Key Takeaways
- Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian Agustus di tahun 2024 melaporkan jumlah tenaga kerja di subsektor peternakan mencapai 5,39 juta orang.
- Operasional peternakan yang dinamis membuat HR harus cermat dalam mengelola kebutuhan tenaga kerja yang efektif.
- Banyaknya jumlah tenaga kerja di sektor ini membuat pengelolaan SDM dan pengorganisasian menjadi hal yang penting agar operasional menjadi efektif.
- HRIS bisa menjadi alat bantu perusahaan dan HR dalam memahami kondisi lapangan dan pengorganisasian untuk menangani masalah beban kerja terlalu besar.
Menurut Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian Agustus di tahun 2024, jumlah tenaga kerja yang berada di subsektor peternakan mencapai 5,39 juta orang atau sekitar 14,26% dari total tenaga kerja sektor pertanian.
Laporan OECD di tahun 2023 menyebutkan bahwa sektor ini sedang terperangkap dalam krisis talenta yang dipicu oleh rendahnya persepsi publik, kompensasi yang tidak kompetitif, serta minimnya jenjang karir yang jelas.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh industri peternakan membuat perusahaan dan HR harus lebih cermat dalam menjalankan bisnisnya agar bisa menarik lebih banyak talenta.
Simak pembahasan mengapa workforce merupakan faktor kritis industri peternakan dan mengapa HRIS untuk peternakan bisa menjadi alat bantu mengelola tenaga kerja!
Mengapa Workforce Menjadi Faktor Kritis dalam Operasional Peternakan?
Operasional peternakan memiliki karakteristik yang berbeda dari kerja kantoran di mana pemberian pakan, pemeriksaan kesehatan, pengendalian lingkungan kandang, hingga penerapan biosecurity perlu berjalan secara konsisten mengikuti kebutuhan biologis ternak.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja menjadi krusial. Tidak hanya mengenai kehadiran, namun juga kompetensi, koordinasi, dan keperluan untuk mengelola struktur organisasi agar peternakan bisa dijaga keberlangsungannya.
Di Indonesia sendiri, menurut Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian Agustus di tahun 2024, jumlah tenaga kerja yang berada di subsektor peternakan mencapai 5,39 juta orang atau sekitar 14,26% dari total tenaga kerja sektor pertanian.
Banyaknya jumlah tenaga kerja di sektor ini membuat pengelolaan SDM dan pengorganisasian menjadi hal yang penting agar operasional menjadi efektif.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Springer Nature Link di tahun 2025, memberi bukti bahwa pengelolaan SDM seperti melakukan pelatihan merupakan hal yang krusial untuk dilakukan.
Kurangnya pengelolaan seperti penyelenggaraan pelatihan dapat berakibat pada produktivitas peternakan didasari pada risiko penyakit menular dan cara menanganinya.
Perkembangan teknologi peternakan yang bisa mengurangi pekerjaan manual dan meminimalisir kesalahan membuat sektor ini harus semakin memperhatikan aset SDM yang dimiliki agar lebih siap dalam mengadopsi teknologi yang baru.
Pada masa ini, tantangannya bukan lagi sekadar jumlah tenaga kerja, tetapi juga harus memastikan bahwa tenaga kerja yang dimiliki dapat secara efisien hadir pada lokasi, waktu, dan aktivitas yang tepat.
| Poin | Ringkasan |
| Operasional | Operasional peternakan memiliki karakteristik yang berbeda dari kerja kantoran karena mengikuti kebutuhan biologis ternak. |
| Jumlah Tenaga Kerja Sektor Pertanian | Jumlah tenaga kerja yang berada di subsektor peternakan mencapai 5,39 juta orang atau sekitar 14,26% dari total tenaga kerja sektor pertanian. |
| Organization Management | Banyaknya jumlah tenaga kerja di sektor ini membuat pengelolaan SDM dan pengorganisasian menjadi hal yang penting agar operasional menjadi efektif. |
Tantangan Pengelolaan Workforce Dalam Industri Peternakan
Tenaga kerja yang tersebar di berbagai cabang peternakan dan unit operasional, kompleksitas shift, menjalankan aktivitas yang sensitif terhadap waktu, serta dapat terdiri atas karyawan tetap, kontrak, harian, musiman, dan tenaga outsourcing.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan tenaga kerja dalam industri peternakan harus dilakukan secara cermat agar operasional bisa berjalan lancar tanpa adanya kebocoran anggaran.
Berikut ini penjelasan mengenai tantangan-tantangan pengelolaan tenaga kerja tersebut:
Keterbatasan Visibilitas Dan Workforce Planning
Menurut temuan MDPI di tahun 2024, data seputar peternakan biasanya dihasilkan dari berbagai sumber. Mulai dari perangkat lunak manajemen, sensors, peralatan, hingga catatan tulis dan tidak struktur.
Peternakan dengan banyak cabang unit operasional yang tersebar di banyak lokasi menimbulkan risiko fragmentasi data.
Data seperti data kehadiran, shift, lembur, pelatihan hingga produktivitas. Fragmentasi data-data ini akan membuat HR di pusat sulit untuk mengetahui kondisi di lapangan.
Fragmentasi data juga akan membuat HR pusat sulit untuk memantau, mengelola dan melakukan intervensi jika terjadi masalah.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Journal of Dairy Science di tahun 2026, mengungkapkan temuan bahwa manajemen yang berdedikasi tinggi dalam melakukan supervisi dan pengendalian kondisi lapangan secara proaktif mampu memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesehatan serta umur produktif hewan ternak.
Menurut laporan OECD di tahun 2023, industri peternakan yang juga terdiri atas pekerja musiman membuat cakupan perusahaan atas tenaga kerjanya menjadi lebih besar lagi.
Dengan besarnya skala industri peternakan, banyaknya cabang yang tersebar, hingga jenis tenaga kerja yang beragam, perusahaan dan fungsi HR harus lebih cermat lagi dalam mengelola aset SDM yang dimiliki.
Memahami kondisi lapangan juga akan membantu perusahaan dalam menyusun strategi perencanaan tenaga kerja (Workforce Planning).
Ketersediaan Dan Kesiapan Tenaga Kerja
Pada laporan OECD yang sama, dengan semakin berkembangnya teknologi di bidang peternakan juga membuat tenaga kerja harus terus meningkatkan keahlian teknis mereka.
Kebutuhan adaptasi ini membuat perusahaan harus lebih teliti lagi dalam melakukan rekrutmen, menyusun rencana pelatihan yang relevan, dan melakukan analisis keahlian tenaga kerjanya agar teknologi bisa secara maksimal dimanfaatkan.
BCG mendukung pendapat ini: dengan semakin berkembangnya teknologi, fungsi HR menjadi lebih krusial dan dinamis.
Untuk membuat perusahaan lebih tahan terhadap perubahan zaman, HR harus menemukan tenaga kerja dengan kapabilitas, keahlian, dan talenta yang sesuai agar kekuatan dari teknologi bisa dimanfaatkan.
Pengendalian Biaya
Seperti yang dilaporkan oleh Labour Efficiency & Employee Management Report di tahun 2024, beragamnya jenis pekerjaan dalam industri pekerjaan di mulai dari calf manager, feeder, herd worker, milker, dan lebih banyak lagi. Tiap posisi pun memiliki rata-rata jam kerja dan juga tingkat upah yang berbeda.
Beragamnya jenis tenaga kerja dengan shift, lembur, dan jenis pekerjaan membuat beban biaya menjadi lebih sulit untuk dikelola.
Mulai dari perhitungan payroll yang dapat melibatkan data kehadiran, shift, lembur, lokasi, status kepegawaian, tunjangan, benefit, serta insentif berdasarkan aktivitas atau output.
Apabila setiap komponen berasal dari sumber data yang berbeda, tim HR dan payroll harus melakukan rekonsiliasi manual sebelum pembayaran diproses.
Pengambilan data dari berbagai sumber serta diperlukan proses koreksi akan membuang waktu serta biaya yang semakin besar.
Kompleksitas meningkat ketika perusahaan menggunakan model kompensasi berbasis tugas. Pekerja dapat menerima pembayaran berdasarkan jumlah pekerjaan, volume output, atau aktivitas yang telah diselesaikan.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan perlu menghubungkan identitas pekerja, penugasan, hasil pekerjaan, validasi supervisor, serta nilai kompensasi secara akurat.
Kepatuhan
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Preventive Veterinary Medicine di tahun 2025, meskipun kebijakan biosecurity ditetapkan oleh pemilik perusahaan, implementasinya sangat bergantung pada pekerja di lapangan.
Meskipun kebijakan mengenai biosecurity telah disampaikan oleh para supervisor, pekerja lapangan tetap menjalankan peraturannya secara tidak menyeluruh, berbeda, hingga salah.
Perbedaan cara menjalankan kebijakan ini bisa didasari pada perbedaan cara komunikasi, hubungan kerja, hingga kondisi sesungguhnya di lapangan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa compliance atau kepatuhan perlu dikelola bukan hanya sebagai sekadar kewajiban administratif, namun juga kapabilitas tenaga kerja.
Perusahaan perlu memastikan bahwa setiap pekerja telah menerima SOP, menyelesaikan pelatihan, memenuhi persyaratan kompetensi, dan memperoleh supervisi yang memadai.
Hambatan Teknologi
Bukan hanya dari persoalan administratif, industri peternakan juga harus menghadapi tantangan dari sisi teknologi.
Menurut temuan ERIA di tahun 2025, negara anggota ASEAN masih memiliki infrastruktur yang terbatas, rendahnya literasi digital, hingga masih tingginya biaya adopsi teknologi.
Industri peternakan dengan berbagai teknologi pendukung akan membutuhkan kesiapan penggunanya agar alat bantu tersebut dapat secara maksimal dimanfaatkan.
Kompleksitas permasalahan yang dihadapi bisa berdampak pada pengelolaan SDM, pengendalian biaya, hingga produktivitas yang sulit untuk memenuhi target.
| Poin | Ringkasan |
| Visibilitas Dan Workforce Planning | Fragmentasi data akan membuat HR sulit untuk mengetahui kondisi nyata lapangan dan menghambat intervensi workforce planning |
| Ketersediaan Dan Kesiapan Tenaga Kerja | Dengan semakin berkembangnya teknologi, perusahaan harus lebih memperhatikan talentanya dan mempersiapkan pelatihan agar adopsi teknologi dapat berjalan efisien |
| Pengendalian Biaya | Kompleksitas operasional, berbagai jenis tenaga kerja, shift, hingga lembur membuat perusahaan dan HR lebih cermat mengelola anggaran agar tidak terjadi kebocoran |
| Kepatuhan | Meskipun kebijakan ditetapkan oleh pemilik atau manajemen tertinggi, implementasinya didasari pada bagaimana pekerja lapangan memahami kebijakan. |
| Hambatan Teknologi | Keterbatasan infrastruktur dan pemahaman teknologi dapat menghambat produktivitas |
Ketika Masalah Workforce Mengancam Operasional
Industri peternakan menghadapi tantangan operasional yang unik, di mana kontinuitas kerja diselaraskan dengan ritme biologis hewan ternak.
Dinamisnya kebutuhan yang dihadapi ini menempatkan manajemen SDM sebagai variabel penentu keberhasilan operasional.
Pengelolaan seperti kebutuhan tenaga kerja, kompleksitas shift, absensi, lembur, hingga payroll menjadi bagian-bagian yang harus diperhatikan oleh perusahaan.
Laporan OECD di tahun 2023 menyebutkan bahwa sektor ini sedang terperangkap dalam krisis talenta yang dipicu oleh rendahnya persepsi publik, kompensasi yang tidak kompetitif, serta minimnya jenjang karir yang jelas.
Kondisi ini menciptakan risiko seperti ketergantungan pada lembur, tertundanya implementasi rencana strategis, hingga penurunan kualitas operasional akibat penempatan personel yang belum memiliki kompetensi memadai.
Dalam menangani masalah ini, di tahun 2024 BCG merekomendasikan adopsi Strategic Workforce Planning (SWP) sebagai langkah untuk keluar dari jebakan talenta tersebut.
SWP memungkinkan organisasi untuk melakukan pemetaan kesenjangan talenta secara proaktif, mengidentifikasi kebutuhan kompetensi di masa depan, serta mengeksekusi strategi rekrutmen dan pengembangan secara presisi.
Dengan mengadopsi SWP, perusahaan dapat mengoptimalkan penempatan talenta pada posisi strategis lebih awal, mengubah ketidakpastian tenaga kerja menjadi aset yang terukur, serta menjamin kapasitas operasional yang resilien terhadap dinamika pasar.
| Poin | Ringkasan |
| Dinamika Operasional | Dinamisnya kebutuhan yang dihadapi menempatkan manajemen SDM sebagai variabel penentu keberhasilan operasional. |
| Kurangnya Suplai dan Kompetensi Tenaga Kerja | Kurangnya tenaga kerja dan kompetensi berisiko pada lembur, terhambatnya langkah strategis, hingga penurunan kualitas operasional |
| Strategic Workforce Planning | SWP memungkinkan organisasi untuk identifikasi kebutuhan bisnis lebih proaktif |
Pendekatan Administratif Tidak Lagi Cukup
Berikut ini beberapa alasan mengapa pendekatan administratif tidak lagi cukup:
Fragmentasi Data Membatasi Visibilitas Workforce
Mengutip kembali temuan MDPI di tahun 2024, data seputar peternakan biasanya dihasilkan dari berbagai sumber. Mulai dari perangkat lunak manajemen, sensors, peralatan, hingga catatan tulis dan tidak struktur.
Peternakan dengan banyak cabang unit operasional yang tersebar di banyak lokasi menimbulkan risiko fragmentasi data.
Data seperti data kehadiran, shift, lembur, pelatihan hingga produktivitas. Fragmentasi data-data ini akan membuat HR di pusat sulit untuk mengetahui kondisi di lapangan.
Fragmentasi data juga akan membuat HR pusat sulit untuk memantau, mengelola dan melakukan intervensi jika terjadi masalah.
Penelitian dari MDPI di tahun 2025 memberikan bukti bahwa kemampuan untuk mengintegrasikan data dari berbagai cabang unit usaha merupakan pemicu untuk menghasilkan informasi bisnis yang krusial.
Standardisasi dan pengumpulan data menjadi prasyarat mutlak bagi kemajuan industri, meskipun tantangan seperti variasi skala usaha, gaya manajemen, dan tingkat literasi digital tetap menjadi hambatan signifikan.
Koreksi Data Memperlambat Intervensi Masalah
Pengelolaan data yang kompleks secara manual bukan sekadar masalah inefisiensi waktu, melainkan kerentanan strategis yang memperbesar peluang terjadinya human error
Seperti yang dinyatakan oleh Deloitte, menyusun data yang kompleks biasanya memakan waktu yang lama dan masih rentan terhadap kesalahan manusia jika masih dilakukan manual.
Penelitian yang dilakukan oleh National Library of Medicine di tahun 2025 mempertegas risiko ini dengan menyatakan bahwa fragmentasi data serta rendahnya tingkat interoperabilitas sistem dapat melumpuhkan kemampuan organisasi untuk menarik kesimpulan strategis dari sumber informasi yang tersebar.
Kondisi ini mencegah pengguna akhir seperti HR untuk melakukan analisis informasi yang komprehensif, sehingga potensi solusi yang krusial untuk pemecahan masalah dapat terabaikan.
Oleh karena itu, transisi menuju arsitektur data yang terintegrasi merupakan keharusan untuk membangun fleksibilitas analitik, meminimalisir risiko operasional, dan memastikan setiap kebijakan organisasi didasarkan pada data yang valid dan utuh.
Pelaporan Sekadar Historis
Dinamika bisnis di zaman ini membuat aset data tidak lagi sekadar laporan historis mengenai jumlah tenaga kerja, turnover, hingga kehadiran.
Data-data tersebut harus dikelola lebih jauh lagi agar bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan pendapatan bisnis.
Laporan Deloitte di tahun 2025 merekomendasikan bahwa bisnis harus bisa menyelaraskan data dengan kebutuhan yang dihadapi.
Perencanaan tenaga kerja yang strategis akan memastikan bahwa organisasi hanya diisi dengan individu-individu dengan kompetensi yang sesuai, pada posisi dan juga waktu yang tepat agar bisnis mencapai hasil yang memuaskan.
Keterbatasan Early Warning
Ketidaktersediaan sistem terpusat mengenai tenaga kerja dan kondisi lapangan dapat mengurangi transparansi manajemen dan HR dalam memahami keadaan yang sedang terjadi.
Pada laporan Deloitte lainnya di tahun 2025, pemanfaatan teknologi bisa digunakan untuk mendapatkan data mengenai kondisi kerja secara real-time.
Data mengenai kondisi pekerjaan yang bisa didapatkan lebih cepat berguna sebagai sumber peringatan awal jika terjadi keadaan atau aktivitas yang mulai menjauh dari harapan.
Dengan peringatan awal, bisnis bisa lebih cepat melakukan intervensi untuk mencegah masalah dan kerugian yang lebih besar lagi.
| Poin | Ringkasan |
| Fragmentasi Data Membatasi Visibilitas Workforce | Fragmentasi data-data ini akan membuat HR di pusat sulit untuk mengetahui kondisi di lapangan. |
| Koreksi Data Memperlambat Intervensi Masalah | Transisi menuju arsitektur data yang terintegrasi merupakan keharusan untuk membangun fleksibilitas analitik, meminimalisir risiko operasional, dan memastikan setiap kebijakan organisasi didasarkan pada data yang valid dan utuh. |
| Pelaporan Sekadar Historis | Aset data tenaga kerja harus dikelola lebih jauh lagi agar bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan pendapatan bisnis. |
| Keterbatasan Early Warning | Pemanfaatan teknologi seperti HRIS sebagai penyimpanan terpusat bisa digunakan untuk mendapatkan data mengenai kondisi kerja secara real-time dan sebagai early warning. |
Panduan HRIS Untuk Peternakan Sebagai Alat Bantu Mengelola SDM
HRIS dapat berperan sebagai Workforce Operating System, yaitu menghubungkan data tenaga kerja, aktivitas kerja, kompetensi, biaya, kepatuhan, dan performa.
Peran HRIS adalah menyediakan transparansi tenaga kerja yang konsisten agar HR, operasional, finance, dan manajemen dapat menggunakan dasar informasi yang sama.
Berikut ini beberapa penjelasan mengenai mengapa HRIS dapat menjadi alat bantu pengelolaan SDM industri peternakan:
Sumber Data Workforce Terpusat
Mengutip kembali temuan MDPI di tahun 2024, data seputar peternakan biasanya dihasilkan dari berbagai sumber.
Mulai dari perangkat lunak manajemen, sensors, peralatan, hingga catatan tulis dan tidak struktur akan mempersulit HR dalam mengelola data tenaga kerja.
Dalam pengelolaan tenaga kerja, fragmentasi dapat menyebabkan perbedaan informasi mengenai headcount, status kepegawaian, jabatan, lokasi penempatan, kompetensi, atau masa kontrak.
Karena itu, perusahaan membutuhkan satu referensi yang dapat digunakan bersama oleh HR, operasional, finance, dan manajemen.
Platform HRIS seperti LinovHR dapat mendukung kebutuhan tersebut melalui modul Organization Management untuk mengelola struktur departemen, peran, hingga alur pelaporan.
Satu sumber data workforce memudahkan manajemen dalam menjawab pertanyaan mengenai jumlah tenaga kerja, lokasi penempatan, ketersediaan kompetensi, dan kapasitas setiap cabang peternakan.
Alokasi Tenaga Kerja
Penelitian yang dilakukan oleh Journal of Dairy Science di tahun 2024 menemukan bukti bahwa pengorganisasian seperti praktik efisiensi tenaga kerja, teknologi, fasilitas, hingga pengelolaan SDM merupakan hal yang esensial dalam meningkatkan kondisi lingkungan kerja.
HRIS seperti LinovHR yang menyediakan Time Management dapat membantu perusahaan dalam menyusun pengorganisasian tersebut.
Alokasi kerja efektif yang didasari pada kebutuhan operasional, termasuk perubahan shift, hari kerja, hari libur, dan pola kerja fleksibel.
Dashboard kehadiran juga dapat digunakan untuk membaca tingkat absensi serta pola pekerja hingga analisa turnover.
Dengan demikian, HRIS tidak hanya menjawab siapa yang hadir namun juga dapat digunakan untuk melihat shift yang belum terpenuhi, pekerja yang melakukan lembur secara berulang, atau lokasi yang mulai mengalami kekurangan kapasitas tenaga kerja.
Menghubungkan Aktivitas Kerja Dengan Payroll
Pengelolaan Payroll peternakan dapat dipengaruhi oleh kombinasi data kehadiran, shift, lembur, lokasi kerja, status kepegawaian, tunjangan, potongan, insentif, dan pekerjaan berbasis tugas.
Kompleksitas ini membuat Payroll menjadi lebih sulit untuk dikelola oleh HR dan juga tim finance.
Mengutip data dari Businesswire yang mengatakan bahwa 1 dari setiap 5 siklus payroll mengandung kesalahan, hal ini menunjukan kerumitan dalam pengelolaan SDM dalam industri retail.
Menangani kompleksitas ini, LinovHR hadir dengan Time Management dapat digunakan untuk mencatat kehadiran, jadwal, lembur, dan cuti.
Data tersebut kemudian dapat dihubungkan dengan modul Payroll untuk mendukung perhitungan gaji, tunjangan, lembur, potongan, dan pajak.
Pemanfaatan HRIS bukan hanya sekadar pengelolaan payroll yang lebih cepat, tetapi visibilitas yang lebih baik terhadap biaya lembur, biaya tenaga kerja per lokasi, serta komponen biaya yang terus meningkat.
Memastikan Kesiapan Kompetensi dan Kepatuhan
laporan OECD di tahun 2023 yang menyatakan kekurangan tenaga kerja dan juga kompetensi di sektor peternakan membuat manajemen harus lebih memperhatikan kompetensi yang dimiliki oleh talenta yang dimiliki.
Menangani permasalahan ini, LinovHR hadir dengan modul Competency Management di mana perusahaan dapat mengidentifikasi skill yang diperlukan, melakukan penilaian, hingga analisis skill gap.
HRIS berfungsi alat bantu yang mengidentifikasi profil keterampilan tenaga kerja, mengoordinasikan asesmen yang relevan, serta mengotomatisasi pemetaan pelatihan yang terpersonalisasi.
Dengan pendekatan ini, perusahaan mampu memastikan bahwa setiap talenta tidak hanya memiliki kompetensi yang selaras dengan tuntutan operasional, tetapi juga memenuhi standar kepatuhan yang ketat, sekaligus memitigasi risiko operasional akibat keterbatasan keterampilan di lapangan.
Mendukung People Analytics
HRIS sebagai sumber daya informasi terpusat yang menyimpan data seputar tenaga kerja dapat membantu HR dalam melakukan analisis SDM yang lebih jauh dan lebih menyeluruh.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh MDPI pada tahun 2024, membuktikan bahwa catatan seperti absensi dapat dimanfaatkan untuk dikelola lebih jauh lagi seperti memprediksi pola ketidakhadiran hingga menjadi peringatan awal mengenai kondisi kesejahteraan karyawan.
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh SSRN Eletronic Journal pada 2023, menunjukan bahwa tingginya tingkat keterlambatan dan absensi karyawan bisa diakibatkan oleh sistem kerja.
Shift atau jadwal kerja yang tidak konsisten secara signifikan meningkatkan keterlambatan dan absen karyawan.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sagejournal pada tahun 2025, menemukan korelasi kuat antara overtime work dengan tingkat turnover.
Temuan-temuan ini membuktikan bahwa data absen, keterlambatan, dan overtime perlu dikelola lebih jauh karena dapat berhubungan langsung pada tingkat turnover di perusahaan.
Pemanfaatan HRIS akan membantu perusahaan dan HR dalam membaca pola ini. Mulai dari mengidentifikasi cabang dengan beban kerja berlebih, jadwal shift yang tidak stabil, atau risiko burnout sebelum berkembang menjadi penurunan performance dan turnover.
| Poin | Ringkasan |
| Sumber Data Workforce Terpusat | Satu sumber data workforce memudahkan manajemen dalam mengefisienkan kebutuhan kerja. |
| Alokasi Tenaga Kerja | HRIS dapat membantu perusahaan dalam menyusun pengorganisasian pekerjaan. |
| Menghubungkan Aktivitas Kerja Dengan Payroll | Pemanfaatan HRIS bukan hanya sekadar membantu pengelolaan payroll namun juga memberikan transparansi lebih pada pengeluaran. |
| Memastikan Kesiapan Kompetensi dan Kepatuhan | HRIS dapat membantu perusahaan dalam mengidentifikasi skill karyawan dan mempersonalikan pelatihan yang dibutuhkan. |
| Mendukung People Analytics | Pemanfaatan HRIS akan membantu perusahaan dan HR dalam membaca pola performa hingga intervensi sebelum turnover terjadi. |
Prinsip Desain HRIS Untuk Peternakan Mengelola SDM
Berikut ini beberapa prinsip desain HRIS yang cocok dalam mendukung bisnis industri peternakan:
Mobile-First
HRIS perlu menjadikan perangkat mobile sebagai kanal utama bagi pekerja dan supervisor lapangan, bukan sekadar versi tambahan dari aplikasi desktop.
Menurut survei yang dilakukan oleh ERIA di tahun 2024, beberapa negara ASEAN mengutamakan aplikasi-aplikasi yang bisa diakses melalui telepon genggam.
Aplikasi yang dapat diakses melalui telepon genggam akan menyediakan peternak dengan aksesibilitas pada pasar dengan lebih mudah lagi
Sebagian pekerja peternakan tidak memiliki akses rutin ke komputer. Aktivitas seperti melihat jadwal, melakukan absensi, mengajukan izin, mengakses slip gaji, menerima pengumuman, atau menyelesaikan pelatihan perlu dapat dilakukan melalui perangkat yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari.
Simple by Design
Mengutip kembali laporan ERIA di tahun 2025, negara-negara anggota ASEAN masih memiliki literasi digital yang rendah.
Kesenjangan ini menuntut paradigma desain HRIS yang mengedepankan prinsip Simple by Design di mana kemudahan penggunaan dan kejelasan tampilan menjadi prioritas utama untuk menjangkau pengguna dari beragam latar belakang teknis.
Sistem yang kompleks tidak akan mencapai adopsi maksimal jika tidak dibarengi dengan pengalaman pengguna yang intuitif.
Oleh karena itu, antarmuka sistem harus dirancang untuk meminimalkan kurva pembelajaran, sehingga tenaga kerja dapat mengoperasikan fitur-fiturnya tanpa hambatan kognitif yang berarti.
Dengan menyederhanakan alur kerja digital menjadi format yang mudah dipahami, perusahaan tidak hanya memastikan keterlibatan staf secara inklusif, tetapi juga mempercepat transformasi digital secara organik di seluruh lini organisasi tanpa harus bergantung pada tingkat literasi digital individu yang tingg
Offline-Ready
Masih berdasarkan laporan ERIA yang sama, negara-negara ASEAN yang masih memiliki keterbatasan teknologi seperti internet membuat HRIS harus menangani hal tersebut.
Karena itu, HRIS untuk industri peternakan perlu menerapkan prinsip offline-ready, terutama pada proses yang berhubungan langsung dengan kontinuitas operasional, seperti pencatatan kehadiran.
Gangguan jaringan tidak seharusnya membuat pekerja gagal melakukan absensi, memaksa supervisor kembali menggunakan pencatatan kertas, atau menyebabkan data jam kerja tidak tercatat.
Ketika proses manual digunakan sebagai alternatif, risiko perbedaan waktu, kehilangan data, dan koreksi tambahan pada payroll juga dapat meningkat.
LinovHR mendukung kebutuhan tersebut melalui fitur Offline Attendance di mana karyawan tetap dapat melakukan clock-in dan clock-out melalui aplikasi mobile ketika perangkat tidak terhubung ke internet.
Sistem menyimpan waktu kehadiran sesuai waktu aktual absensi, kemudian mensinkronisasikan data secara otomatis setelah jaringan kembali tersedia.
Fitur ini relevan bagi perusahaan peternakan dengan pekerja yang tersebar di farm, area kandang, atau lokasi lapangan yang berada di luar jangkauan jaringan seluler yang stabil.
Dengan kapabilitas tersebut, keterbatasan konektivitas tidak harus menghentikan proses pencatatan workforce.
Integration-Ready
HRIS tidak seharusnya beroperasi sebagai aplikasi yang berdiri sendiri. Dalam perusahaan peternakan, data tenaga kerja berkaitan erat dengan proses kehadiran, payroll, finance, pengembangan kompetensi, kinerja, hingga aktivitas operasional pada setiap farm.
Apabila setiap sistem bekerja secara terpisah, perusahaan tetap harus memindahkan, mencocokkan, dan memvalidasi data secara manual.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan kembali fragmentasi meskipun berbagai proses telah menggunakan aplikasi digital.
Karena itu, HRIS perlu memiliki desain integration-ready, yaitu kemampuan untuk bertukar data dengan sistem lain secara aman, konsisten, dan terukur. Integrasi tersebut dapat mencakup sistem finance atau ERP, payroll, absensi, Performance Management, Learning Management System, perangkat kehadiran, hingga business intelligence.
Dengan integrasi yang tepat, satu aktivitas tenaga kerja dapat mengalir ke proses berikutnya tanpa membutuhkan input ulang.
LinovHR mendukung pendekatan tersebut melalui platform terintegrasi yang mencakup payroll, attendance, performance management, analytics, dan learning.
Dengan modul yang berada dalam satu ekosistem, perusahaan dapat mengurangi pemisahan data antar fungsi HR dan membangun proses pengelolaan tenaga kerja yang lebih konsisten.
| Poin | Ringkasan |
| Mobile-first | HRIS harus mendukung akses melalui telepon genggam. |
| Simple By Design | HRIS harus memiliki tampilan yang memudahkan pengguna dalam memahami operasionalnya. |
| Offline-ready | Keterbatasan infrastruktur membuat HRIS harus bisa dijalankan meski tanpa jaringan internet. |
| Integration-Ready | HRIS harus bisa diintegrasikan dengan sistem perusahaan yang sudah ada |
Roadmap Implementasi HRIS Peternakan
Berikut ini beberapa rekomendasi tahapan dalam implementasi HRIS untuk industri peternakan:
Tahap 1: Workforce Assessment
Transformasi yang efektif dimulai dari pemahaman mendalam atas realitas organisasi saat ini.
Menurut laporan Deloitte di tahun 2025, sebelum melakukan langkah transformasi apa pun, bisnis wajib melakukan audit terhadap kondisi saat ini, kapabilitas yang dimiliki, serta identifikasi kesenjangan yang menghambat organisasi dalam mencapai target masa depan.
Tanpa memahami bagian-bagian fundamental ini, setiap inisiatif transformasi berisiko kehilangan arah dan tidak relevan dengan kebutuhan strategis yang sebelumnya ingin dicapai.
Dengan memetakan kapabilitas organisasi secara akurat dan menyelaraskannya dengan target yang diinginkan, perusahaan dapat menyusun peta jalan transformasi yang terukur, memitigasi risiko kegagalan, dan memastikan bahwa setiap sumber daya yang diinvestasikan berkontribusi langsung pada pencapaian ambisi strategis organisasi.
Tahap 2: Standardisasi
Setelah bagian-bagian organisasi diidentifikasi mengenai kapabilitas serta kebutuhan-kebutuhan yang dihadapi, selanjutnya perusahaan harus melakukan standarisasi terhadap data dan juga operasional.
Laporan Deloitte di tahun 2025 menegaskan bahwa sebelum mengeksekusi transformasi, organisasi wajib menetapkan prinsip-prinsip fundamental yang selaras dengan ambisi dan visi strategis masa depan.
Prinsip-prinsip ini berfungsi sebagai acuan operasional yang menjamin standarisasi lintas fungsi yang mencakup struktur organisasi, jabatan, kategorisasi tenaga kerja, hingga sinkronisasi sumber data.
Dengan membangun fondasi yang konsisten sejak awal, organisasi menciptakan ekosistem yang fleksibel, di mana kapabilitas dan talenta dapat dialihkan antar fungsi secara mulus sesuai kebutuhan strategis.
Pendekatan ini tidak hanya mengeliminasi fragmentasi operasional, tetapi juga menyediakan kerangka kerja yang solid untuk pengambilan keputusan berbasis data, memastikan bahwa setiap unit kerja bergerak dalam keselarasan penuh menuju target organisasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Tahap 3: Penentuan Use Case
Berikutnya, perusahaan perlu menentukan permasalahan yang akan diselesaikan terlebih dahulu melalui platform HRIS.
Implementasi tidak harus dimulai dengan seluruh modul secara bersamaan. Prioritas sebaiknya ditentukan berdasarkan nilai bisnis, urgensi operasional, risiko, kesiapan data, dan kompleksitas implementasi.
Mendukung langkah tersebut, laporan BCG di tahun 2022 menegaskan bahwa transformasi digital yang sukses menuntut prioritas strategis pada use case yang paling kritis dengan memanfaatkan teknologi analitik mutakhir serta kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan terkemuka tidak hanya mengumpulkan data namun mengubah data insight menjadi tindakan bisnis nyata secara konsisten.
Tahap 4: Pilot Implementation
Pilot dilakukan untuk menguji apakah desain sistem, proses, aturan, serta model adopsi dapat berjalan dalam kondisi operasional nyata.
Pilot tidak seharusnya hanya menguji apakah fitur aplikasi berfungsi, tetapi juga apakah solusi sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Implementasi pilot project yang sukses bukan sekadar pengujian teknis, melainkan validasi operasional yang akurat.
Keterlibatan aktif pengguna akhir dalam tahap ini sangat krusial untuk mengevaluasi kesesuaian antara fungsionalitas sistem dengan realitas kebutuhan di lapangan.
Untuk menjamin keberhasilan adopsi, tim implementasi wajib melibatkan profil pengguna yang representatif, yang benar-benar mencerminkan kompleksitas operasional sehari-hari.
Hal ini sejalan dengan temuan Agricultural Systems di tahun 2022 yang menekankan pentingnya pendekatan yang menempatkan pengguna sebagai pusat pengembangan (user-centric design).
Dengan melibatkan pengguna secara kolaboratif selama proses pengembangan, perusahaan tidak hanya meminimalisir resistensi, tetapi juga menciptakan solusi digital yang intuitif, relevan, dan secara organisasional siap untuk diimplementasikan pada cakupan unit yang lebih luas.
Karena itu, pilot harus dirancang dengan mempertimbangkan standardisasi, integrasi, governance, dan kebutuhan scale-up sejak awal.
Tahap 5: Integration
Setelah pilot menghasilkan proses dan konfigurasi yang tervalidasi, perusahaan dapat memperluas implementasi ke farm, region, unit bisnis, dan jenis workforce lainnya. Tahap ini juga mencakup integrasi HRIS dengan ekosistem teknologi perusahaan.
Scale-up bukan hanya menambah jumlah pengguna. Perusahaan perlu memastikan kesiapan data, proses, support, keamanan, dan governance pada setiap lokasi.
Menurut laporan BCG di tahun 2022, pilot sering menghasilkan hasil awal yang baik, tetapi banyak organisasi gagal menanamkan solusi tersebut secara luas.
Organisasi yang berhasil melakukan scale-up biasanya memiliki ekosistem data yang lebih matang, tim lintas fungsi, pengukuran nilai yang jelas, serta perhatian manajemen terhadap keamanan dan teknologi.
Salah satu risiko utama dalam fase ini adalah kustomisasi berlebih yang justru mengorbankan pemeliharaan sistem. Kustomisasi perlu dikendalikan dan distandarisasi agar sistem tetap dapat dipelihara dan dikembangkan.
Oleh karena itu, laporan Deloitte di tahun 2025 menekankan bahwa solusi perlu dirancang secara end-to-end, dengan mempertimbangkan proses, governance, struktur organisasi, data, insight, dan arsitektur teknologi.
Tanpa pemahaman konteks proses secara menyeluruh, solusi digital berisiko tidak mendukung kebutuhan bisnis dan mengalami adopsi pengguna yang rendah.
Tahap 6: Optimisasi People Analytics
Setelah data dan proses stabil, perusahaan dapat mengembangkan HRIS dari sistem penyimpanan terpusat menjadi sumber workforce intelligence.
Tahap ini tidak sekadar membangun lebih banyak dashboard, tetapi menggunakan data untuk mendapatkan solusi atas hambatan operasional dan menemukan solusi strategis yang efisien.
Seperti yang dinyatakan BCG, dengan ketersediaan data dan fasilitas dapat mendukung people analytics untuk kemudian ditindaklanjuti menjadi strategi bisnis strategis.
Didukung dengan laporan Deloitte di tahun 2025, masa depan workforce planning bersifat dinamis di mana perusahaan pemenang adalah mereka yang memiliki fleksibilitas dan fluiditas dalam mengalokasikan modal manusia dan talenta secara presisi ke tempat yang paling membutuhkan.
Dengan mengadopsi pendekatan ini, perusahaan memastikan bahwa setiap keputusan manajemen didukung oleh data relevan yang menjadikan manajemen SDM sebagai penggerak utama dalam mencapai hasil bisnis yang optimal dan adaptif terhadap perubahan pasar.
Matriks Keberhasilan
Berikut ini beberapa rekomendasi matriks untuk mengukur keberhasilan implementasi HRIS untuk peternakan:
Employee Data Completeness
Matriks ini bertujuan untuk mengukur kelengkapan data karyawan.
Dengan rumus:
(Jumlah profil karyawan lengkap ÷ Total karyawan) × 100%
Attendance Capture Rate
Matriks ini bertujuan untuk mengukur keberhasilan sistem dalam mencatat absensi.
Dengan rumus:
(Absensi tercatat ÷ Jadwal kerja) × 100%
Workforce Coverage
Matriks ini bertujuan untuk keakuratan sistem dalam menghitung jumlah tenaga kerja.
Dengan rumus:
(Tenaga kerja yang tercatat di HRIS ÷ Total tenaga kerja) × 100%
Data Synchronization Success
Matriks ini bertujuan untuk mengukur seberapa efektif sistem dalam melakukan sinkronisasi data-data yang diperlukan.
Dengan rumus:
(Sinkronisasi berhasil ÷ Total Usaha) × 100%
Payroll error rate
Matriks yang bertujuan untuk mengukur efisiensi sistem melalui jumlah kesalahan dalam proses penggajian.
Dengan rumus
(Jumlah payroll error ÷ Total payroll) x 100%
Adoption Rate
Bertujuan untuk mengukur seberapa banyak karyawan benar-benar menggunakan sistem baru. Dengan perhitungan.
Dengan rumus:
(Jumlah pengguna ÷ Total target pengguna) x 100%
Executive Insight: HRIS sebagai Workforce Control Tower Industri Peternakan
Operasional yang berlangsung secara berkelanjutan, lokasi kerja yang tersebar, kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil, serta tingginya tuntutan keselamatan dan kepatuhan membutuhkan visibilitas workforce yang lebih menyeluruh.
HRIS hadir sebagai alat bantu perusahaan dalam memahami kondisi lapangan operasional. Dari mulai dari pemusatan data, alokasi tenaga kerja, hingga membantu dalam pengelolaan payroll.
Kapabilitas yang dimiliki oleh HRIS tersebut menjadi semakin penting karena kondisi workforce memiliki korelasi langsung dengan produktivitas operasional.
Kekurangan tenaga kerja pada shift tertentu, tingginya lembur, kesenjangan kompetensi, rendahnya kepatuhan terhadap pelatihan, maupun peningkatan turnover dapat berkembang menjadi risiko produktivitas apabila tidak teridentifikasi sejak awal.
Mengutip kembali penelitian yang dilakukan oleh National Library of Medicine di tahun 2025, bahwa fragmentasi data serta rendahnya tingkat interoperabilitas sistem dapat melumpuhkan kemampuan organisasi untuk menarik kesimpulan strategis dari sumber informasi yang tersebar.
Dengan data yang terintegrasi, manajemen dapat bergerak dari sekadar pelaporan historis pada pengelolaan workforce yang lebih proaktif.
Nilai strategis HRIS tidak hanya berasal dari jumlah proses HR yang berhasil didigitalisasi, namun muncul ketika data workforce mampu membantu perusahaan dan HR dalam menjaga kesiapan tenaga kerja, mengendalikan risiko, meningkatkan produktivitas, dan mendukung pertumbuhan bisnis.
Penelitian yang dilakukan oleh Journal of Dairy Science di tahun 2026 mendukung hal tersebut, bahwa manajemen yang berdedikasi tinggi dalam melakukan supervisi dan pengendalian kondisi lapangan secara proaktif mampu memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesehatan serta umur produktif hewan ternak.
Dengan peran tersebut, HRIS tidak lagi hanya menjadi sistem administrasi HR, tetapi menjadi bagian dari infrastruktur pengendalian operasional industri peternakan.
Optimalkan Pengelolaan SDM Dengan HRIS Untuk Peternakan Dari LinovHR!

Industri peternakan dengan tantangan operasional seperti fragmentasi data, berbagai jenis tenaga kerja, kompleksitas shift, hingga payroll membuat perusahaan dan HR harus mengeluarkan waktu ekstra untuk meminimalisir kesalahan.
LinovHR datang sebagai mitra untuk membantu perusahaan dan HR dalam mengelola SDM yang dimiliki melalui HRIS dengan berbagai modul untuk menghadapi berbagai tantangan bisnis yang dihadapi.
Berikut ini beberapa fitur unggulan dari LinovHR:
Payroll

Modul Payroll akan membantu perusahaan dalam menghitung dan membayar gaji karyawan secara otomatis.
Modul ini juga memudahkan perusahaan dalam menghitung pajak yang disesuaikan dengan aturan terbaru.
Workforce Planning

Dalam modul workforce planning, perusahaan akan difasilitasi fitur untuk mengelompokan unit menyesuaikan jabatan dan tanggung jawab.
Fitur ini membantu agar tenaga kerja tidak menghadapi beban kerja yang terlalu berat hingga menimbulkan kelelahan dan mempertimbangkan untuk mundur dari perusahaan.
Learning Management System

Modul Learning Management System (LMS) membantu perusahaan mengadakan pelatihan, membuat materi pelatihan sesuai kebutuhan, memudahkan karyawan mengakses materi, hingga memantau perkembangan pelatihan karyawan.
Employee Self Service (ESS)

HRIS untuk peternakan dari LinovHR akan membantu perusahaan dan karyawan dalam merekam kehadiran secara aktual. Bahkan membantu dalam proses pengajuan perizinan absen dengan mudah.
Modul ESS juga akan membantu memberitahu karyawan mengenai masa kontrak yang sedang berjalan, reward dan punishment yang didapatkan.
Fitur ESS juga akan memberikan karyawan transparansi career path dalam perusahaan, mulai dari informasi jalur karir, prospek kenaikan posisi, hingga persentase kecocokan dengan peran di perusahaan.
Organization Management

HRIS peternakan dari LinovHR memungkinkan perusahaan secara efektif mengelola organisasi dalam operasional bisnis. Menyediakan fitur penyusunan struktur organisasi, manpower planning, mendefinisikan tugas kerja utama, hingga cost center yang memungkinkan transparansi finansial.
Ajukan Demo dan mulai perjalanan transformasi digital bisnis peternakan untuk hadapi berbagai tantangan dengan solusi teknologi HR terdepan LinovHR!
Apa itu HRIS untuk peternakan?
HRIS adalah platform yang berfungsi untuk mengintegrasikan data seputar Workforce yang dapat membantu HR dan manajemen untuk pengambilan keputusan.
Mengapa industri peternakan membutuhkan HRIS?
HRIS membantu mengatasi keterbatasan visibilitas workforce, pengendalian biaya, kepatuhan biosecurity, dan kesiapan kompetensi tenaga kerja.
Apa saja modul HRIS yang paling dibutuhkan bisnis peternakan?
Modul Payroll, Workforce Planning, Time Management, LMS, Employee Self Service, Competency Management, dan Organization Management.
Apa itu Strategic Workforce Planning?
Cara untuk memetakan kesenjangan talenta serta mengeksekusi strategi rekrutmen secara presisi.
Apakah HRIS bisa digunakan tanpa koneksi internet?
Ya, HRIS seperti LinovHR menyediakan fitur LinovHR offline-ready yang memungkinkan pekerja tetap melakukan absen meski tidak terhubung internet. Data akan tersinkronisasi begitu jaringan kembali tersedia, sehingga pencatatan tetap akurat.




