performance appraisal

4 Masalah Umum Yang Sering Ditemui Pada Performance Appraisal

Masalah Yang Sering Terjadi Pada Form Performance Appraisal

Performance appraisal atau penilai kerja pada karyawan yang biasa dilakukan oleh perusahaan pada karyawan secara berkala harus bisa didesain sebaik mungkin. Karena bagaimanapun juga tujuan pelaksanaan penilaian guna mendapatkan eveluasi kinerja setiap individu pekerja dalam perusahaan secara akurat. Hasil evaluasi juga diharapkan bisa menjadi langkah perusahaan untuk mendapatkan strategi paling tepat untuk mencapai tujuan yang telah dibuat. Namun sayangnya, proses penilaian tidak selalu berjalan mulus, ada saja masalah yang muncul. Berikut ini adalah 4 masalah umum yang sering ditemui pada performance appraisal.

1.Hanya melihat pada perilaku sekilas

Merupakan kesalahan yang cenderung dibuat oleh penilai. Dimana, penilai akan sangat bergantung dengan kesan yang didapatkan dari perilaku untuk menetapkan berapa rating secara keseluruhan dalam segi karakter atau perilakunya. Hal ini bisa menyebabkan suatu penilaian menjadi tidak akurat karena hanya berdasarkan pada emosi, seharusnya penilai bisa memberikan rating berdasarkan fakta yang sebenarnya.

Misalnya saja, bila ada karyawan dalam perusahaan sering kali datang terlambat, manajer malah memberikan penilaian bahwa ia tidak disiplin. Manajer tidak melihat bagaimana hasil pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tersebut. Karena bisa saja waktu keterlambatan tidak berpengaruh pada hasil kerjanya.

 

   Baca Juga :Ini dia tujuan kenapa harus ada form appraisal

 

2.Menilai dengan konsisten

Kesalahan umum selanjutnya yang bisa dilakukan oleh penilai adalah kecenderungan menilai dengan konsisten. Maksudnya, penilai akan memberikan sama rata bisa terlalu tinggi ataupun terlalu rendah tanpa melihat bagaimana karyawannya. Masalah ini akan menyebabkan kegagalan dalam proses penilaian dan akan sangat fatal bahkan tidak akan menghasilkan hal positif untuk karyawan atau perusahaan.

3.Terlalu subjektif

Kesalahan selanjutnya yang mungkin akan dilakukan oleh penilai pada karyawannya adalah terlalu subjektif. Seharusnya, penilai harus melakukan penilaian secara objektif agar bisa berlaku adil pada semua karyawan dalam perusahaan. Jangan sampai, bila penilai tidak suka terhadap satu karyawan akhirnya malah memberikan nilai yang sangat rendah. Akibatnya penilaian yang dihasilkan benar-benar tidak akurat. Ini malah bisa menghancurkan perjalanan karir dari karyawan.

4.Stereotip

Stereotip merupakan salah satu pemikiran yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Dengan pemikiran ini, seseorang akan menilai orang lain berdasarkan SARA atau hal tertentu. Sehingga, bila penilai melakukan hal ini pada karyawan saat melakukan penilaian kerja malah akan memberikan hasil yang tidak sesuai dengan fakta. Misalnya saja, ketika dalam perusahaan ada karyawan berasal dari suku X kemudian menganggap bahwa karyawan tersebut memang memiliki sifat malas karena berasal dari suku X. Penilaian ini dilakukan pada seluruh karyawan dari suku X.

Jangan pernah melakukan hal tersebut pada karyawan karena malah akan menimbulkan konflik bahkan memberikan dampak buruk bagi perusahaan. Karena bagaimana mungkin perusahaan memberikan penilaian rendah padahal bila melihat hasil kerja karyawan tersebut telah memberikan hasil yang terbaik. Bila karyawan merasa dirugikan dengan penilaian yang salah bisa saja ia malah memutuskan untuk mundur dan memilih perusahaan lain. Dengan begitu, perusahaan malah akan berakhir dengan kehilangan pekerja terbaik.

Itulah 4 masalah umum yang sering ditemui pada performance appraisal khususnya yang sering dilakukan seorang penilai pada karyawannya. Ingatlah, bahwa proses penilaian harus dilakukan secara objektif. Bagaimanapun juga, secara tidak langsung penilaian akan berpengaruh pada kemajuan perusahaan. Yuk, lakukan performance appraisal pada karyawan dengan benar agar bisa mempertahankan Sumber Daya Manusia (SDM)  dalam perusahaan.