Quiet Covering: Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya di Tempat Kerja

Reviewer

Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini :

Isi Artikel

Fenomena quiet covering semakin sering muncul di dunia kerja, terutama di kalangan Gen Z.

Istilah ini menggambarkan perilaku karyawan yang menyembunyikan bagian dari diri, mulai dari kepribadian, identitas, hingga preferensi kerja, demi menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan.

Meski tampak sederhana, quiet covering dapat berdampak pada kesehatan mental, produktivitas, dan keterlibatan karyawan.

Bagi HR dan perusahaan, memahami fenomena ini penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan inklusif. Tanpa perhatian khusus, perusahaan berisiko kehilangan talenta karena karyawan merasa tidak bebas menjadi diri sendiri.

Untuk itu, mari mengenal apa itu quiet covering, penyebabnya, dampaknya, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.

Key Takeaways

  • Quiet covering adalah perilaku karyawan yang menyembunyikan diri agar cocok dengan budaya kerja.
  • Kondisi ini muncul karena kurangnya inklusivitas dan tekanan untuk menyesuaikan diri.
  • Quiet covering berdampak buruk pada stres, motivasi, kolaborasi, dan retensi karyawan.
Mengajukan Demo

Apa itu Quiet Covering?

Quiet covering adalah perilaku ketika karyawan secara sadar menyembunyikan atau mengurangi bagian tertentu dari dirinya agar diterima di lingkungan kerja.

Bagian yang “ditutupi” ini bisa berupa kepribadian, emosi, minat, gaya komunikasi, keyakinan, bahkan kondisi pribadi yang dianggap sensitif atau berpotensi mengundang penilaian negatif.

Berbeda dengan quiet quitting yang berkaitan dengan penurunan motivasi kerja, quiet covering lebih berfokus pada penyesuaian diri secara berlebihan demi menghindari stigma, konflik, atau ketidaknyamanan sosial.

Karyawan yang melakukan quiet covering biasanya merasa lingkungan kerja tidak cukup aman (secara psikologis) untuk tampil apa adanya.

Contoh quiet covering di tempat kerja antara lain:

  • Menyembunyikan pendapat agar tidak dianggap berbeda.
  • Mengurangi ekspresi diri supaya terlihat “sesuai” standar tim.
  • Tidak menunjukkan kondisi stres atau kesulitan karena takut dinilai kurang profesional.
  • Mengubah perilaku agar lebih mirip dengan mayoritas lingkungan kerja.

Jika dibiarkan, quiet covering dapat menyebabkan tekanan mental, kelelahan emosional, dan menurunnya engagement.

Oleh karena itu, memahami fenomena ini menjadi langkah awal bagi HR dan perusahaan untuk membangun budaya yang lebih inklusif dan suportif.

Baca juga: Quiet Quitting pada Karyawan: Ciri, Pemicu, dan Dampaknya

Mengapa Quiet Covering Terjadi?

Fenomena quiet covering muncul ketika karyawan merasa perlu menyesuaikan diri secara berlebihan demi diterima, diakui, atau dianggap “sesuai” dengan norma yang berlaku di lingkungan kerja. Ada beberapa faktor yang biasanya memicu perilaku ini, yaitu:

1. Lingkungan Kerja yang Kurang Inklusif

Ketika budaya kerja tidak membuka ruang bagi keberagaman, karyawan cenderung menahan bagian dari diri mereka agar sesuai dengan standar yang dianggap dominan. Hal ini sering terjadi di perusahaan yang belum memiliki kebijakan atau budaya kerja berbasis inklusi.

2. Kurangnya Psychological Safety

Karyawan merasa tidak aman untuk berpendapat, berekspresi, atau menunjukkan kerentanan. Mereka khawatir komentar atau perilaku tertentu akan berujung pada evaluasi negatif dari atasan atau rekan kerja.

3. Takut Dinilai Negatif atau Tidak Profesional

Banyak karyawan menyembunyikan stres, kesulitan, atau bagian pribadi lainnya karena takut dianggap tidak kompeten, tidak dewasa, atau tidak “fit” dengan lingkungan kerja.

4. Tekanan untuk Menyesuaikan Diri

Dalam beberapa lingkungan kerja, terdapat norma tidak tertulis tentang bagaimana seseorang harus berperilaku. Karyawan, terutama yang baru bergabung atau yang minoritas, merasa perlu menyesuaikan diri agar tidak menonjol atau dianggap berbeda.

5. Tren di Kalangan Gen Z

Generasi Z dikenal lebih peduli pada penerimaan sosial dan kesehatan mental, namun juga lebih sensitif terhadap penilaian lingkungan sekitar.

Ketika mereka merasa tempat kerja tidak menerima keaslian diri, quiet covering menjadi bentuk mekanisme bertahan.

Quiet Covering pada Gen Z di Tempat Kerja

Ada beberapa alasan yang membuat Gen Z lebih rentan melakukan quiet covering, yaitu:

1. Tekanan untuk “Terlihat Profesional”

Banyak Gen Z yang baru memasuki dunia kerja merasa perlu membuktikan kompetensi mereka. Akibatnya, mereka menutupi sifat, pendapat, atau kondisi pribadi yang dianggap “tidak sesuai” dengan standar profesionalisme perusahaan.

2. Perbedaan Nilai dengan Generasi Senior

Gen Z tumbuh dengan nilai-nilai keterbukaan, keberagaman, dan kesehatan mental. Namun, ketika masuk ke lingkungan kerja yang masih konservatif atau hierarkis, mereka cenderung meredam ekspresi diri agar tidak berbenturan dengan generasi sebelumnya.

3. Kebutuhan akan Penerimaan Sosial

Gen Z sangat menghargai sense of belonging. Ketika mereka merasa berbeda dari tim atau takut dinilai, mereka sering memilih untuk menutupi bagian dari diri mereka agar lebih mudah menyesuaikan diri.

4. Penggunaan Media Sosial yang Tinggi

Ekspos terhadap budaya pekerjaan ideal dan standar kesuksesan di media sosial membuat sebagian Gen Z merasa harus tampil sempurna. Hal ini mendorong mereka untuk menyembunyikan kelemahan atau sisi personal tertentu saat bekerja.

Dampak Quiet Covering bagi Karyawan dan Perusahaan

Quiet covering bukan sekadar perilaku menahan diri, tetapi dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi individu maupun perusahaan. Berikut ini beberapa dampak buruknya:

Dampak bagi Karyawan

1. Meningkatkan Stres dan Burnout

Menekan ekspresi diri dalam jangka panjang membuat karyawan merasa lelah secara emosional. Mereka harus terus berpikir dan bertindak sesuai ekspektasi lingkungan, bukan sebagai diri mereka sendiri.

2. Menurunnya Produktivitas

Saat karyawan tidak merasa bebas untuk menunjukkan ide, preferensi kerja, atau kondisi mereka, kemampuan bekerja secara optimal ikut terhambat. Konsentrasi berkurang, kreativitas menurun, dan hasil kerja tidak maksimal.

3. Hilangnya Rasa Kepemilikan dan Motivasi

Quiet covering dapat membuat karyawan merasa tidak dihargai atau tidak benar-benar menjadi bagian dari tim. Ini menyebabkan motivasi turun dan menurunnya keterlibatan kerja (employee engagement).

Dampak bagi Perusahaan

1. Penurunan Kualitas Kolaborasi Tim

Ketika banyak karyawan menahan pendapat dan ide, diskusi menjadi kurang kaya, inovasi terhambat, dan keputusan bisnis berpotensi tidak optimal.

2. Tingginya Risiko Turnover

Lingkungan yang tidak inklusif dapat membuat karyawan merasa tidak nyaman, terutama generasi muda. Hal ini meningkatkan risiko resign secara sukarela atau disengagement dalam jangka panjang.

3. Melemahnya Budaya Kerja

Quiet covering menandakan adanya kurangnya psychological safety di perusahaan. Ini dapat merusak budaya kerja dan menurunkan reputasi perusahaan dalam jangka panjang.

4. Menurunnya Employee Experience

Perusahaan dengan banyak kasus quiet covering cenderung memiliki pengalaman kerja yang buruk, yang berdampak pada tingkat kepuasan, keterlibatan, hingga produktivitas karyawan secara keseluruhan.

Baca juga: 6 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan Menurun

Bagaimana Cara Mencegah Quiet Covering di Lingkungan Kerja?

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan perusahaan untuk mencegah Quiet Covering di lingkungan kerja:

1. Bangun Budaya Kerja yang Inklusif

Pastikan setiap karyawan, dari berbagai latar belakang dan gaya komunikasi, merasa diterima. Budaya inklusif membantu karyawan merasa aman untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi.

2. Ciptakan Psychological Safety dalam Tim

Dukung ruang diskusi terbuka di mana karyawan dapat menyampaikan ide, kekhawatiran, atau sudut pandang tanpa risiko dipermalukan atau dinilai negatif. Ini membuat mereka lebih nyaman menjadi diri sendiri.

3. Latih Manajer untuk Meningkatkan Empati dan Kepemimpinan Positif

Pemimpin yang sensitif dan suportif sangat berpengaruh terhadap keberanian karyawan untuk tampil apa adanya. Sediakan pelatihan terkait komunikasi empatik, diversity & inclusion, serta coaching.

4. Perkuat Kebijakan Anti Diskriminasi

Kebijakan formal yang menolak segala bentuk diskriminasi, baik soal gender, usia, latar belakang, hingga orientasi kerja, akan memberi sinyal kuat bahwa perusahaan menghargai keberagaman.

5. Tingkatkan Komunikasi Internal yang Sehat

Bangun saluran komunikasi jelas dan aman, seperti kotak saran digital, one-on-one sessions, atau forum diskusi internal agar karyawan dapat menyampaikan pandangan mereka dengan bebas.

6. Gunakan Feedback dan Survei Engagement Secara Rutin

Lakukan survei keterlibatan secara berkala untuk mendeteksi area yang membuat karyawan merasa tidak aman atau tidak didengar. Tindak lanjuti temuan tersebut dengan rencana aksi nyata.

7. Terapkan Kebijakan Kerja yang Fleksibel dan Manusiawi

Fleksibilitas jam kerja, dukungan mental health, dan work life balance membantu karyawan merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar pekerja, yang pada akhirnya mengurangi kebutuhan untuk “menyembunyikan diri”.

Peran HR dalam Mengurangi Quiet Covering

HR memegang peran penting dalam mencegah dan mengurangi fenomena quiet covering di tempat kerja. Berikut beberapa peran strategis HR yang dapat dilakukan:

1. Membentuk Kebijakan yang Mendukung Inklusivitas

HR dapat merancang kebijakan kerja yang menekankan anti diskriminasi, keberagaman, dan kesetaraan. Kebijakan ini perlu disosialisasikan secara jelas agar setiap karyawan memahami bahwa perusahaan menghargai keaslian diri mereka.

2. Menciptakan Psychological Safety dalam Tim

HR dapat melatih para manajer dan supervisor untuk membangun lingkungan kerja yang aman secara psikologis. Ketika pemimpin memberikan contoh komunikasi terbuka dan tidak menghakimi, karyawan lebih berani mengekspresikan diri.

3. Menyediakan Pelatihan Soft Skills untuk Pemimpin

Pelatihan mengenai empati, komunikasi efektif, coaching, dan leadership yang humanis dapat membantu manajer memahami kebutuhan emosional karyawan dan mengurangi tekanan yang biasanya memicu quiet covering.

4. Mengelola Survei Engagement dan Feedback

HR dapat mengadakan survei engagement, pulse check, atau sesi feedback berkala untuk mengetahui apakah karyawan merasa diterima dan dihargai. Data ini menjadi acuan penting untuk melakukan perbaikan budaya kerja.

5. Mengembangkan Program Employee Wellbeing

Quiet covering sering terkait dengan stres dan kecemasan. Oleh karena itu, HR perlu menciptakan program kesejahteraan karyawan, seperti konseling, mental health day, atau fleksibilitas kerja untuk mendukung kesehatan mental mereka.

6. Mendorong Transparansi dalam Proses HR

Proses seperti penilaian kinerja, promosi, dan evaluasi harus dilakukan secara terbuka dan objektif. Transparansi membuat karyawan merasa aman dan mengurangi kebutuhan untuk menutupi identitas atau kemampuan diri.

Bangun Lingkungan Kerja yang Lebih Inklusif dengan Software HRIS LinovHR

Untuk menciptakan lingkungan kerja yang terbuka dan bebas dari quiet covering, perusahaan membutuhkan sistem yang mampu mendorong transparansi, komunikasi yang sehat, dan evaluasi yang objektif.

Software HRIS LinovHR menghadirkan solusi terintegrasi yang membantu HR membangun budaya kerja yang lebih inklusif dan mendukung kenyamanan karyawan.

Melalui fitur survei engagement, HR dapat memahami kondisi emosional dan tingkat kenyamanan karyawan secara berkala, sehingga potensi quiet covering dapat terdeteksi lebih cepat.

Software HRIS - LinovHR
Dashboard Software HRIS – LinovHR

Sistem penilaian kinerja berbasis data juga memastikan proses evaluasi lebih adil dan transparan, mengurangi tekanan bagi karyawan untuk menyesuaikan diri secara berlebihan. 

Selain itu, Employee Self-Service memberikan karyawan kontrol penuh atas kebutuhan administratif seperti cuti, izin, dan payroll, yang membuat mereka merasa lebih dihargai dan dipercaya.

HRIS ini juga memperkuat komunikasi internal melalui portal karyawan dan notifikasi terpusat, memastikan informasi tersampaikan dengan jelas tanpa miskomunikasi.

Ditambah dengan fitur analitik yang memberikan insight real time mengenai kehadiran, performa, dan engagement, HR dapat mengambil langkah cepat dan tepat ketika muncul tanda-tanda ketidaknyamanan atau penurunan motivasi.

Dengan kemampuan yang lengkap dan user friendly, LinovHR membantu perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif, suportif, dan sehat secara psikologis. 

Ingin membangun budaya kerja yang lebih baik? Ajukan demo gratis sekarang juga!

Tentang Penulis

Picture of Muhammad Fariz At Thariqi
Muhammad Fariz At Thariqi

Fariz At Thariqi adalah seorang HR content specialist yang telah berkecimpung lebih dari 3 tahun dalam dunia HR dan konten. Lewat tulisannya di LinovHR, ia berupaya mengangkat tantangan-tantangan praktis yang sering dihadapi oleh tim HR di lapangan.

Tentang Reviewer

aulyta-yasinta
Aulyta Yasinta

Aulyta Yasinta adalah seorang profesional HR dengan pengalaman dalam pengelolaan SDM dan pengembangan talenta. Di LinovHR, ia membahas strategi manajemen sumber daya manusia, tren HR terkini, serta praktik terbaik dalam membangun budaya kerja yang produktif dan berkelanjutan.

Bagikan Artikel Ini :

Related Articles

Tentang Penulis

Picture of Muhammad Fariz At Thariqi
Muhammad Fariz At Thariqi

Fariz At Thariqi adalah seorang HR content specialist yang telah berkecimpung lebih dari 3 tahun dalam dunia HR dan konten. Lewat tulisannya di LinovHR, ia berupaya mengangkat tantangan-tantangan praktis yang sering dihadapi oleh tim HR di lapangan.

Tentang Reviewer

aulyta-yasinta
Aulyta Yasinta

Aulyta Yasinta adalah seorang profesional HR dengan pengalaman dalam pengelolaan SDM dan pengembangan talenta. Di LinovHR, ia membahas strategi manajemen sumber daya manusia, tren HR terkini, serta praktik terbaik dalam membangun budaya kerja yang produktif dan berkelanjutan.

Artikel Terbaru