self development

Kontribusi HRD dalam Kegiatan Self Development

Self development atau yang lebih dikenal dengan pengembangan diperlukan dalam semua perusahaan. Kualitas karyawan ditentukan dengan program pengembangan karyawan yang ada. Perusahaan yang mampu mengelola karyawan dengan cara yang berkualitas akan menghasilkan karyawan yang terampil dan siap untuk menghasilkan produk berkualitas. Untuk menghasilkan program pengembangan karyawan yang efektif,  diperlukan kerjasama dan kontribusi maksimal dari tim HRD. 

 

Program Self Development untuk Motivasi dan Produktivitas

Pada dasarnya manusia membutuhkan alasan atau motif untuk bergerak. Alasan tersebut yang mempengaruhi dan mendorong untuk melakukan hal-hal tertentu. Di dunia kerja, alasan ini juga berlaku ketika menyangkut motivasi karyawan dalam melakukan pekerjaan. Untuk merangsang motivasi karyawan, perusahaan dapat menggunakan program pengembangan karyawan dengan menjanjikan peningkatan skill dan jenjang karir bagi karyawan. Aspek peningkatan akan memotivasi karyawan untuk bersungguh-sungguh mengikuti program pengembangan karyawan.  Motivasi tinggi akan mendorong karyawan untuk memberikan kinerja terbaik mereka.

Memiliki karyawan yang sangat terlibat dan termotivasi dalam tim akan membantu perusahaan berjalan secara efektif dan sukses mencapai tujuan bisnis.  Karena alasan ini, perusahaan harus melakukan program pengembangan karyawan secara teratur dengan tujuan memotivasi dan meningkatkan produktivitas karyawan. Tetapi Anda perlu tahu bahwa motivasi adalah sesuatu yang datang dari dalam dan di dalam diri kita tetapi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor luar juga. Disamping program pengembangan, perusahaan juga dapat memfasilitasi program pengembangan diri dengan fasilitas yang meningkatkan kenyamanan selama pelatihan.  

 

Dasar Hukum Kegiatan Self Development di Perusahaan

Program self development atau pengembangan diri adalah bagian dari pelatihan yang diadakan perusahaan. Sangking pentingnya suatu pelatihan di perusahaan, pemerintah telah mengaturnya dengan jelas di UU No. 13 Tahun 2013  tentang Ketenagakerjaan. 

Menurut Pasal 1 ayat 9 UU Ketenagakerjaan, pelatihan adalah kegiatan memberi, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, kedisiplinan, sikap untuk keahlian tertentu dengan kualifikasi dan tingkatan yang sesuai dengan  pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi pekerjaan. 

 

Baca Juga: Peran HRD dalam Mendukung UU Ketenagakerjaan

 

Tujuan dari pelatihan menurut Pasal 9 UU Ketenagakerjaan adalah untuk mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kesejahteraan karyawan. Adapun ketentuan mengenai pelatihan kerja sesuai UU Ketenagakerjaan Pasal 10 adalah:

  1. Dilaksanakan dengan memperhatikan  kebutuhan pasar dan dunia industri
  2. Berdasarkan standar kompetensi kerja
  3. Dilakukan secara berjenjang

Pasal 11 UU Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa seluruh karyawan dalam perusahaan berhak mendapatkan program pengembangan kompetensi kerja sesuai bakat, minat, dan kemampuannya melalui program pelatihan. Pada Pasal 12 UU Ketenagakerjaan, dijelaskan bahwa perusahaan pun juga bertanggung jawab atas peningkatan dan pengembangan kinerja karyawan melalui pelatihan kerja. 

 

Cara HRD Mengembangkan Kegiatan Self Development 

Sesuai penjelasan Pasal 12 UU Ketenagakerjaan, perusahaan bertanggung jawab untuk mengadakan pelatihan kerja untuk karyawannya. Pengelolaan karyawan sebagai sumber daya manusia yang berharga bagi perusahaan adalah tanggung jawab tim HRD. Karena itulah HRD berkontribusi besar dalam mengembangkan program pelatihan karyawan atau self development. Ada berbagai macam cara yang HRD dapat lakukan dalam merancang kegiatan pengembangan karyawan, mulai dari e-learning, kombinasi belajar dengan project, hingga pelatihan bersama orang yang ahli di bidangnya.  Berikut beberapa cara yang HRD lakukan untuk menghasilkan program pelatihan yang unggul: 

 

Tetapkan Tujuan dengan SMART

Perusahaan terus berkembang dari tahun ke tahun dan mengubah prioritas bisnis. Oleh karena itu, pimpinan perusahaan dapat secara teratur berbicara tentang kemajuan yang dicapai perusahaan dan karyawan terhadap tujuan akhir tahun. Dengan menciptakan tujuan dari pelatihan, karyawan akan menyesuaikan diri dengan tujuan perusahaan dan mendorong karyawan untuk bekerja secara efektif. Tujuan yang baik dirancang dengan metode SMART, yaitu specific (spesifik), measurable (terukur), achievable (dapat tercapai), relevant (sesuai), dan timebound (memiliki batas waktu). 

 

Mengadakan Program Sesuai Kebutuhan Saat Ini

Pengetahuan dan keterampilan dapat menjadi usang dalam beberapa bulan dan tak lagi relevan dengan kondisi bisnis. Kegiatan belajar pun menjadi hal yang selalu dibutuhkan dan harus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini membuat perusahaan membutuhkan skill atau keterampilan lain sesuai dengan perkembangan bisnis dengan mempelajari dinamika lingkungan bisnis. 

 

Baca Juga: Jenis Pengembangan Diri Karyawan yang Bisa Dilakukan Secara Mandiri

 

Ajak Karyawan untuk Aktif dalam Program Pelatihan

Program pembelajaran dan pelatihan yang sangat terstruktur sangat penting untuk kesuksesan yang berkelanjutan, inovasi, dan produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Walau perusahaan aktif untuk mendorong program pelatihan, karyawan tetap harus memiliki dorongan dari dalam untuk aktif dan berkomitmen. Ajak karyawan untuk secara aktif mengikuti pelatihan yang diselenggarakan. Jangan lupa untuk meminta feedback dari karyawan ketika selesai mengadakan program pelatihan untuk evaluasi yang lebih lanjut. Jika perlu, mintalah pendapat karyawan mengenai jenis pelatihan apa yang sekiranya dibutuhkan selanjutnya oleh karyawan. 

 

Berikan Opsi Belajar yang Fleksibel

Fleksibilitas adalah metode yang paling mudah menarik karyawan terutama bagi karyawan dari golongan anak muda. Kegiatan pembelajaran dan pelatihan terkadang  berbenturan dengan tugas harian sering membuat mereka merasa kewalahan. Perusahaan harus memberikan opsi untuk  mengadopsi solusi on-demand dan mobile yang membuat pelatihan lebih mudah diakses. 

 

Mehami Hambatan 

Setiap karyawan memiliki masalah berbeda satu sama lain. Masalah-masalah tersebut dapat menjadi hambatan yang cukup serius jika tak ditangani dengan baik. Pada titik ini, HRD perlu memahami apa saja hambatan yang ada pada karyawan dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Misalnya, salah satu karyawan merasa bahwa ia tidak dapat memanfaatkan keterampilan dan pengetahuannya secara optimal dalam posisi kerjanya saat ini. HRD harus memperhatikan dengan detail untuk menemukan potensi karyawan yang sebenarnya sehingga tidak menyebabkan ketidakefisienan kinerja dari hambatan yang dialami karyawan.

 

Cocokkan Cara Pelatihan yang Sesuai

Tiap karyawan sesuai dengan usia dan generasi memiliki gaya belajar yang berbeda. Dengan berbagai generasi dalam lingkungan kerja, perusahaan harus merestrukturisasi cara karyawan belajar dan alat dan kegiatan yang mereka gunakan sesuai gaya, preferensi, dan harapan karyawan dengan benar. Misalnya karyawan dari generasi millenial lebih suka ponsel, komputer, dan ilustrasi yang menarik dalam pelatihan, sementara karyawan yang berusia 40an lebih suka dengan metode pelatihan dengan dokumen tertulis di kertas dan suasana formal.

 

Baca Juga : Apa sih Perbedaan HRD dan Personalia ?

 

Program self development yang berkelanjutan sangat penting untuk kesuksesan perusahaan untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan. HRD bertanggung jawab untuk memastikan karyawan terus belajar dan berkembang. Cara-cara di atas tak hanya berguna untuk program self development, tetapi juga berguna menciptakan budaya kerja yang cemerlang.