Mengenal Metode Absolute Rating dalam Penilaian Kinerja

.

Newslater

Newsletter

Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini :

Mengenal Metode Absolute Rating dalam Penilaian Kinerja
Isi Artikel

Melakukan penilaian kinerja karyawan terbilang cukup tricky. Perusahaan harus bersikap seobjektif mungkin sehingga diperoleh hasil yang valid sebagai bahan evaluasi.

Maka dari itu, digunakan absolute rating sebagai metode untuk melakukan penilaian. Apa dan bagaimana teknik penilaian lewat metode satu ini? Artikel ini mengupas secara lengkap mengenai absolute rating.

Apa Itu Absolute Rating

Mudahnya, absolute rating adalah metode evaluasi yang dipakai untuk mengukur kinerja, kualitas, dan nilai suatu entitas tanpa membandingkannya dengan kinerja, kualitas, dan nilai entitas lainnya.

Dalam konteks evaluasi kinerja, absolute rating dilakukan dengan memberi nilai berdasarkan standar dan kriteria tertentu yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dan bukannya berdasarkan perbandingan dengan karyawan lainnya.

Perbedaan Teknik dalam Absolute Rating

Terdapat berbagai teknik yang dipakai dalam melakukan absolute rating. Beberapa cara cenderung lebih cepat, sementara teknik lainnya mungkin memakan waktu yang cukup lama. Apa saja teknik-teknik tersebut?

1. Essay Method (Metode Esai)

Lewat teknik essay method, pemberi nilai menulis esai atau narasi mengenai kinerja individu. Isinya mengenai detail kekuatan dan kelemahan yang dimiliki pekerja serta contoh spesifik dari kinerja mereka.

Dengan memakai teknik ini, penilai dituntut untuk deskriptif dan ekspresif dalam menuliskan penilaiannya sehingga memakan waktu yang cukup banyak.

Berikut contoh penilaian dengan metode esai:

“Karyawan punya dedikasi tinggi serta berinisiatif dalam menjalankan berbagai proyek besar. Salah satu contohnya adalah saat dia berhasil memimpin tim untuk menyelesaikan proyek penting dalam waktu singkat.”

2. Critical Incident Method (Metode Insiden Kritis)

Pada metode satu ini, penilaian dilakukan berdasarkan kejadian atau insiden kritis yang menggambarkan kinerja luar biasa, entah baik atau buruk maupun berhasil atau tidak, yang dilakukan individu. Kejadian tersebut dicatat oleh penilai serta dipakai untuk menilai kinerja.

Contoh:

Insiden Kritis: Karyawan berhasil menyelesaikan proyek penting sebelum tenggat waktu, menunjukkan inisiatif tinggi dan kerja keras.

3. Checklist Appraisal Method (Metode Daftar Periksa)

Metode ini menggunakan daftar periksa kriteria yang harus diisi oleh penilai dengan mencentang (check) apakah kriteria tertentu dipenuhi atau tidak. Jawabannya singkat, hanya berupa ‘ya’ atau ‘tidak’.

Contohnya:

  • Karyawan datang tepat waktu: [Ya] [Tidak]
  • Karyawan menyelesaikan tugas sesuai jadwal: [Ya] [Tidak]

4. Forced Choice Appraisal Method (Metode Pilihan Paksa)

Pada teknik ini, penilai harus memilih antara dua atau lebih pernyataan yang paling menggambarkan kinerja individu, dan setiap pilihan telah diberi bobot nilai tertentu.

Contoh:

Pilih salah satu:

  • (a) Karyawan selalu menyelesaikan tugas tepat waktu.
  • (b) Karyawan sering membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan tugas.

5. Graphic Rating Scales

Pada metode ini, kinerja individu diukur oleh penilai melalui skala grafik 1 sampai 5, dengan 1 sebagai level ‘sangat buruk’ dan level 5 sebagai level ‘sangat memuaskan’.

6. Behaviorally Anchored Rating Scales (BARS)

Metode BARS menggabungkan elemen graphic rating scales dan critical incident dengan menggunakan skala penilaian dengan contoh perilaku spesifik yang mencerminkan berbagai tingkat kinerja.

Contoh:

Skala 1-5 dengan deskripsi perilaku:

  • Skala 1: Karyawan seringkali terlambat serta tidak mampu memenuhi tenggat waktu.
  • Skala 3: Karyawan tepat waktu serta dapat memenuhi sebagian besar tenggat waktu.
  • Skala 5: Karyawan selalu tepat waktu dan selalu memenuhi atau melampaui tenggat waktu.

Manfaat Absolute Rating

Oleh karena penilaiannya yang cenderung bersifat objektif tanpa adanya perbandingan dengan karyawan lain, metode absolute rating memiliki berbagai manfaat, di antaranya:

1. Penilaian Lebih Objektif dan Akurat

Metode satu ini dilakukan berdasarkan standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan begitu, penilaian akan lebih objektif karena tidak dipengaruhi oleh kinerja orang lain.

Hal ini akan menghindari penilai dari bias komparatif yang biasa muncul dalam metode relative rating, seperti halo effect dan leniency error. Halo effect merupakan bias kognitif di mana seseorang membuat sebuah kesimpulan atas sesuatu atau seseorang berdasarkan satu faktor saja.

Sementara itu, leniency error adalah kecenderungan individu untuk menilai orang lain dengan lebih positif dibanding yang seharusnya mereka terima terlepas dari kinerja mereka yang sebenarnya.

2. Lebih Adil dan Konsisten

Oleh karena penilaian didasarkan oleh standar yang sama, maka seluruh karyawan akan diperlakukan secara adil dan setara. Selain itu, tidak adanya perbandingan antar individu juga mengurangi persaingan yang tidak sehat yang biasa timbul di antara karyawan.

3. Terbuka dan Transparan

Kriteria yang jelas dan sama dalam penilaian membuat proses evaluasi berjalan secara transparan. Hal ini juga menjadi dasar yang kuat bagi pihak penilai untuk memberikan feedback yang spesifik dan konstruktif kepada individu yang dinilai.

4. Membantu Pengembangan Keterampilan

Dengan dilakukannya absolute rating, penilai akan lebih mudah mengidentifikasi area yang dibutuhkan individu untuk pelatihan dan pengembangan lebih lanjut.

Penilaiannya yang berfokus pada kriteria spesifik juga membantu individu mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk memenuhi standar.

Bagaimana Menggunakan Absolute Rating

Untuk melakukan absolute rating dengan tepat, terdapat beberapa hal yang harus Anda perhatikan.

1. Tetapkan Standar yang Spesifik

Pertama, tetapkan standar dengan spesifik. Beri tahu karyawan mengenai standar apa yang dianggap sebagai kinerja yang dapat diterima, standar apa yang dianggap baik, dan faktor apa yang menyebabkan penilaian dan peringkat menjadi rendah.

2. Gunakan Skala yang Konsisten

Kedua, gunakan skala yang konsisten untuk memastikan bahwa semua karyawan dinilai berdasarkan skala yang sama. Dengan begitu, penilaian akan lebih objektif dan akurat serta bisa dipertanggungjawabkan.

3. Berikan Feedback Secara Berkala

Kemudian, berikan feedback secara berkala supaya karyawan memperoleh insight dan pemahaman seputar pekerjaan mereka, termasuk aspek yang baik dan buruk dari kinerja mereka.

Lakukan Penilaian Karyawan Lebih Mudah dengan Performance Management LinovHR

Ingin melakukan absolute rating atau penilaian karyawan serupa? Modul Performance Management System LinovHR menjadi solusi yang tepat bagi Anda!

Software satu ini berguna dalam membantu Anda mengukur KPI, performa setiap karyawan, unit, divisi, maupun departemen kerja perusahaan.

Segala proses penilaian mulai dari proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, hingga hasil akhir penilaian akan dilakukan secara cermat sehingga memberikan hasil yang akurat. Tampilannya yang user-friendly juga mempermudah Anda dalam memahami setiap fungsi dalam aplikasi satu ini.

Dengan sistem security app yang telah teruji, data yang tersimpan akan terjamin keamanannya sehingga Anda tidak perlu takut akan kebocoran data-data yang bersifat penting dan rahasia.

Penasaran? Ayo, ajukan demo gratisnya sekarang juga!

Tentang Penulis

Picture of Amanda Alodyasari
Amanda Alodyasari

Content writing enthusiast. Lulusan sejarah dari Universitas Diponegoro. Hobi membaca dan menulis terkait dunia kerja, HR dan teknologi

Bagikan Artikel Ini :

Related Articles

Newslater

Newsletter

Tentang Penulis

Picture of Amanda Alodyasari
Amanda Alodyasari

Content writing enthusiast. Lulusan sejarah dari Universitas Diponegoro. Hobi membaca dan menulis terkait dunia kerja, HR dan teknologi

Artikel Terbaru

Telusuri informasi dan solusi HR di sini!

Subscribe newsletter LinovHR sekarang, ikuti perkembangan tren HR dan dunia kerja terkini agar jadi yang terdepan di industri

Newsletter