budaya kerja

Cara Menerapkan Budaya Bottom-Up Menjadi Budaya Kerja Di Perusahaan Anda

Kita semua tidak asing lagi dengan gaya manajemen top-down (dari atas ke bawah), dimana para pemimpin senior mengambil alih dan karyawan diharapkan mengikuti. Faktanya, ini adalah gaya perusahaan yang digunakan Generasi X dan baby boomer dan diharapkan dapat digunakan di era sekarang ini. Tetapi sekarang ini, generasi milenial adalah generasi terbesar dalam angkatan kerja saat ini. Karenanya ada kebutuhan mendesak untuk beralih ke gaya manajemen perusahaan yang sesuai dengan generasi ini.

Ternyata, hanya 29% dari generasi milenial yang bekerja merupakan pekerja yang memiliki loyalitas tinggi , menurut laporan Gallup. Angka ini mengerikan karena anda membutuhkan karyawan yang memiliki loyalitas tinggi agar perusahaan anda berhasil. Dibutuhkan gaya manajemen baru agar dapat menyesuaikan dengan generasi millenial, manajemen bottom up (Bawah ke Atas ) dapat menjadi solusi . Ini tidak mengherankan karena gaya manajemen ini melibatkan setiap anggota tim karena mereka tahu bahwa suara mereka didengarkan. Mereka lebih terlibat dalam perusahaan dan merasa diberdayakan untuk berkinerja dengan sangat baik.

Meskipun karyawan anda mungkin bertanggungjawab untuk mengembangkan budaya kerja bottom-up, anda harus memulainya dengan terlebih dahulu menerapkan budaya kerja tersebut.
Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat membantu menerapkan budaya kerja bottom-up di perusahaan anda:

Mendorong Perbedaan Pendapat (Dan Belajar Mengatasinya)

Dalam perusahaan yang menerapkan gaya manajemen bottom-up, perbedaan pendapat haruslah menjadi tanggungjawab setiap karyawan, tetapi anda perlu mendorongnya terlebih dahulu. Karyawan anda mungkin telah mengalami tantangan tertentu dalam pekerjaan mereka dengan cara perusahaan berfungsi. Mungkin langkah-langkah tertentu akan membantu mereka untuk mencapai potensi maksimal mereka.

Mereka harus bisa bebas berbagi ide, wawasan dan opini tentang tantangan ini. Bahkan mungkin mereka mempunyai saran-saran tentang bagaimana tugas tertentu harus ditangani atau bagaimana proses tertentu dapat ditingkatkan. Dengan mendengarkan ide, wawasan dan opini, perusahaan anda akan dapat mengembangkan ide untuk peningkatan dalam proses saat ini. Akan tetapi, sebagian besar karyawan mungkin mengalami kesulitan menyuarakan pendapat mereka karena khawatir akan dampak negatifnya. Mereka mungkin takut menuai ledekan dari anda atau seseorang di posisi manajerial karena berani-beraninya mengajukan pendapat.

Jadi, anda perlu mendorong mereka untuk berbagi pemikiran tentang tanggungjawab mereka masing-masing tanpa khawatir akan dampak negatif apapun. Apabila mereka tidak berkomunikasi secara bebas dengan anda, bisa jadi anda mungkin pada awalnya harus merangkul dan mengadakan pertemuan tersendiri dengan karyawan anda . Dan jika mereka menyuarakan perbedaan pendapat di sini, dengarkan dan akuilah. Banyak manajer dan pimpinan melakukan kesalahan dengan bersikap defensif ketika ini terjadi. Hindari melakukan ini, karena karyawan mungkin tidak lagi merasa nyaman berbagi pikiran mereka dengan anda di masa mendatang, yang berarti anda tidak akan dapat menerapkan budaya kerja bottom- up.

Menata Proses Baru

Sebagian proses yang anda miliki mungkin tidak ideal untuk budaya perusahaan  bottom-up. Sebagai contoh, beberapa prosedur mungkin mengharuskan karyawan mendapatkan otorisasi manajerial bahkan untuk tindakan paling sederhana sekalipun. Ini bisa sangat mempengaruhi produktivitas dan semangat kerja karyawan, karena karyawan mungkin merasa mereka tidak mempunyai hak bersuara. Anda perlu membahas proses anda saat ini untuk mengetahui apa yang bisa ditingkatkan, berdasarkan feedback karyawan dan tujuan bisnis perusahaan. Perhatikan di mana anda bisa melakukan perubahan sehingga karyawan memiliki otonomi yang lebih besar untuk mengambil keputusan sendiri.

Uraikan dengan jelas secara tertulis langkah-langkah apa yang harus mereka ikuti dan pada titik mana mereka harus berkonsultasi dengan supervisor atau manajer. Setelah anda menyusun proses baru, berikan penjelasan yang jelas mengapa prosedur revisi ini perlu dilaksanakan. Ini akan membantu karyawan memahami bahwa ada alasan yang sah mengapa proses baru ini diperlukan. Dan apabila mereka memahami alasan perubahan, mereka akan dapat memahami kapan harus menggunakan metode yang berbeda untuk menyelesaikan tugas tertentu. Anda juga harus memastikan bahwa perubahan yang anda lakukan selaras dengan tujuan yang di inginkan karyawan anda. Ini akan memberikan kepada mereka antusiasme yang lebih besar untuk terlibat dan untuk menerapkan perubahan.

Baca Juga :Budaya Kerja Google : Santai Tapi Produktif

Memberdayakan Karyawan Yang Berpengaruh Menjadi Teladan

Meskipun anda mungkin memiliki ide yang hebat tentang cara mengubah budaya kerja perusahaan anda, namun mewujudkan perubahan tersebut merupakan suatu tantangan besar. Karyawan anda telah mengikuti budaya kerja tertentu selama bertahun-tahun dan mereka sudah terbiasa bekerja dengan budaya tertentu. Jadi, anda tidak bisa hanya mengirimkan email tentang perubahan dan berharap mereka melaksanakannya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jelaskan dengan tegas mengapa perubahan diperlukan dan jaga setiap karyawan tetap berada di dalam lingkaran. Ini akan menjadikan mereka lebih cenderung menerapkan perubahan itu. Tetapi selain itu, anda bisa mendorong karyawan yang lebih berpengaruh untuk mendukung perubahan. Jika karyawan tersebut menjadi teladan, mungkin akan lebih banyak orang yang mengikuti.

Setiap perusahaan memiliki karyawan tertentu yang memiliki pengaruh besar terhadap rekan- rekannya. Mungkin karena mereka sangat pintar atas apa yang mereka lakukan atau mereka sudah bertahun-tahun bersama perusahaan, orang-orang sangat menghormatinya. Inilah karyawan yang pengaruhnya harus anda tonjolkan agar penerapannya dapat berhasil.

Itulah beberapa langkah penting yang dapat membantu anda menerapkan dan mengadopsi budaya kerja bottom-up. Anda bisa memulai dari sini dan menemukan lebih banyak ide di sepanjang jalan yang akan berhasil khususnya untuk perusahaan anda. Tujuannya haruslah untuk mendorong partisipasi dan keterlibatan karyawan, yang dapat menghasilkan kinerja perusahaan yang lebih baik.