlaku, aturan pemerintah maupun aturan dari gedung tempat yang disewa. Ada juga aturan yang memang masuk akal misalnya aturan yang mengatur akan keselamatan kerja. Tapi terkadang ada juga aturan yang tidak masuk akal dan membuat karyawan berpikir kalau perusahaan tidak bisa mempercayai karyawannya sendiri.

Artikel ini akan memberikan contoh aturan – aturan yang seharusnya tidak perlu dibuat oleh perusahaan dikarenakan terdengar kasar dan negatif. Kira – kira perlukah perusahaan membuat aturan yang menyebutkan kalau kita tidak diperkenankan memukul sesamanya di saat bekerja?

Anda tidak memerlukan aturan semacam itu karena kita tidak bekerja ke kantor untuk memukuli atau dipukuli rekan sekerja. Berkali – kali orang HRD mengatakan kepadaku “ kita memerlukan aturan itu, untuk menghindari aksi pegawai sewenang – wenang.”

Ini juga salah karena semua orang juga menyadari bahwa tidak akan terjadi hal – hal yang tidak berdasar kecuali kita hidup di suatu negara yang memang menerapkan sistem diskriminasi di negaranya. Contohnya Anda warga minoritas yang bersekolah di sekolah yang membagi – bagi kelasnya berdasarkan suku dan ras. Guru yang mengajar disana adalah seorang mayoritas dan dikarenakan merupakan Anda suku minoritas, Anda tidak akan mendapatkan pengacara yang akan membela Anda apabila dikeluarkan dari sekolah tersebut hanya karena masalah pribadi guru tersebut, yang dikarenakan sistem negara berlaku diskriminasi.

Sedikitnya setengah dari aturan yang dibuat perusahaan sia-sia dan justru tidak menghargai karyawannya, ingat karyawan itu bukan anak – anak! Sudah saatnya menyingkirkan aturan – aturan dan kebijakan yang tidak masuk akal. Sekarang kita akan membahas sebagian aturan yang dimana karyawan akan sangat senang apabila aturan atau kebijakan tersebut itu dihilangkan.

Enam aturan yang akan membuat karyawan bahagia apabila dihilangkan :

 

1. Dilarang mengerjakan kerja sampingan

Pelarangan kerja sampingan terhadap karyawan bisa dibilang mengambil hak karyawan. Sebenarnya selama karyawan tersebut masih mengerjakan pekerjaan dengan baik selama jam kerja, perusahaan tidak memiliki hak menahan karyawan untuk mencari uang lebih dari kerja sampingan. Selain mencari uang tambahan terkadang kerja sampingan bisa juga menghidupkan passion karyawan tersebut sehingga dapat dikatakan kerja sampingan menjadi waktu refreshingkaryawan dari padatnya pekerjaan perusahaan. Jadi selama hal yang dikerjakan tidak bersenggolan dengan pekerjaan yang dilakukan, tidak ada orang yang bisa melarang untuk melakukannya.

 

2. Kebijakan ijin dengan surat dokter

Luar biasanya mengenai penyertaan surat dokter ini ialah saat ijin tidak masuk karena sakit misalnya Anda flu dan tidak mendapatkan dokter yang bisa melayani Anda saat itu. Kita adalah orang – orang dewasa yang menyadari kapan kita sakit dan butuh istirahat. Kalau kita menggaji orang – orang dewasa sepantasnya kita memperlakukan mereka selayaknya orang dewasa.

Perlu disadari bahwa kebijakan semacam ini yang membuat orang – orang sekitar di kantor bisa ikut sakit dikarenakan orang pertama yang sakit tidak izin karena tidak mendapatkan surat dokter sehingga memaksakan tetap bekerja sehingga menulari rekan – rekan kerja sekitarnya.

 

3. Kebijakan tidak memberikan Surat Referensi

Pada suatu ketika pernah ada suatu kasus yang diawali surat referensi yang tidak baik terhadap mantan pekerjanya dan kemudian dituntut balik oleh mantan karyawannya dengan fitnah. Pada akhirnya mantan karyawan tersebut memenangkan kasusnya. Sejak saat itu kebanyakan perusahaan melarang CEO atau HRD untuk memberikan surat referensi kepada mantan karyawannya serta didukung oleh tim legal perusahaan karena takut kasus yang terdahulu terjadi kembali.

Hal ini tidak masuk akal karena hak seorang karyawan saat dia memutuskan berhenti dan mencari pekerjaan di tempat lain ialah mendapatkan surat referensi yang baik apabila memang dia sudah bekerja dengan baik sebelumnya. Bagaimana perusahaan akan mendapat rasa hormat dari karyawan apabila perusahaan tidak menghargai karyawannya terlebih dahulu?

 

4. Kebijakan tidak memperkenankan karyawan pindah divisi

Salah satu hukum yang paling kuat di Jagad Raya ini adalah hukum sebab akibat. Kalau Anda memberikan hak untuk para manajer menahan seorang karyawan yang mau pindah ke divisi lain maka itu menyebabkan rasa tidak puas dari karyawan sehingga mereka memutuskan untuk pindah bekerja ke perusahaan lain. Bagaimana itu bisa membantu konsumen Anda atau para pemegang saham dari perusahaan apabila perusahaan Anda memiliki tingkat turnoveryang tinggi?

Dengan menahan laju dari karyawan yang mau berkembang dengan berada pada tim lain maka, seperti hukum sebab akibat dimana hukum yang berlaku saat Anda mengekang seseorang maka orang tersebut akan semakin berusaha keras menjauhi Anda. Hal itu adalah manajemen yang buruk! Biarkan karyawan menentukan bekerja di bagian apa dan kalau para manajer berpikir dia belum siap ya biarkan saja. Lebih baik jika manajer dari divisi yang diinginkan karyawan tersebut yang menarik.

 

5. Kebijakan ijin melayat kerabat meninggal

Seseorang dalam suatu perusahaan suatu saat akan ditinggalkan oleh keluarganya untuk selamanya dan mereka akan mengalami kesedihan yang luar bisa dan membutuhkan dorongan semangat untuk moralnya. Karena itu adalah suatu kejahatan untuk membuat kebijakan seorang karyawan membuat surat laporan kematian untuk kerabatnya yang lagi sekarat karena tidak ada orang normal yang menginginkan kerabatnya meninggal sebelum waktunya.

 

6. Kebijakan diskusi gaji

Sudah menjadi kebiasaan dimana karyawan dilarang untuk berbicara dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh karyawan tertentu sehingga diharuskan menggunakan bahasa resmi yang dimengerti semua orang. Hal tersebut dikarenakan manajer menghindari pembicaraan perihal gaji antar karyawan yang memungkinkan terjadinya kekacauan karena rasa tidak puas. Hal ini adalah hak tiap karyawan membicarakan hal tersebut, apalagi kalau perusahaan tersebut menggaji karyawannya dengan adil maka seharusnya tidak ada yang harus dikhawatirkan.

 

Sekaranglah saatnya untuk mengubah semua aturan yang tidak beralasan. Ini adalah ruang kerja manusia jadi bangunlah peraturan yang kita semua bekerja sebagai orang yang sama – sama memiliki perasaan, ingin dihargai dan dihormati. Saatnya buka mata dan pasang telinga dengan begitu semua orang akan melakukan hal yang sama. Hargai sesama pekerja seperti kita ingin dihargai oleh mereka yang kita pekerjakan.

Ditulis oleh Liz Ryan is the CEO and founder of Human Workplace edited by Januardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use theseHTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>