perhitungan cuti tahunan yang diuangkan

Aturan & Perhitungan Cuti Tahunan yang Diuangkan

Sebagai seorang karyawan, pastinya Anda sudah tidak asing lagi mendengar istilah “cuti”. Cuti merupakan hak setiap karyawan yang wajib dipenuhi oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Dengan catatan karyawan tersebut telah bekerja lebih dari 6 atau 12 bulan secara berturut-turut dalam sebuah perusahaan. 

Cuti biasanya sering digunakan untuk berlibur bersama keluarga, teman, maupun orang terkasih, untuk peristiwa penting seperti pernikahan karyawan dan melahirkan anak, atau hanya sekedar untuk beristirahat di rumah saja. Tetapi ada sebagian karyawan yang enggan mengambil cuti tahunan mereka.

Tahukah Anda bahwa sisa cuti tahunan yang tidak digunakan dapat diuangkan?

Bagi karyawan yang masih mempunyai sisa cuti tahunan, Anda tidak perlu merasa dirugikan karena sisa cuti tahunan yang belum Anda gunakan dapat diuangkan.

Menguangkan cuti tahunan berarti karyawan menerima pembayaran, bukannya meluangkan waktu untuk bekerja Lalu, Bagaimana dengan Aturan dan Perhitungan Cuti Tahunan yang Diuangkan Tersebut? 

Sebelum membahas tentang aturan dan perhitungan cuti tahunan yang dapat diuangkan, alangkah baiknya Anda mengetahui hak cuti karyawan apa saja yang diberikan oleh perusahaan.

 

Hak Cuti Karyawan

Hak cuti karyawan dalam suatu perusahaan telah diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 bab Ketenagakerjaan. Menurut undang-undang tersebut, ada tujuh hak cuti yang wajib diberikan oleh perusahaan, yaitu :

1.Hak Cuti Tahunan

  • Hak Cuti Sakit
  • Hak Cuti Besar
  • Hak Cuti Bersama
  • Hak Cuti Hamil
  • Hak Cuti Karena Alasan Penting

Hak cuti karena alasan penting merupakan cuti yang diperbolehkan apabila terdapat keperluan-keperluan penting. Kebijakan mengenai cuti ini telah diatur pada pasal 93 ayat (4) dalam UU nomor 13 tahun 2003. Adapun keperluan-keperluan penting tersebut, meliputi :

  1. Pernikahan karyawan, diberikan cuti selama 3 hari.
  2. Menikahkan anak karyawan, diberikan cuti selama 2 hari.
  3. Mengkhitankan anak karyawan, diberikan cuti selama 2 hari.
  4. Membaptiskan anak karyawan, diberikan cuti selama 2 hari.
  5. Istri melahirkan atau mengalami keguguran, diberikan cuti selama 2 hari.
  6. Suami atau istri, orang tua atau mertua, anak atau menantu meninggal dunia, diberikan cuti selama 2 hari.
  7. Anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, diberikan cuti selama 1 hari.

 

Baca Juga: Jenis-jenis Cuti Karyawan

 

Upah pada Saat Masa Cuti

Dalam Pasal 93 UU Nomor 13 tahun 2003, dijelaskan bahwa upah atau gaji tidak akan diberikan jika karyawan tidak melakukan pekerjaan. Tetapi, ada pengecualian untuk cuti sakit dan cuti karena alasan penting, kedua cuti ini mengharuskan perusahaan tetap memberikan upah/ gaji.

Untuk cuti sakit, dalam 4 bulan pertama akan dibayar 100% upah penuh. Apabila masih sakit dalam 4 bulan kedua, akan dibayarkan sebesar 75% upah penuh. Dan jika masih sakit dan belum bisa kembali bekerja setelah 8 bulan, maka karyawan tersebut berhak memperoleh upah sebesar 50% dari upah penuhnya. Untuk bulan selanjutnya akan dibayar 25% dari upah penuh sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh perusahaan.

 

Aturan Mengenai Cuti Tahunan yang Dapat Diuangkan 

Menurut Pasal 79 Undang-undang Nomor 13 tahun 2013, setiap karyawan berhak mendapatkan cuti tahunan sekurang-kurangnya 12 hari kerja. Hak tersebut dapat diambil secara terus menerus selama 12 hari kerja atau dapat dibagi ke dalam beberapa hari. 

Namun, apabila ada karyawan yang mengundurkan diri, maka sisa cuti tahunan yang belum digunakan dapat diuangkan. Hal ini diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 156 ayat (4) yaitu cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur, maka dapat diganti ke dalam bentuk uang.

 

Perhitungan Cuti Tahunan yang Diuangkan

Perhitungan hak cuti karyawan adalah jumlah bulan hari kerja sampai waktu pengunduran diri dibagi dengan jumlah bulan dalam setahun (12), lalu dikalikan dengan hak cuti selama setahun.

Jika ditulis dalam rumus adalah sebagai berikut:

Dalam menghitung jumlah uangsisa cuti yang akan diterima, ada 3 hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Upah kotor yang diterima karyawan
  • Hak cuti yang diterima selama 1 tahun
  • Tanggal efektif pengunduran diri karyawan

Untuk perhitungan cuti tahunan yang diuangkan adalah hak cuti karyawan dibagi jumlah hari kerja di bulan April, kemudian dikalikan dengan upah kotor yang diterima karyawan.

Berikut adalah contoh perhitungannya :

Saudara Habibie telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari PT Abadi Sentosa pada bulan April 2019 dengan gaji beserta tunjangan sebesar Rp 5.000.000, 00. Saudara Habibie belum mengambil cuti tahunan. Maka, jumlah uang cuti yang akan diterima Saudara Habibie adalah sebesar :

Total upah per bulan = Rp5.000.000, 00

Hak cuti setahun = 12 hari kerja

Tanggal efektif pengunduran diri = 31 April 2019

Hak cuti karyawan = 4 (Jan – April)/12 bulan x 12 hari jatah cuti = 4 hari kerja

Karena Saudara Habibie belum mengambil cuti tahunan, maka hak cutinya adalah 4 hari kerja. 

Dari perhitungan di atas, sudah didapatkan Hak Cuti Karyawan yang telah disesuaikan dengan tanggal pengunduran diri. Selanjutnya, Anda tinggal menghitung sisa cuti yang diuangkan.

Untuk perhitungan sisa cuti tahunan yang diuangkan adalah (4 / 23) x Rp5.000.000 = Rp 869.565.

Untuk memudahkan perhitungan cuti tahunan karyawan yang diuangkan, Anda tidak perlu repot lagi meng-input pengajuan cuti secara manual. Kini saatnya Anda beralih pada penggunaan sistem HR yang lebih canggih yaitu LinovHR.

Coba Gratis LinovHR sekarang juga dengan mengisi form ini.