Peran HRD layaknya marketing

10 Alasan HRD Harus Memposisikan Diri Layaknya Marketing

Era teknologi yang kian maju membuat munculnya berbagai talenta baru. Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk menjaring kandidat terbaik demi membangun bisnis. Namun, hal tersebut tidaklah mudah. Perusahaan harus berkompetisi dengan perusahaan lain untuk menarik kandidat agar mau bergabung bersama perusahaan.  Berkaitan dengan fenomena ini, HRD harus mampu beradaptasi dan melakukan pendekatan berbeda kepada para kandidat. Bisa dikatakan, HRD hampir sama peranannya dengan seorang marketer.  

 

HRD Adalah “The New Marketing”

 

Budaya perusahaan memainkan peran penting dalam transformasi digital. Perubahan yang sangat dinamis membuat  HRD perlu melakukan serangkaian tugas  untuk mengidentifikasi dan melatih kumpulan keterampilan baru. Di sisi lain, kesuksesan dalam HRD dipengaruhi oleh kemampuan untuk menarik kandidat. Persaingan untuk mendapatkan bakat terbaik berlangsung cepat dan sengit. 

 

Karyawan dari golongan muda saat ini khususnya kandidat bertalenta spesial lebih peka dengan berbagai trend sosial. Gaji bukan lagi menjadi motivasi utama bagi mereka saat melamar pekerjaan. Flexible working hours, pertumbuhan diri dan kesempatan belajar serta budaya kerja modern  dalam perusahaan menjadi beberapa hal yang menarik minat karyawan. Mereka menginginkan tingkat kebebasan yang memadai untuk menggunakan keahlian untuk berkontribusi dalam tujuan organisasi. Karena persaingan mendapatkan kandidat terbaik cukup sengit, HRD wajib menarik kandidat tersebut dengan berbagai penawaran spesial yang membuat kandidat berpikir bahwa perusahaan tersebut cocok bagi si karyawan. Itulah sebabnya mengapa HRD disebut dengan “the new marketing” dalam persaingan menjaring kandidat. 

 

Mengapa HRD Memposisikan Diri Sebagai Seorang Marketing

 

Tidak peduli produk atau jasa apa yang Anda hasilkan, bisnis memerlukan dua hal penting, yaitu: karyawan dan pelanggan. Peran yang bertanggung jawab di kedua hal tersebut ialah tentunya, HR dan marketing, sesungguhnya HR dan marketing memiliki lebih banyak kesamaan lebih dari sekadar yang disadari oleh organisasi selama ini. Ketika dihadapkan dengan peran strategis dalam bisnis, HR lebih tertinggal ketimbang marketing.

Berikut adalah 10 alasan mengapa para direksi HR harus mulai berpikir seperti CMO.

1. HR memegang kunci dalam urusan hubungan karyawan

Hubungan pelanggan dan hubungan karyawan pada dasarnya memiliki prinsip-prinsip dasar yang sama, seperti: konsistennya komunikasi dan rewards. Hubungan pelanggan yang baik dapat mendorong penjualan, hubungan dengan karyawan yang baik akan berdampak pada meningkatnya produktivitas karyawan. Kedua hal tersebut memberikan dampak yang menguntungkan.

 

2. Ini semua tentang kesetiaan

Jauh lebih mudah mempertahankan pelanggan yang ada daripada mencari pelanggan baru. Hal yang sama berlaku pada karyawan – lebih hemat membangun karyawan yang sudah Anda punya daripada terus merekrut dan melatih orang-orang baru. Jika Anda menginginkan ide-ide baru untuk strategi mempertahankan karyawan, contek trik bagaimana membangun loyalitas pelanggan.

 

Baca Juga: Tunjangan Tidak Selalu Berbanding Lurus Dengan Kesetiaan Karyawan

 

3. Bangun Brand Ambassador internal

Karyawan dapat menjadi pendukung terbesar Anda dan dengan dorongan mereka, Anda akan terbantu dalam mengisi organisasi dengan talenta-talenta terbaik. Kita semua memahami besarnya kekuatan testimoni positif dan rekomendasi dari pelanggan. Bayangkan banyaknya karyawan berpotensi dalam network pertemanan karyawan Anda yang ingin atau berminat bergabung dengan organisasi Anda, dan bayangkan betapa sederhananya proses perekrutan dan retensi karyawan ketika hal tersebut terjadi.

 

4. Bangun komunitas sosial yang kuat

Tidak ada keraguan bahwa media sosial telah membuat tantangan marketing jauh lebih kompleks, menciptakan banyaknya pilihan media untuk terhubung dengan pelanggan. Jika dilakukan dengan baik, hal ini dapat menciptakan suatu hubungan yang kuat dan nyata. Jadi seberapa baik HR mengelola komunitas sosialnya? Apakah komunitas tersebut memiliki potensi untuk dilibatkan lebih efektif dalam merekrut, melatih dan berkomunikasi dengan karyawan? Bisakah mereka menjadi suatu media yang menghasilkan kolaborasi positif?

 

5. Fokus pada ROI yang terukur

Seorang CMO bertanggung jawab dalam memimpin, besarnya skor NPS, brand awareness, cost per click dan masih banyak lagi. Pekerjaan mereka selalu didasarkan oleh pertimbangan pengembalian investasi, hal ini membuat mereka lebih proaktif dalam mencari peluang baru.

HR justru cenderung lebih reaktif, HR lebih memilih bertindak memadamkan api atau memotong biaya. Jika Anda konsisten memenuhi nilai KPI, contohnya; biaya perekrutan dan biaya pelatihan berdampak terhadap kinerja, maka Anda akan lebih mudah mendapatkan persetujuan anggaran untuk ide-ide baru.

 

6. Gunakan data untuk membuat keputusan yang lebih baik

Bagaimana Anda membuat strategi keputusan perekrutan, intuisi atau data? Marketing campaign dilakukan berdasarkan data, target pasar dilakukan berdasarkan segmen pelanggan, dan data digunakan untuk terus meningkatkan program dan produk.

 

Baca Juga:  Mengandalkan Firasat Saat Merekrut Karyawan?

 

Ini adalah kesempatan besar bagi HR, mengingat biaya yang cukup besar akibat dari keputusan yang buruk. Ada perusahaan yang telah menerapkan ciri-ciri kepribadian dengan pengukuran metrik untuk memahami peran tertentu yang paling cocok dalam bisnis, dan ada juga beberapa perusahaan yang menggunakan data untuk meningkatkan dampak program pelatihan dan insentif.

 

7. Mulailah segmentasi

Apa yang membuat tim Anda sukses dalam bisnis? Jika Anda dapat menganalisis data karyawan untuk memahami keterampilan, pengalaman, preferensi dan motivasi, Anda berpotensi bisa mengoptimalkan kinerja dan produktivitas.

 

8. Jadilah penjaga budaya perusahaan

Budaya perusahaan sejalan dengan brand personality Anda di luar. Brand personality Anda tercermin dari orang-orang yang Anda pekerjakan. Budaya perusahaan yang baik adalah budaya yang mampu mengembangkan bakat dan karir karyawan bersama-sama dengan tujuan perusahaan itu sendiri. 

 

9. Buat core value

Proposisi core value bagi pelanggan adalah dasar marketing. Visi dan nilai-nilai organisasi juga sama pentingnya – visi dan nilai yang jelas akan dapat menarik dan menginspirasi orang yang tepat. Ini adalah alasan internal untuk percaya Anda – posisi dan janji Anda kepada karyawan.

 

10. Gunakan teknologi untuk mengotomatisasi

Tenaga marketing yang paling sukses adalah orang yang melek digital atau teknologi – mereka menggunakan fitur atau sistem otomatisasi marketing dan data analisis untuk mengelola media komunikasi yang semakin kompleks. Untuk HR,  Software HR  dapat meringankan beban administrasi HR; mulai dari proses penggajian atau payroll hingga manajemen insentif.

Hal ini memungkinkan HR fokus pada peran prioritas strategis, seperti: talent acquisition dan retensi karyawan, pembelajaran dan pengembangan karyawan. Di sinilah Anda dapat menambah nilai nyata untuk organisasi- dan mendapatkan tempat di jajaran decision maker.