Resiliensi

Resiliensi : Pengertian Dan Manfaatnya Bagi Kinerja Karyawan

Membangun organisasi berkinerja tinggi yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan sistemik dan terpadu yang akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, peningkatan penjualan, kepuasan pelanggan, dan retensi karyawan”.

Kinerja karyawan sangat berpengaruh pada kesuksesan perusahaan dalam mencapai tujuannya.  Banyak sekali sifat karyawan yang mempengaruhi motivasi mereka dalam bekerja, ada karyawan yang melakukan pekerjaannya dengan santai, ada yang mudah frustasi, mudah belajar, tidak bisa bekerja sama dalam tim dan sebagainya.

 

Baca Juga: Tingkatkan Kinerja Karyawan Dengan 7 Hal Ini

 

Sifat-sifat yang dimiliki masing-masing individu tersebut secara langsung akan mempengaruhi efektivitas mereka dalam melakukan pekerjaannya, atau dengan kata lain mempengaruhi kinerja karyawan di perusahaan dimana mereka bekerja.

Resiliensi karyawan seringkali dikaitkan dengan kinerja dan produktivitas karyawan, karena resiliensi merupakan bentuk kemampuan atau kekuatan yang dibutuhkan setiap orang. Lalu, apa sih sebenarnya resiliensi itu, apa saja manfaatnya bagi karyawan, dan bagaimana cara meningkatkannya?

 

Pengertian Resiliensi

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi, tetap teguh dalam situasi sulit, terus mencoba mencari jalan keluar dari masalah, dan meningkatkan diri dari keterpurukan, dengan merespon secara sehat dan produktif untuk memperbaiki diri, sehingga mampu menghadapi dan mengatasi segala tekanan hidup.

Menurut analisa, resiliensi dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda dan hampir tidak ada satupun individu yang  memiliki seluruh kemampuan tersebut dengan baik.

Tujuh kemampuan tersebut terdiri dari :

1. Efikasi Diri

Efikasi Diri juga dikenal dengan kepercayaan diri, yaitu keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif, serta mampu bangkit dari kegagalan yang dialaminya.

Tingginya tingkat efikasi diri akan membuat seseorang mempunyai komitmen dalam memecahkan masalah dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakannya tidak berhasil. Selain itu, mereka tidak merasa ragu dan mudah dalam menghadapi tantangan baru, karena memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. 

 

2. Regulasi Emosi

Regulasi Emosi adalah kemampuan untuk mengatur emosi diri (mengendalikan diri) dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun. Regulasi emosi memungkinkan seseorang untuk tetap bersikap tenang walaupun sedang berada di bawah tekanan yang besar.

Menurut Reivich dan Shatté (2002), regulasi emosi dipengaruhi oleh dua hal, yaitu ketenangan (calming) dan fokus (focusing). Seseorang yang mampu mengelola kedua hal ini, dapat membantu meredakan emosi mereka, memfokuskan pikiran dan mengurangi stress.

 

3. Pengendalian Impuls (Impulse Control)

Pengendalian impuls merupakan kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. 

Rendahnya tingkat pengendalian impuls akan membuat seseorang mengalami perubahan emosi dengan cepat dan cenderung mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, serta berlaku agresif pada situasi-situasi kecil yang tidak terlalu penting, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan pada lingkungan sekitar.

 

4. Analisis Penyebab Masalah (Analyzing Ability)

Analisis Penyebab Masalah adalah kecakapan melakukan analisa, yaitu mengurai dan menganalisa komponen kejadian atau masalah, lalu merumuskan langkah perbaikan. Kecakapan ini dapat dibentuk dari pendidikan dan latihan secara terus menerus.

 

Baca Juga: Tingkatkan Kemampuan Problem solving Dengan 8 Cara Ini

 

5. Optimisme

Optimisme adalah kemampuan untuk tetap berpikir dan berpandangan positif, serta bertindak konstruktif dalam situasi apa pun. Seseorang yang optimis tidak akan pernah putus asa, selalu memiliki harapan positif untuk masa depannya, dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah hidupnya.

Dari penelitian yang dilakukan, orang yang optimis lebih sehat secara fisik, lebih jarang mengalami depresi, lebih baik di sekolah, lebih produktif dalam kerja, dan lebih banyak menang dalam olahraga.

 

6. Empati

Empati merupakan kemampuan seseorang untuk merasakan dan membaca tanda-tanda psikologis dan emosional orang lain. Seseorang yang berempati memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan memahami orang lain sehingga mampu merespon dengan tepat terhadap emosi dari orang tersebut.

Seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif.

 

7. Peningkatan Aspek Positif

Resiliensi meliputi kemampuan peningkatan aspek positif dalam kehidupan sehari-hari.Peningkatan Aspek Positif merujuk pada kemampuan untuk senantiasa menambah nilai positif dalam diri seseorang.

Hai ini akan membuat seseorang mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, memiliki makna, dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan. 

 

Manfaat Resiliensi Bagi Karyawan

Resiliensi sangat dibutuhkan oleh setiap orang karena akan menjadi sumber kekuatan yang membuat mereka mampu bertahan dalam situasi apapun.

Berikut adalah beberapa manfaat resiliensi bagi karyawan :

  • Karyawan mampu menghadapi kesulitan dan trauma dalam bidang kerja
  • Karyawan dapat mencari pengalaman-pengalaman baru yang menantang karena mau belajar dan berjuang menghadapi kesulitan
  • Mendorong diri sendiri untuk mencapai tujuan sehingga mampu mengembangkan diri
  • Ketika ada masalah, karyawan tersebut mampu menyelesaikan konflik dan mengubah situasi yang mengganggu ke arah yang lebih baik. Ia akan belajar dan menjadi lebih sukses serta merasa puas dari proses sebelumnya

 

Cara Meningkatkan Resiliensi Karyawan

Resiliensi karyawan adalah kemampuan yang dimiliki karyawan untuk mengembangkan resiliensi diri dalam lingkungan kerjanya. 

Berikut adalah beberapa cara meningkatkan resiliensi karyawan, diantaranya adalah :

 

1. Memberikan Beban Kerja secara Bertahap

Beban kerja yang diberikan secara bertahap memberikan kesempatan bagi karyawan baru untuk lebih merasa percaya diri akan kemampuannya dan memberikan waktu bagi karyawan baru untuk terbiasa dengan ritme, budaya, dan beban kerja perusahaan. 

Dengan demikian, resiliensi karyawan dapat dilatih dan dipupuk sedikit demi sedikit. Karena itulah, perusahaan perlu memberikan beban kerja secara bertahap, terutama bagi karyawan baru. 

 

Baca Juga: Fungsi Analisa Beban Kerja Untuk Perusahaan

 

2. Mengadakan Outbound Workshop

Outbound merupakan salah satu cara untuk mensimulasikan kondisi dan tantangan dalam suasana yang menyenangkan. Karyawan yang menunjukkan performa baik dalam outbound bertantangan menunjukkan peningkatan kemampuan regulasi diri.

Dengan peningkatan kemampuan regulasi diri ini, diharapkan akan terbawa ketika karyawan tersebut berhadapan dengan tantangan kerja yang nyata. Semakin karyawan mampu mengalahkan tekanan yang datang, semakin matang dan kuat resiliensi karyawan tersebut.

 

3. Reward and Punishment Program

Reward and punishment program termasuk salah satu penerapan metode psikologi tingkah laku. Meskipun reward and punishment program merupakan bentuk dorongan dari luar, bukan berarti tidak mempengaruhi internal karyawan. 

Dorongan dari luar yang memaksa karyawan melakukan atau tidak melakukan sesuatu dapat membekas dalam jangka panjang. 

 

Baca Juga: 7 Strategi Efektif HRD Dalam Penyusunan Sistem Reward dan Punishment

 

4. Pendidikan dan Pelatihan

Upaya untuk meningkatkan kemampuan analisa karyawan, dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang kerjanya. Hal ini dapat mengembangkan kemampuan analisa karyawan tersebut dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan pada akhirnya mampu meningkatkan resiliensi karyawan tersebut.

 

5. Bimbingan Spiritual

Sangat disayangkan, banyak pakar manajemen yang tidak memperhitungkan unsur spiritual. Padahal bimbingan spiritual diyakini mampu merubah seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.

Oleh karena nya, perusahaan dapat menyediakan bimbingan spiritual bagi karyawan secara berkala agar resiliensi karyawan tetap terjaga.

 

6. Employee Volunteering

Kegiatan ini mengarahkan karyawan untuk mengikuti kegiatan sukarelawan dengan berbagi atau menolong orang lain yang membutuhkan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan empati, melembutkan hati, dan menghaluskan budi pekerti. Para karyawan pun dapat mengasah empati dan resiliensinya dengan baik.

 

7. Merutinkan Program Peningkatan Resiliensi Karyawan

Peningkatan aspek positif dapat terwujud apabila program-program positif dilakukan dalam jangka panjang.Oleh karena itu, dibutuhkan konsistensi dalam menjalankan semua program resiliensi di atas.