budayakerja

Budaya Kerja Yang Toxic dan Cara Mengatasinya

Tak bisa dipungkiri bahwa ada budaya kerja yang tidak baik atau disebut Toxic. Toxic di sini dimaksudkan pada budaya kerja yang tidak sehat seperti persaingan demi uang, karyawan suka saling menyalahkan, karyawan lebih sering berbuat salah, suasana kantor yang terkesan suram, dan banyak lainnya. Disadari atau tidak, kondisi ini bisa membuat karyawan menjadi pribadi yang kurang baik. Lebih jauh, budaya kerja toxic juga bisa membuat perusahaan menjadi tidak produktif.

Ketika dihadapkan pada kondisi tersebut, pihak manajerial perusahaan tentu harus bisa mengambil tindakan cepat dan tepat. Jangan menunggu sampai produktivitas perusahaan menurun dan bahkan karyawan terbaik justru memilih untuk resign. Perubahan nyata dibutuhkan di semua tingkatan kerja agar masalah bisa teratasi secara menyeluruh.

 

Berikut beberapa tips cara mengatasi budaya kerja yang toxic tersebut.

1. Identifikasi Perilaku yang Bermasalah

Sebelum mengambil tindakan, Anda harus bisa mengidentifikasi dahulu perilaku atau budaya kerja apa yang bermasalah. Bagaimana caranya? Anda bisa melihat lingkungan kerja dengan lebih kritis. Selain itu, Anda bisa mengidentifikasinya dari beberapa tanda umum yang bisa mencirikan bahwa budaya kerja di perusahaan tersebut cenderung toxic. Tanda tersebut adalah seperti :

  • Adanya perilaku intimidasi antara karyawan
  • Komunikasi antar elemen yang tidak baik
  • Lingkungan kerja penuh perilaku gosip yang berlebihan
  • Angka absensi atau ketidakhadiran yang tinggi
  • Beban kerja dan deadline yang tidak realitis
  • Adanya perilaku workaholic
  • Interaksi antar karyawan atau karayawan dan manajer yang tidak harmonis
  • Sistem Manajemen yang terkesan diktator
  • Kebijakan perusahaan yang diskrimatif
  • Lingkungan kerja yang tidak aman dan nyaman

Kondisi perusahaan mungkin berbeda antara satu dan lain. Tanda-tanda di atas juga tidak harus ditemukan semuanya untuk bisa mengidentifikasi budaya kerja toxic. Beberapa tanda saja atau tanda lain yang tidak tercantum di atas sudah bisa menjadi lampu kuning agar Anda segera mengambil tindakan pembenahan.

 

Baca Juga: 7 Peraturan Perusahaan Yang Dibenci Karyawan

 

2. Evaluasi Akar Masalah

Setelah mengetahui perilaku atau budaya kerja apa yang bermasalah, langkah strategis berikutnya adalah dengan mengevaluasi akar masalah tersebut. Suatu budaya kerja tidak mungkin hadir begitu saja, pasti ada hal yang mendukungnya berkembang.

Evaluasi apakah budaya kerja toxic berakar dari sistem kepemimpinan perusahaan? Seperti bersifat diskriminatif, komunikasi buruk, menganggap karyawan sebagai bawahan, tidak transaparan dan akuntabel dalam keputusan, hingga tidak adanya penghargaan atas prestasi. Jika hal tersebut terjadi, maka Anda perlu melakukan strategi perbaikan.

 

3. Buat Strategi Perbaikan

Ibarat mengidentifikasi penyakit, ketika Dokter sudah tahu sumber penyakitnya maka mereka akan melakan tindakan pengobatan. Begitupun dalam perusahaan, Anda yang sudah mendapatkan hasil dari dua tindakan sebelumnya, maka langkah berikutnya adalah membuat strategi perbaikan.

Perlu diingat bahwa mengobati lebih sulit dari mencegah, artinya Anda harus bersabar dan membuat perbaikan bertahap dengan melakukan skala prioritas. Atasi masalah budaya kerja yang memiliki dampak terbesar dahulu, dengan harapan masalah kecilnya bisa membaik dengan sendiri.

Strategi perbaikan ini bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti :

  • Lakukan komunikasi dengan karyawan agar memperoleh informasi langsung dari mereka yang berperan aktif. Anda bisa melakan hal ini dengan berbicara langsung satu persatu, mengadakan pertemuan diskusi, atau melakukan survei. Dari komunikasi itu, anda bisa meminta pendapat mereka dalam upaya mencari solusi.
  • Beri Informasi yang transaparan kepada karyawan. Hal ini dilakukan dalam hal pekerjaan agar mereka memahami konteks tanggung jawabnya tanpa harus kebingungan jika mengalami kesulitan. Buka ruang komunikasi baik secara individu ataupuan melalui rapat mingguan.
  • Beri beban kerja dan deadline yang masuk akal. Jangan memaksakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan realtitas waktu. Sebagai manajer atau pimpinan, Anda selayaknya sudah bisa memprediksi tenggat waktu setiap pekerjaan sehingga selayaknya bisa bersifat adil akan hal tersebut.
  • Beri apresiasi jika pekerjaan dilakukan dengan baik. Sampaikan secara langsung jika Anda merasa puas dengan hasil yang dibuat karyawan agar mereka merasa dihargai. Ciptakan juga lingkungan yang baik dan beri dorongan agar mereka bisa meningkatkan kinerjanya.
  • Perlakukan karyawan secara adil. Hal ini tentu penting agar tidak terjadi kecemburuan yang biasanya menjadi penyebab budaya kerja yang tidak baik lantaran ada persaingan tidak sehat.

Cara-cara tersebut tentu harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Anda mungkin butuh cara lain yang lebih sesuai dengan tantangan yang dihadapi.

 

4. Evaluasi Strategi Perubahan

Strategi yang sudah dilaksanakan tentu butuh dievaluasi. Lihat setelah beberapa bulan penerapan, apakah strategi yang sudah dilakukan menghasilkan perubahan atau tidak. Anda juga bisa melakukan evaluasi dengan melibatkan pihak ketiga seperti konsultan atau sejenisnya. Hal ini penting untuk melihat perspektif berbeda yang bisa menjadi input positif. Penilaian dari pihak ketiga juga bisa lebih objektif sehingga langkah perbaikan menjadi lebih tepat.

 

Baca Juga: Cara Menerapkan Budaya Bottom-Up Menjadi Budaya Kerja Di Perusahaan Anda

 

Budaya kerja toxic harus diatasi agar tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi perusahaan. Namun perlu diingat bahwa merubah budaya adalah sebuah proses. Ketekunan dan kesabaran diperlukan untuk menghadirkan hasil yang sepadan. Selain itu, sebagaimana artikel yang dipublikasikan Harvard Buisness Review, Psikolog Heidi Gant juga menyarankan untuk Anda meluangkan waktu untuk introspeksi diri. Pastikan Anda tidak menjadi bagian dari budaya kerja toxic tersebut.