Quiet Firing adalah strategi perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang tidak nyaman dengan harapan karyawan mengundurkan diri (Resign) sehingga bisa menghindar dari kewajibannya untuk membayarkan pesangon.
Simak penjelasan lebih lengkapnya mengenai fenomena Quiet Firing mulai dari pengertian, ciri, hingga cara mengatasinya di bawah ini!
Key Takeaways
- Quiet Firing adalah cara perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang tidak kondusif dengan harapan agar karyawan mengundurkan diri
- Quiet Firing menghindarkan perusahaan dari membayarkan pesangon
- Quiet Firing adalah tindakan yang melanggar Pasal 155 Ayat 1 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
- Quiet Quitting adalah tindakan yang dilakukan karyawan agar dipecat oleh perusahaan agar bisa mendapatkan pesangon
Apa Itu Quiet Firing?
Quiet Firing adalah strategi dalam dunia kerja modern ketika perusahaan atau manajemen secara sengaja menciptakan lingkungan kerja yang toxic, tidak kondusif, atau minim dukungan pada karyawannya.
Strategi ini dilakukan melalui serangkaian tindakan pasif-agresif. Mulai dari pengurangan tanggung jawab, dikucilkan, hingga komunikasi yang semakin tidak berjalan efektif antara karyawan dengan manajemen.
Tujuan dari Quiet Firing adalah menghindarkan perusahaan dari potensi pelanggaran hukum yang ditimbulkan dari pemutusan hubungan kerja secara resmi. Karyawan akan terus ditekan agar merasa terisolasi, frustrasi, kehilangan motivasi hingga akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri (Resign)
Selain Quiet Firing, terdapat juga istilah sejenis yaitu Quiet Quitting. Simak terus artikel ini untuk memahami perbedaannya!
Perbedaan Dengan Quiet Quitting
Jika Quiet Firing adalah cara halus perusahaan untuk mengusir karyawannya, maka Quiet Quitting adalah cara halus karyawan agar bisa segera dipecat oleh perusahaan.
Tindakan ini bisa disebabkan karena beban kerja yang semakin berat, upah yang tidak sebanding, ataupun menjaga keadaan kesehatan mental. Menjaga kehidupan agar tetap seimbang, tidak terlalu banyak dihabiskan untuk pekerjaan (work life balance).
Dalam fenomena Quiet Quitting, karyawan tetap mengerjakan tugasnya namun dengan sengaja tidak mau melampaui ekspektasi yang diinginkan oleh perusahaan.
Melalui cara ini, diharapkan terjadi adanya komunikasi antara karyawan dengan perusahaan sehingga permasalahan yang ada bisa diselesaikan dengan segera.
Singkatnya, Quiet Firing dilakukan oleh Perusahaan sedangkan Quiet Quitting dilakukan oleh karyawan!
Baca Juga: Kenali Quiet Quitting pada Karyawan: Ciri, Pemicu, dan Dampaknya
Ciri-ciri Quiet Firing
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri quiet firing yang biasanya terjadi di perusahaan:
Pengurangan Tanggung Jawab
Job Stripping merupakan cara perusahaan untuk menyerang psikologis karyawannya. Mulai dari pembatasan akses dari biasanya, pengalihan tugas-tugas harian pada pihak lain, hingga pembatalan proyek yang sedang dibatalkan begitu saja.
Cara ini dapat menimbulkan kegelisahan bahwa karyawan mulai tidak mahir dalam pekerjaan ataupun merasa karirnya sudah selesai tanpa ruang untuk berkembang.
Penambahan Tanggung Jawab
Dalam skenario lain, quiet firing disalurkan melalui penambahan beban kerja yang melampaui deskripsi jabatan, bahkan tugas-tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab divisi lain.
Kondisi lingkungan kerja diperparah ketika penambahan beban kerja tersebut tidak disertai dengan kompensasi yang adil atau apresiasi yang setara.
Akibatnya, akumulasi stres dan perasaan tidak dihargai secara bertahap mengikis kesehatan mental karyawan, yang pada akhirnya memicu penurunan motivasi, dan keinginan kuat untuk meninggalkan perusahaan.
Pembatasan Komunikasi
Munculnya hambatan dalam berkomunikasi dalam pekerjaan yang disengaja oleh manajemen. Kendala ini menciptakan jarak emosional dan profesional yang perlahan-lahan akan merusak rasa percaya diri karyawan.
Pembatasan komunikasi bisa dimulai dari pesan-pesan yang terlalu singkat, dingin, ambigu, hingga sulitnya mendapatkan kesempatan untuk berbicara langsung pada atasan.
Perbedaan Perilaku Atasan
Perbedaan perilaku atasan dalam quiet firing terlihat dari pergeseran drastis pola manajemen yang menjadi lebih mengabaikan, bahkan kritik atas kerja menjadi terarah pada pribadi.
Pada kasus ini, atasan biasanya secara spesifik menargetkan individu tertentu. Menimbulkan kondisi tidak nyaman, perasaan tidak adil, pilih kasih.
Cara Mengatasi Quiet Firing Bagi Karyawan
Tidak perlu berkecil hati, berikut ini adalah cara-cara yang bisa dipilih untuk mengatasi situasi Quiet Firing!
Kumpulkan Bukti Pengucilan
Dokumentasikan bukti-bukti pengucilan yang kamu hadapi. bukti-bukti seperti pembatasan akses, tidak diikutsertakan dalam rapat, tugas yang tidak sesuai dengan posisi, hingga respon-respon atasan yang mulai mengalami perubahan.
dokumentasi bisa berupa tangkapan layar (screenshot), jejak e-mail, dan juga rangkuman tugas-tugas yang diberikan. Bukti-bukti ini bisa menjadi persiapan matang saat berdiskusi langsung dengan perusahaan atau melalui divisi HR.
Meminta Klarifikasi Pada Manajemen
Segera cari kesempatan untuk berbicara pada perusahaan atau melalui divisi HR mengenai keadaan yang sedang terjadi. Pastikan perusahaan dapat dengan jelas menerima keluhan yang dihadapi.
Komunikasi dengan perusahaan diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan kerja yang sedang dihadapi.
Meminta Perbaikan yang Bisa Dilakukan
Selain meminta klarifikasi atas situasi yang dihadapi, ajukan pula pertanyaan secara mengenai kekurangan dalam kinerja selama ini agar mendapatkan umpan balik yang jujur.
Melalui identifikasi hambatan performa tersebut, pembicaraan mengenai keadaan yang sedang terjadi diharapkan bisa menjadi diskusi perbaikan yang lebih konstruktif untuk meningkatkan nilai serta efektivitas posisi di perusahaan.
Langkah ini menunjukkan profesionalisme yang tinggi sekaligus memberi kesempatan bagi manajemen untuk memberikan panduan yang jelas demi pengembangan karir karyawannya.
Meminta Evaluasi Pada Rekan Kerja
Selain melalui jalur formal dengan atasan atau manajemen, lakukan juga evaluasi melalui diskusi dengan rekan kerja terdekat untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas.
Terkadang, perasaan terasing muncul bukan karena kesengajaan, melainkan akibat alur kerja kelompok yang kurang rapi atau kendala komunikasi antar-divisi yang menciptakan kesan ditinggalkan. Dengan membuka diskusi, diharapkan dapat menjadi titik terang terhadap masalah yang sedang dialami.
Baca Juga: Apa Itu HR Effectiveness dan Cara Mengukurnya?
Cara Mengatasi Quiet Firing Bagi Perusahaan
Permasalahan Quiet Firing bisa saja muncul dalam benak karyawan meski tidak disengaja oleh perusahaan. Oleh karenanya, berikut ini adalah cara mengatasi quiet firing yang bisa diterapkan oleh perusahaan:
Transparansi Komunikasi
Quiet Firing sering kali bermula saat karyawan merasa suara dan kontribusinya tidak lagi didengar oleh perusahaan. Untuk meredam nya, dibutuhkan komunikasi dua arah yang transparan mengenai evaluasi kinerja masa lalu, tantangan saat ini, serta ekspektasi di masa mendatang.
Dengan memberikan respons yang lengkap beserta dukungan atas setiap inisiatif komunikasi dari karyawan, perusahaan dapat memulihkan rasa percaya dan menciptakan lingkungan kerja yang kembali positif.
Audit Leadership
Fenomena Quiet Firing pada bisa didasari pada kegagalan fundamental dalam gaya kepemimpinan di dalam perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan wajib mengevaluasi secara kritis kompetensi manajemen, terutama dalam aspek komunikasi transparan, empati, serta kemampuan penyelesaian konflik.
Tanpa perbaikan kualitas kepemimpinan yang lebih humanis dan kolaboratif, risiko terciptanya lingkungan kerja yang toxic akan terus tinggi di lingkungan perusahaan.
Evaluasi Succession Planning
Budaya Quiet Firing yang dipertahankan dalam perusahaan akan merusak succession planning yang sebelumnya telah disusun.
Succession Planning merupakan rencana sistematis yang mendorong karyawannya untuk mencapai potensi maksimal selama bekerja dalam perusahaan, sementara Quiet Firing merusaknya. Singkatnya, budaya Quiet Firing membuat masa depan perusahaan menjadi tidak stabil.
Baca Juga: Learning and Development (L&D): Pengertian, Tugas, Manfaat, dan Cara Membuat Programnya
Dampak Quiet Firing Bagi Perusahaan
Berikut ini adalah dampak yang bisa ditimbulkan dari budaya Quiet Firing bagi perusahaan:
Lingkungan Kerja Toxic
Quiet firing dapat menciptakan lingkungan kerja yang toxic akibat perlakuan perusahaan yang tidak mendukung karyawan secara optimal.
Kondisi ini dapat mengikis rasa percaya antar karyawan dan perusahaan, menurunkan transparansi, serta memicu ketidaknyamanan dalam tim kerja.
Akibatnya, karyawan cenderung lebih fokus mempertahankan posisinya dibanding memberikan inovasi atau kontribusi terbaik bagi perusahaan.
Merusak Reputasi Perusahaan
Budaya toxic dalam perusahan suka tidak suka akan disebarkan oleh karyawannya dari mulut ke mulut, baik yang masih bekerja, atau sudah tidak di perusahaan.
Reputasi yang buruk akan membuat kandidat-kandidat berharga tidak tertarik untuk bergabung ke dalam perusahaan.
Penurunan Kedekatan Dengan Karyawan
Kedekatan emosional bisa menjadi pendorong utama karyawan untuk memberikan usaha lebih. Karyawan pun menjadi tidak sulit untuk diatur karena kepercayaan yang dijaga.
Ketika kedekatan ini terputus, karyawan menjadi bergerak hanya berdasarkan dorongan kontrak, tanpa dorongan untuk melakukan yang terbaik atau pun inovasi.
Penelitian dari Zambia Information Communication Technology Authority tahun 2026 menemukan bahwa komunikasi internal memiliki korelasi positif antara komunikasi internal dan tingkat keterikatan karyawan (employee engagement).
Studi ini menegaskan bahwa praktik komunikasi yang efektif memainkan peran krusial dalam memotivasi tenaga kerja serta mempererat hubungan strategis antara perusahaan dan karyawannya.
Kehilangan Kandidat Potensial
Budaya Quiet Firing dalam perusahaan juga bisa membuat career path karyawannya menjadi tidak terstruktur.
Sementara itu, Penelitian dari Mandalanursa tahun 2025 oleh Noni Antika Khairunnisah dan rekan menemukan bahwa calon pekerja lebih tertarik perusahaan-perusahaan yang menyediakan pengembangan kompetensi pada tenaga kerjanya dan juga career path yang jelas.
Mempertahankan budaya Quiet Firing malah menjauhkan perusahaan dari kandidat-kandidat terbaik.
Risiko Hukum
Praktik quiet firing berisiko menimbulkan permasalahan hukum apabila perusahaan melakukan tekanan atau pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan.
Dalam Pasal 155 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”) disebutkan jika pemutusan hubungan kerja (“PHK”) tanpa adanya penetapan dari lembaga penyelesaian hubungan industrial akan menjadi batal demi hukum.
Pasal tersebut memiliki artian bahwa PHK sepihak tersebut dianggap tidak pernah terjadi dan selama putusan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial belum ditetapkan, baik pengusaha maupun karyawan harus tetap melaksanakan segala kewajibannya.
Pegawai kontrak berdasarkan PKWT dan perjanjian kerjanya diakhiri oleh perusahaan, maka karyawan berhak atas uang ganti rugi sebesar upah sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.
Cegah Quiet Firing di Perusahaan Anda dengan Performance Management LinovHR

Salah satu cara untuk mencegah praktik quiet firing adalah dengan membangun sistem evaluasi kerja yang transparan dan terukur.
Melalui penilaian kinerja yang jelas, perusahaan dapat memberikan feedback secara objektif, memantau perkembangan karyawan, serta menciptakan komunikasi kerja yang lebih sehat.
Melalui modul Performance Management dari Software HRIS LinovHR, perusahaan dapat melakukan penilaian kinerja karyawan secara real-time dan lebih terstruktur.
Beberapa fitur yang tersedia meliputi:
- 360° Review: Penilaian kinerja dari berbagai sudut pandang, mulai dari diri sendiri, atasan, rekan kerja, hingga bawahan.
- Peer to Peer Review: Evaluasi antar karyawan dalam satu divisi maupun lintas tim.
- OKR: Penilaian berbasis objective dan key results yang saling terhubung.
- Balanced Scorecard: Evaluasi kinerja dari berbagai perspektif, seperti finansial, pelanggan, proses internal, dan pengembangan.
Dengan sistem evaluasi yang lebih transparan, perusahaan dapat meningkatkan employee engagement sekaligus meminimalkan risiko quiet firing di lingkungan kerja.
Ajukan demo gratis sekarang juga untuk membantu pengelolaan performa karyawan yang lebih efektif!




