off the job training

Off the Job Training: Melatih Karyawan di Luar Tugas Utama

Kemampuan karyawan biasa dikembangkan melalui pelatihan. Dengan pelatihan diharapkan karyawan mampu menguasai keterampilan yang akan menunjang performa.  Ada berbagai macam jenis pelatihan yang diselenggarakan HRD untuk karyawan. Off job training adalah salah satunya. Simak ulasan LinovHR berikut ini! 

 

Apa itu Off The Job Training? 

Jika merujuk ke nama, off job training adalah sebuah pelatihan yang diselenggarakan secara terpisah dari pekerjaan utama. Jadi, karyawan baru bisa memulai pekerjaan sesungguhnya setelah menyelesaikan pelatihan dengan baik. Off job training berfokus kepada pengembangan dan edukasi jangka panjang, sehingga menciptakan karyawan unggulan yang siap berkontribusi dalam perusahaan. Selama pelatihan, karyawan akan diawasi oleh trainer atau pelatih yang lebih ahli dan berpengalaman. 

 

Perbedaan On The Job Training dan Off The Job Training

Jika dilihat sekilas, off job training dan on job training hampir sama. Padahal perbedaanya sangat jauh. Perbedaan tersebut antara lain: 

 

Biaya dan Waktu

Perbedaan on job training dan off job training yang paling terlihat adalah dari sisi biaya dan waktu. On the job training memerlukan biaya dan waktu yang lebih singkat. Hasil yang diharapkan pun jauh lebih cepat karena karyawan dapat mempelajari semua keahlian dalam waktu singkat. Sedangkan off the job memerlukan waktu dan biaya yang agak banyak. Namun, hasil yang didapatkan dapat berguna dalam jangka panjang. 

 

Pendekatan

Hal lain yang membedakan kedua jenis training ini adalah dari segi pendekatan. Dalam on job training, pendekatan yang digunakan lebih ke praktikal. Sementara pelatihan yang terpisah dengan pekerjaan utama lebih bersifat teoritis. 

 

Baca Juga: Pengertian dan Manfaat E-Learning dalam Perusahaan

 

Lokasi 

Dalam melaksanakan on job training, lokasi harus dilakukan di tempat kerja. Sedangkan pelatihan yang dilakukan di luar pekerjaan utama harus dilakukan di lokasi yang jauh dari tempat kerja. Hal ini berguna agar karyawan yang melakukan pelatihan tidak mengganggu operasional utama perusahaan. 

 

Kelebihan Off The Job Training

Dikutip dari BBC, di bawah ini adalah beberapa kelebihan off job training:

  1. Pelatihan di luar pekerjaan dapat membawa ide-ide baru ke dalam bisnis. Dengan begitu perusahaan dapat semakin solid dengan proses inovatif dan kreatifitas dari karyawan.
  2. Dengan metode ini, karyawan yang baru diangkat dilatih di luar area produksi dan tenaga terampil dan terlatih melakukan pekerjaannya. Jadi, itu menurunkan kesalahan produksi
  3. Trainee tidak diperbolehkan bekerja di tempat kerja yang sebenarnya. Sehingga proses produksi tidak akan terganggu dan karyawan yang ada dapat melakukan pekerjaannya dengan lancar

 

Kekurangan Off The Job Training

Terlepas dari beberapa kelebihan, ada kekurangan dari off job training, antara lain: 

  1. Karyawan harus dilatih dalam beberapa waktu tertentu. Pastinya pelatihan ini memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. 
  2. Ada resiko karyawan yang baru dilatih tersebut akan meninggalkan perusahaan. Hal ini jelas akan merugikan perusahaan yang telah berinvestasi kepada karyawan.
  3. Perusahaan berpotensi kekurangan produksi. Sebab, karyawan tidak tidak boleh ambil bagian dalam proses produksi. Jadi, produksi perusahaan dapat terhambat.

 

Baca Juga: Manfaat Pelatihan dan Pengembangan SDM bagi perusahaan

 

Cara Menyusun Off The Job Training

Untuk menyusun off job training, HRD dan pihak manajerial harus merumuskannya dengan detail dan dalam. Berikut ini adalah cara menyusunnya: 

Perencanaan Pelatihan

Buatlah daftar kualifikasi atau kemampuan yang harus dikuasai oleh karyawan berikut dengan durasinya. Jangan lupa untuk mempertimbangkan  Pertimbangkan jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. Agar mencegah karyawan yang mengikuti pelatihan mengajukan resign dan beralih ke perusahaan lain, tetapkan kontrak dan regulasi yang tegas selama pelatihan. 

 

Diskusi dengan Manajer

Perencanaan tidak akan lengkap jika tidak melibatkan manajer atau supervisor. Sebab, manajer adalah pihak yang paling tahu benar apa saja pekerjaan tiap divisi berikut skill yang harus dikuasai. HRD juga dapat meminta bantuan dari manajer untuk memilih trainer atau pelatih yang akan melatih karyawan. 

 

Implementasi 

Langkah selanjutnya adalah implementasi. Selama implementasi, karyawan akan mengikuti serangkaian program dan regulasi yang telah ditetapkan. Selesai pelatihan, diharapkan karyawan menguasai kemampuan yang sudah dilatih. 

 

Monitoring 

Monitoring sangat penting untuk mengetahui perkembangan karyawan yang mengikuti pelatihan. Tanpa monitoring yang ketat, HRD akan sulit untuk melacak dan mengetahui perkembangan karyawan. Dari monitoring juga HRD dapat mendeteksi karyawan mana saja yang kurang disiplin selama pelatihan. 

 

Evaluasi 

Tahapan yang paling akhir adalah evaluasi. Tahapan evaluasi diperlukan untuk mencari tahu bagaimana implementasi berlangsung dan pengaruhnya terhadap karyawan. HRD dapat menilai apakah pelatihan berjalan sukses melalui tahapan evaluasi 

 

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, muncul sebuah pertanyaan menarik. Apakah off job training cocok digunakan di semua perusahaan? Jawabannya adalah tidak. Berbagai perusahaan memiliki operasional yang berbeda. Tentu saja perbedaaan tersebut akan berpengaruh terhadap metode pelatihan yang tepat. Contohnya, pelatihan di luar pekerjaan tidak akan cocok di perusahaan manufaktur yang harus mengejar produksi demi memenuhi kebutuhan pasar. 

Untuk merancang off job training, HRD harus merumuskan semua materi, periode, regulasi dengan tepat dan rinci. Software HRD dari LinovHR melalui modul learning and development dapat membantu HRD merancang program pelatihan dengan sistematis. Hubungi LinovHR untuk mendapatkan demo gratis hari ini!