contoh feedback

Apa itu Feedback? ini Pengertian, Contoh dan Cara Mengelolanya

Guna meningkatkan kinerja karyawan, perusahaan kerap memberikan feedback atas segala pekerjaan yang telah dilakukan. Namun, apabila perusahaan menyampaikan umpan balik dengan cara negatif tentu akan menurunkan performa karyawan. Lantas, bagaimana cara memberikan feedback yang baik? Simak ulasan contoh feedback positif berikut!

 

Apa itu Feedback?

Feedback adalah sebuah istilah untuk menyampaikan reaksi dari komunikator kepada komunikan atas segala sesuatu yang telah dilakukan, baik berupa jasa, pekerjaan, produk, dan lain-lain.

Istilah ini merupakan kata serapan dari bahasa inggris berupa “feed” dan “back”.

Arti feedback sederhananya adalah suatu masukkan yang disampaikan oleh pengguna produk atau pekerjaan, kepada pihak bekerja. Umumnya, hal ini kerap dilakukan di lingkungan perusahaan.

Tujuan utama dari pemberian feedback, adalah untuk menindaklanjuti atas tindakan apa yang perlu dilakukan ke depannya. Apabila hal yang dihasilkan sudah baik, maka pihak pekerja hanya perlu mempertahankan kualitas dan meningkatkannya. 

Namun, jika hal yang dikerjakan masih kurang baik, maka pihak pengguna jasa akan menyampaikan berbagai kekurangannya. Lalu, pihak pekerja akan mengambil tindakan perbaikan demi meningkatkan kualitas untuk kemudian hari.

 

Baca juga: Manfaat 360 Degree Feedback untuk Karyawan, Tim, dan Manager 

 

Contoh Feedback Positif untuk Hasil Kerja Karyawan yang Kurang Memuaskan

Setiap perusahaan tentu memiliki karyawan dengan potensi dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada karyawan dengan hasil kerja optimal. Akan tetapi, juga ada karyawan dengan hasil kerja yang minimal. Umumnya, hal tersebut disebabkan oleh berbagai hal. 

 

Berikut beberapa contoh feedback positif yang dapat meningkatkan motivasi karyawan. 

1. Karyawan Tidak Mampu Bekerja Sesuai Target

Hampir setiap perusahaan tentu memiliki target yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas operasional dan kinerja karyawan.

Namun, terkadang ada saja sejumlah karyawan tidak mampu bekerja sesuai target yang telah ditentukan. Hal demikian tentu akan menghambat produktivitas dan alur kerja perusahaan. 

Akan tetapi, sebagai perusahaan perlu mencari tahu dahulu apa penyebab karyawan tidak mampu bekerja dengan optimal.

 

Contoh  kasus:

“Dimas seorang karyawan Perusahaan Botol Minum Berjangka. Dalam sebulan Dimas harus mencari pelanggan sebanyak 15 orang. Namuna, pada bulan Januari Dimas tidak mampu mencapai target tersebut.

Perusahaan pun menanyakan alasannya, serta memberikan feedback untuk lebih giat dan semangat untuk mencapai target yang telah dilakukan. Perusahaan juga mencoba memahami kemampuan Dimas dan memberi keringan tertentu.”

 

Baca juga: Menentukan Target Kerja Dengan Metode SMART

 

2. Adanya Karyawan yang Kurang Partisipatif

Dalam waktu-waktu tertentu, perusahaan pasti akan mengadakan rapat. Namun, sering kali ditemukan beberapa karyawan yang kurang aktif dalam menyampaikan informasi. Hal tersebut tentu akan mengurangi suasana kerja kolaboratif. 

 

Contoh kasus:

“Krisna seorang kepala divisi pemasaran perusahaan Tisu Bersih. Dalam setiap rapat, Krisna kerap pasif dalam menyampaikan gagasan. Dalam suatu kesempatan, pihak HRD memberikan feedback untuk lebih partisipatif dalam menyampaikan ide. Hal ini diperlukan guna meningkatkan kesuksesan perusahaan.”

 

3. Kurangnya Sikap Inisiatif Karyawan

Setiap perusahaan tentu membutuhkan sikap berani para karyawan dalam melakukan inisiasi kerja. Dengan demikian, perusahaan tidak perlu mengarahkan karyawan secara terus-menerus yang dapat membuang-buang waktu.

 

Contoh kasus:

“Rudi merupakan pegawai perusahaan Cat Tembok Air. Ia telah bekerja selama satu tahun. Namun, Rudi masih sering bingung dalam bekerja. Akibatnya, pekerjaannya kerap terlantar. Perusahaan pun memberikan feedback pada Rudi untuk lebih giat belajar secara mandiri agar dapat mengambil langkah kerja dengan lebih baik.”

 

4. Adanya Sikap Kasar dan Semena-mena pada Seorang Karyawan

Dalam dunia profesional, ada banyak ditemui orang dengan karakteristik yang berbeda-beda. Ada orang dengan sikap lembut dan sabar. Lalu, juga ada orang yang kasar dan semena-mena.

Nah, perilaku semena-mena tersebut tentu akan mengganggu jalannya kinerja perusahaan. Hal tersebut dikarenakan karyawan yang bekerja di sekitarnya akan merasa segan dan enggan untuk bekerja sama.

 

Contoh kasus:

“Dicky seorang pemimpin divisi kreatif pemasaran perusahaan Kerupuk Damai Sejahtera. Dirinya dikenal sebagai sosok yang kasar dan semena-mena dalam memerintah bawahannya.

Alhasil, para karyawan yang bekerja di bawah perintahnya banyak melakukan resign dengan alasan sama, yaitu karena sikap kurang baik dari Dicky. HRD perusahaan pun memanggil Dicky dan memberi masukkan untuk bersikap lebih lunak pada karyawan bawahannya untuk menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman.”

 

5. Karyawan yang Tidak Mampu Mengatur Waktu dengan Baik

Guna mencapai target kerja perusahaan, tiap karyawan harus bisa mengatur waktu kerja dengan sedemikian rupa. Namun, masih sering ditemukan beberapa karyawan yang lalai dalam mengatur waktu kerja.

 

Contoh kasus:

“Dio adalah pegawai perusahaan Kabel Listrik. Dalam jam kerja, dirinya kerap kali bermain game dan menonton drama korea. Hasilnya, pekerjaannya pun terlantar dan tidak mampu menyelesaikan target.

Perusahaan pun memanggil Dio dan memberikan masukan. Isinya berupa saran untuk menggunakan waktu dengan lebih efektif dengan lebih fokus bekerja saat sedang di kantor.”

 

6. Adanya Kesalahan yang Dilakukan oleh Seorang Karyawan

Setiap manusia pasti tidak luput dari suatu kesalahan. Dalam dunia kerja, hal tersebut pun kerap terjadi. Namun, adanya kesalahan kerja tentu dapat berpotensi menghambat produktivitas perusahaan. Untuk meminimalisir hal demikian, umumnya perusahaan memberlakukan standar prosedur dalam bekerja.

 

Contoh kasus:

“Diego seorang karyawan baru perusahaan konsultan keuangan. Dia melakukan kesalahan dalam membuat sip gaji karyawan untuk klien perusahaan. Akibatnya, klien pun melontarkan protes.

“Lalu, HRD perusahaan pada akhirnya memanggil Diego. Pada kesempatan tersebut, HRD memberikan masukan untuk lebih teliti dalam bekerja. Selain itu, Diego juga diminta untuk memeriksa kembali setiap pekerjaannya untuk menghindari kesalahan.

 

Kelola Feedback Karyawan dengan Lebih Optimal Menggunakan Software HRD LinovHR

mobile ess

 

Mengelola jalannya operasional perusahaan bukanlah hal yang mudah. Terlebih jika menyangkut kinerja karyawan. Namun, jangan khawatir saat ini sudah ada Software HRD LinovHR yang dapat mempermudah segala urusan personalia karyawan.

Salah satu modul unggulan dari LinovHR adalah Performance Management. Dengan menggunakan fitur Feedback, setiap karyawan dapat memperoleh feedback dari berbagai pihak, mulai dari atasan, rekan kerja, dan lainnya.

Dengan menggunakan fitur Feedback dari LinovHR, perusahaan Anda dapat memberikan umpan balik pada karyawan dengan lebih optimal dan maksimal. Segera hubungi tim LinovHR untuk menjadwalkan demo.