feedback culture

Feedback Culture: Apa Itu dan Bagaimana Membangunnya?

 

Dalam era bisnis yang terus berkembang, keberhasilan suatu perusahaan tidak hanya tergantung pada keahlian teknis dan strategi bisnis yang diterapkan.

Namun, Anda perlu membangun feedback culture atau budaya umpan balik yang efektif untuk meningkatkan seluruh aspek perusahaan.

Lalu, bagaimana cara membangunnya dengan tepat? Mari simak artikel LinovHR berikut ini!

 

Apa Itu Feedback Culture?

Feedback culture adalah lingkungan di mana individu merasa bebas, aman, dan terdorong untuk berbagi dan menerima umpan balik.

Budaya ini dapat diterapkan dimana saja, termasuk tempat kerja atau situasi apapun yang dihadapi oleh seseorang.

Di tempat kerja sendiri, budaya umpan balik merupakan sesuatu yang umum. Baik atasan, tim, maupun individu masing-masing mendapatkan umpan balik.

Pemberian umpan balik sendiri tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Pasalnya, perlu ada beberapa pertimbangan dalam melakukannya.

Dengan kata lain, perlu waktu dan usaha untuk membangun feedback culture yang efektif di lingkungan kerja.

Anda perlu memikirkan strategi yang tepat supaya budaya umpan balik yang dibangun dapat memberikan saran atau kritik yang membangun bagi keseluruhan tim, individu, maupun atasan di perusahaan.

 

Manfaat Feedback Culture

Manfaat Feedback Culture
Manfaat Feedback Culture

 

Memahami dan menerapkan budaya umpan balik dapat membawa sejumlah manfaat bagi perusahaan yang berhasil menerapkannya. Berikut adalah manfaat dari feedback culture:

 

1. Memberdayakan Karyawan dan Tingkatkan Keterlibatan

Budaya umpan balik dapat memberdayakan karyawan.

Hal ini terjadi karena budaya tersebut menciptakan lingkungan di mana karyawan didorong untuk memberikan dan menerima feedback secara berkala.

Karyawan yang merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui umpan balik cenderung lebih terlibat dengan pekerjaan mereka. 

Data dari survei Officevibe menunjukkan bahwa 43 persen karyawan yang sangat terlibat di tempat kerja menerima umpan balik setidaknya seminggu sekali dibanding dengan 18 persen karyawan dengan keterlibatan rendah. 

Dengan memberikan umpan balik yang teratur, perusahaan membantu mengembangkan voice of employee, meningkatkan partisipasi, dan merasa lebih dihargai serta diberdayakan.

 

2. Membangun Kepercayaan

Budaya umpan balik membantu membangun kepercayaan di antara karyawan, terlepas dari posisi atau tingkat senioritas. 

Adanya komunikasi terbuka yang muncul dari budaya ini menciptakan hubungan yang lebih dalam antara rekan kerja dan antara karyawan dengan atasan.

Penelitian dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat kepercayaan tinggi menghasilkan karyawan yang lebih produktif dan lebih sedikit mengalami kelelahan dan stres. 

Dalam budaya umpan balik, kejujuran dan penghargaan terhadap pandangan setiap individu membangun fondasi kepercayaan yang kuat dapat meningkatkan kolaborasi dan kesejahteraan di tempat kerja.

 

3. Menghasilkan Data yang Lebih Baik

Feedback culture yang kuat memberikan manfaat besar dalam menghasilkan data yang berharga bagi perusahaan.

Melalui pertukaran umpan balik yang berlangsung secara berkala, perusahaan dapat mengumpulkan informasi yang akan membantu mengoptimalkan proses, serta mendapatkan wawasan menyeluruh tentang perusahaan, dan meningkatkan keseluruhan aspek perusahaan. 

Dibandingkan dengan sesi umpan balik yang terjadi hanya pada saat performance review, budaya umpan balik memastikan aliran informasi yang lebih konsisten.

Budaya ini memberikan pemimpin dan manajer landasan data yang kuat untuk membuat keputusan yang lebih baik nantinya.

 

4. Memotivasi Karyawan

Budaya umpan balik, baik dalam bentuk pujian atau umpan balik konstruktif, memiliki dampak besar pada motivasi karyawan. 

Studi dari Officevibe menunjukkan bahwa 78 persen karyawan mengatakan bahwa diakui memotivasi mereka dalam pekerjaan. Kemudian, umpan balik yang positif maupun negatif, dapat memberikan arahan yang membantu pengembangan profesional. 

Karyawan yang menerima umpan balik tidak hanya merasa diakui, tetapi juga mendapatkan panduan untuk meningkatkan kinerja mereka. 

Dengan demikian, feedback culture menciptakan lingkungan di mana penghargaan dan arahan memotivasi karyawan untuk berkinerja lebih baik dan berkembang secara profesional.

 

Baca Juga: Jenis-Jenis Feedback yang Umum Digunakan Perusahaan

 

Tips Membangun Feedback Culture

Penting bagi setiap perusahaan untuk menentukan cara terbaik dalam bekerja untuk menciptakan dan menumbuhkan budaya umpan balik yang terbuka dan jujur.

Berikut ini beberapa tips membangun budaya umpan balik:

 

1. Menghargai Pendapat Karyawan

Untuk membangun budaya umpan balik yang sehat, penting untuk menghargai pendapat karyawan. 

Hal ini dilakukan dengan memberikan tempat yang aman dan penuh hormat bagi semua anggota tim dan manajer untuk berbagi pemikiran, opini, dan ide mereka.

Budaya umpan balik yang dihargai ini dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan inklusif dalam perusahaan.

 

2. Menanggapi Umpan Balik

Umpan balik bukanlah sekadar percakapan. Hal ini memerlukan tindakan lebih lanjut. 

Dalam budaya umpan balik yang autentik, respons terhadap umpan balik harus terjadi secara tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan. 

Sebagai contoh, jika seorang karyawan menyampaikan kebutuhan tambahan waktu untuk proyek, manajer harus merespon dengan tindakan nyata.

Misalnya, seperti mengatur jadwal proyek yang sesuai. Proses tanggapan yang efektif adalah kunci dalam menjaga keterlibatan dan kualitas hubungan di tempat kerja.

 

3. Membangun Budaya Kepercayaan dan Keamanan Psikologis

Salah satu bagian terpenting dari budaya umpan balik adalah memastikan bahwa semua karyawan merasa aman untuk menyampaikan umpan balik yang jujur.

Jika ada sedikit saja keraguan atau kekhawatiran, budaya umpan balik dalam sebuah organisasi tidak akan berhasil.

Semua anggota tim harus merasa nyaman memberikan umpan balik tanpa takut dipermalukan atau diabaikan. 

Mengutip Professor Safety Psychological dari Harvard, Amy Edmonson, perusahaan harus menciptakan suasana di mana orang merasa yakin bisa bersuara tanpa risiko malu atau hukuman. 

Dalam hal ini, forum umpan balik yang bersifat anonim dapat membantu membangun rasa aman ini.

 

4. Buat Pelatihan Umpan Balik Formal

Keterampilan memberikan dan menerima umpan balik tidak muncul secara alami.

Oleh karena itu, diperlukan pelatihan umpan balik formal. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Hal ini dapat mencakup workshop, sesi kelompok, dan bimbingan individu yang memastikan bahwa semua karyawan memahami cara berpartisipasi secara efektif dalam budaya umpan balik. 

Pelatihan juga harus menjawab pertanyaan kunci. Misalnya, seperti mengapa umpan balik penting, jenis-jenis umpan balik, dan cara memberikan serta menerima umpan balik secara produktif.

 

5. Tetapkan Proses dan Harapan

Penting untuk menetapkan proses yang jelas dan harapan inti seputar umpan balik. 

Semua anggota tim perlu memahami tempat, waktu, dan cara yang benar untuk memberikan umpan balik. 

Dengan menetapkan ekspektasi, perusahaan memastikan konsistensi dalam memberikan dan menerima umpan balik, menciptakan landasan kuat untuk budaya umpan balik yang sukses.

 

6. Gunakan Beberapa Saluran Umpan Balik

Budaya umpan balik yang holistik memerlukan penggunaan beberapa saluran umpan balik. 

Halni termasuk saluran informal seperti pertemuan kelompok, satu lawan satu, dan alat lunak khusus umpan balik. 

Menggunakan berbagai saluran memastikan bahwa semua karyawan memiliki akses yang tepat dan sesuai dengan preferensi mereka, menciptakan keberagaman dan inklusivitas dalam proses umpan balik.

 

7. Prioritaskan Rasa Hormat

Rasa hormat harus menjadi prioritas utama selama pertukaran umpan balik.

Dalam pelatihan umpan balik, semua peserta harus memahami cara efektif dan hormat dalam memberikan dan menerima umpan balik. 

Hal ini termasuk menghindari sikap defensif, fokus pada fakta daripada emosi, dan menghargai batasan individu dalam menerima umpan balik. 

Rasa hormat yang terjaga membangun hubungan yang kuat dan produktif di antara semua anggota tim.

 

Baca Juga: Employee Feedback: Pengertian, Cara Melakukan dan Contohnya

 

Bangun Feedback Culture dengan Performance Appraisal LinovHR

performance review

 

Penting bagi perusahaan untuk membangun feedback culture yang efektif di lingkungan kerja. Hal ini karena budaya tersebut akan mempengaruhi tingkat keterlibatan serta kinerja karyawan secara keseluruhan.

Dalam hal ini, Anda dapat membangun feedback culture yang lebih efektif dengan menggunakan Performance Appraisal LinovHR.

 

Performance Appraisal LinovHR menyediakan penilaian kerja yang komprehensif untuk mengevaluasi kinerja karyawan.

Apalagi di dalam aplikasi penilaian kinerja ini juga dilengkapi dengan fitur Performance Review yang sudah mendukung pemberian feedback 360 derajat.

Dengan kemampuan ini, semua karyawan bisa memberikan feedback baik kepada atasan, sesama rekan kerja, atau juga kepada pihak eksternal.

 

Salah satu keunggulan dari fitur ini adalah Anda tidak perlu benar-benar menyusun pertanyaan feedback dari awal, Anda bisa menggunakan template pertanyaan feedback yang tersedia serta memberikan bobot nilai pada masing-masing pertanyaan.

Dengan Performance Appraisal LinovHR, Anda mendapatkan sarana untuk membangun budaya umpan balik yang positif dan berkelanjutan dalam perusahaan.

 

Mari bangun feedback culture yang lebih efektif dengan LinovHR. Ajukan demonya sekarang dan rasakan manfaatnya dalam melakukan umpan balik!